Mahakama.co.id – Perairan Masalembu dikenal sebagai “Segitiga Bermudanya Indonesia” karena fenomena atmosfernya yang ekstrem. Menurut Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Adi Purwandani, dua kawasan perairan serupa adalah Segitiga Bermuda di Atlantik dan Segitiga Formosa di Pasifik.
Kedua kawasan ini memiliki proses interaksi laut-atmosfer yang identik, terkait pemanasan lapisan atas samudera di wilayah ekuator. Pengaruh angin pasat menyebabkan pembentukan “kolam air panas” yang intensif.
Dampak pada Cuaca
Fenomena ini mempengaruhi distribusi tekanan udara di atmosfer, menyebabkan pembentukan awan hujan yang intensif. Hal ini berpotensi membentuk angin siklon ekstrem seperti Typhoon atau Hurricane.
Risiko Transportasi

Fenomena ini membahayakan transportasi udara dan laut. Contohnya, kapal kargo KM Bahtera Mega yang tenggelam di Perairan Timur Masalembu, Jawa Timur, pada 10 Desember 2024.
Upaya Penelitian
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami fenomena ini dan mengurangi risiko bagi transportasi dan kehidupan manusia. (net/ra)