AIR bukan sekadar penawar dahaga. Ia mengalir membawa doa, harapan, sekaligus cerita lama yang diwariskan turun-temurun. Di Kutai dan Thailand, air berubah menjadi bahasa budaya yang sarat makna, membersihkan tubuh sekaligus menyucikan jiwa.
Songkran: Pesta Air Tahun Baru Thailand
Festival siram air di Thailand dikenal dengan nama Songkran. Tradisi ini menandai Tahun Baru Thailand setiap April. Warga turun ke jalan, saling melempar air dengan ember atau pistol air. Lebih dari sekadar permainan, perang air ini menjadi simbol pembersihan dan penyucian dari kemalangan tahun lalu, sekaligus doa untuk membawa keberuntungan dan harapan baru.

Selain itu, Songkran bukan sekadar pesta. Kata Songkran berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “melangkah masuk”. Filosofinya adalah memasuki fase baru yang lebih bersih, lahir dan batin. Tak hanya itu, momen ini juga mempererat keluarga, memberi penghormatan kepada orang tua, serta memanjatkan doa bagi leluhur.
Erau: Tradisi Kesultanan Kutai
Di Kalimantan Timur, Festival Erau membawa semangat kebersamaan. Puncaknya hadir lewat Belimbur, prosesi siram air bersama yang melambangkan pembersihan diri. Masyarakat memercikkan air dengan keyakinan bisa menjauhkan diri dari penyakit dan mara bahaya.
Belimbur tidak hanya menutup rangkaian ritual, tetapi juga menjadi puncak sukacita. Setiap sudut jalan di Tenggarong berubah basah oleh siraman air dari berbagai lapisan masyarakat. Tawa dan keceriaan pecah tanpa sekat, melarutkan batas antara rakyat dan bangsawan.

Masyarakat memaknai Belimbur sebagai sarana membersihkan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan. Mereka melihat air sebagai sumber kehidupan yang mampu melunturkan hal-hal negatif. Karena itu, tradisi ini berdiri sebagai wujud rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian Erau.
Catatan Indonesia Kaya menjelaskan bahwa prosesi Belimbur dimulai setelah upacara rangga titi. Sultan Kutai lebih dulu memercikkan air tuli, yaitu air yang diambil dari Kutai Lama kepada para hadirin. Setelah itu, masyarakat saling menyiram air satu sama lain. Tradisi ini terbuka untuk semua orang, kecuali lansia dan orang tua yang membawa balita demi menjaga keselamatan.
Seiring zaman, warga mengubah cara mereka meramaikan Belimbur. Jika dulu cukup dengan gayung atau ember, kini mereka memakai plastik berisi air, bahkan pompa pemadam kebakaran. Bagi remaja, Belimbur menjelma menjadi ajang “perang air” yang hanya terjadi sekali dalam setahun.
Meski semakin meriah, masyarakat tetap menjaga nilai sakralnya. Belimbur terus berdiri sebagai simbol syukur, doa keselamatan, dan kebersamaan yang diwariskan dari masa kesultanan hingga kini.
Songkran vs Belimbur: Dua Air, Dua Makna
Perbandingan dengan Songkran menarik untuk dilihat. Di Thailand, air menjadi lambang penyucian diri sekaligus penanda awal tahun baru. Warga saling menyiram sebagai cara melepas kemalangan lama dan membuka lembaran baru. Nuansanya meriah, terbuka untuk semua orang, dan identik dengan pesta rakyat penuh keriuhan.
Belimbur di Kutai pun membawa makna serupa: air sebagai media penyucian diri. Bedanya, tradisi ini lahir dari akar kesultanan dan dibalut nilai religius. Prosesi dimulai dengan percikan air tuli oleh Sultan, sebelum kemudian berubah menjadi kegembiraan massal. Kesakralan tetap melekat, meski masyarakat menikmatinya dalam suasana sukacita.
Keduanya menegaskan peran air sebagai simbol pembersihan dan pembaruan. Songkran menekankan harapan tahun baru, sedangkan Belimbur meneguhkan rasa syukur dan perlindungan dari mara bahaya. Dua tradisi berbeda wajah, namun berakar pada keyakinan yang sama: manusia selalu butuh ruang untuk membersihkan diri dan merayakan hidup bersama.
Akhirnya, perayaan air di dua negeri ini menyampaikan pesan universal: air adalah simbol kehidupan. Di Thailand, air membawa harapan baru. Di Kutai, air membawa doa keselamatan. Dua budaya berbeda, satu makna yang menyatukan manusia.
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin