Mahakama.co.id – Make Sunsets, sebuah startup yang didanai oleh tokoh-tokoh besar seperti Bill Gates dan Sam Altman, memiliki ambisi besar untuk mengatasi pemanasan global dengan cara yang kontroversial: menghalau sinar matahari. Dengan meluncurkan balon-balon di langit Baja, Meksiko, perusahaan ini melepaskan gas aerosol ke lapisan stratosfer, yang dirancang untuk memantulkan kembali sinar matahari ke luar angkasa, mendinginkan Bumi. Meski ide ini terdengar brilian, banyak pihak yang mempertanyakan dampaknya.
Namun, para ahli, pemerintah, hingga lembaga asuransi global memberikan peringatan keras. Mereka mengkhawatirkan konsekuensi jangka panjang dari eksperimen tersebut, seperti gagal panen, kekeringan, dan bencana alam lainnya. Kementerian Lingkungan Hidup Meksiko bahkan mengecam eksperimen ini karena tidak mendapatkan izin resmi dari pemerintah maupun masyarakat setempat. Adrian Hindes, seorang kandidat PhD dari Universitas Nasional Australia, menyatakan bahwa eksperimen ini masih jauh dari skala yang diperlukan untuk menurunkan suhu global secara signifikan.
Geoengineering dan Dampaknya terhadap Lingkungan
Selain itu, para ilmuwan menekankan bahwa meskipun teknik ini bisa mendinginkan Bumi sementara waktu, ia tidak akan mengurangi kadar gas CO2 yang terus meningkat akibat aktivitas manusia. Luke Iseman, pendiri Make Sunsets, tetap berpendapat bahwa kritik terhadap perusahaan mereka justru meningkatkan popularitasnya, meski banyak yang menganggap pendekatan tersebut terlalu berisiko.
Proyek Serupa yang Dihentikan

Geoengineering bukanlah hal baru. Pada 2021, proyek yang juga didukung Bill Gates menguji teknik serupa dengan mengirim balon besar berisi debu kapur ke stratosfer. Namun, proyek tersebut juga mendapat kritik keras dari kalangan ilmuwan, dengan beberapa ahli seperti Stuart Haszeldine dari Universitas Edinburgh menyebut bahwa meskipun teknik ini dapat mendinginkan planet, ia hanya menunda penyelesaian masalah utama: pemanasan global yang disebabkan oleh gas rumah kaca. Proyek ini akhirnya dihentikan oleh Harvard setelah mendapat banyak kritik. (net/ra)