Mahakama.co.id – Para ilmuwan semakin mengkhawatirkan masa depan umat manusia seiring dengan temuan baru yang menunjukkan potensi terjadinya kepunahan massal akibat perubahan iklim yang ekstrem. Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr. Alexander Farnsworth, seorang peneliti senior di University of Bristol, memprediksi bahwa suhu ekstrem yang meningkat pesat dapat menjadi pemicu utama peristiwa kepunahan, bahkan mengakhiri dominasi manusia dan mamalia di Bumi.
Superkontinen dan Perubahan Iklim Drastis
Fenomena ini terkait dengan terbentuknya sebuah superkontinen baru yang disebut Pangea Ultima. Para ilmuwan memprediksi bahwa pembentukan superkontinen ini akan mengubah iklim Bumi secara radikal, menciptakan kondisi yang jauh lebih panas dan kering. Dengan faktor-faktor ini, suhu global dapat mencapai 40 hingga 50 derajat Celsius, sebuah kondisi yang diperkirakan akan melampaui kemampuan manusia dan mamalia untuk bertahan hidup.
Kembali ke Sejarah: Kepunahan Massal dan El Niño

Peristiwa seperti ini bukanlah hal baru dalam sejarah Bumi. Sekitar 252 juta tahun yang lalu, pada peristiwa Permian-Trias, suhu Bumi meningkat drastis dan memicu kepunahan massal terbesar dalam sejarah planet ini. Selama peristiwa tersebut, 90% spesies, termasuk serangga, musnah akibat perubahan iklim ekstrem yang serupa.
Peneliti menghubungkan kepunahan tersebut dengan emisi gas rumah kaca yang dilepaskan oleh aktivitas vulkanik besar di Siberia, serta fenomena cuaca El Niño yang ekstrem. El Niño yang lebih kuat pada waktu itu menyebabkan suhu rata-rata Bumi meningkat hingga 4 derajat Celsius, dengan suhu siang hari di daratan mencapai 60 derajat Celsius.
Farnsworth dan timnya memperingatkan bahwa dengan perubahan iklim yang terus berkembang, fenomena El Niño yang lebih bervariasi dan intens dapat memperburuk kekacauan iklim yang ada. Mereka memperkirakan bahwa jika kondisi ini tidak terkendali, Bumi akan menghadapi potensi yang lebih buruk dari pemanasan yang terjadi dalam beberapa abad terakhir.
Masa Depan yang Gelap?
Meski kejadian serupa Permian-Trias tidak diperkirakan akan terjadi dalam waktu dekat, hasil penelitian ini memberikan gambaran yang mengkhawatirkan tentang apa yang mungkin terjadi jika perubahan iklim tidak segera diatasi. Farnsworth mengingatkan bahwa meskipun tidak ada yang meramalkan kepunahan massal dalam skala besar seperti 252 juta tahun lalu, peristiwa tersebut memberikan peringatan serius tentang dampak perubahan iklim yang tak terkendali. (net/ra)