Mahakama.co.id – Kunjungan Raja Spanyol Felipe VI dan Ratu Letizia ke Paiporta, Valencia, pada Minggu (3/11), berlangsung tegang. Warga yang marah meluapkan kekecewaan mereka dengan melemparkan telur dan lumpur, serta meneriakkan protes terhadap lambannya respons pemerintah dalam menangani banjir yang menewaskan lebih dari 200 orang. Seruan “Pembunuh!” dan “Keluar!” terdengar saat Raja Felipe bersama Perdana Menteri Pedro Sanchez berusaha menemui masyarakat.
Ketegangan di Lokasi Terdampak Banjir
Situasi kian memanas, memaksa pasukan keamanan menggunakan payung untuk melindungi rombongan kerajaan dari benda-benda yang dilemparkan warga. Beberapa petugas dilaporkan terluka. Beberapa warga menyampaikan frustrasi mereka, mengungkapkan bahwa peringatan banjir baru diterima beberapa jam setelah badai menghantam. Hingga kini, akses terhadap air bersih dan telekomunikasi masih sangat terbatas di wilayah terdampak, dengan lumpur dan puing menutupi banyak area.
Reaksi Emosional Raja dan Ratu di Tengah Protes
Meskipun menghadapi kritik pedas, Raja Felipe tetap melanjutkan kunjungannya dan berbicara langsung dengan warga yang terdampak. Sementara itu, Ratu Letizia terlihat emosional mendengarkan keluhan seorang wanita yang menangis karena kesulitan air bersih. Dikutip dari AP, seorang wanita bahkan berujar, “Kami tidak punya air,” saat berbicara dengan Ratu.
PM Sanchez Janji Percepatan Pemulihan

Perdana Menteri Sanchez meninggalkan lokasi lebih awal dengan alasan keamanan, namun ia menyampaikan bahwa pemerintah akan mempercepat upaya pemulihan. Ia juga mengakui bahwa respons sebelumnya “tidak memadai” dan berkomitmen untuk mengirim lebih banyak bantuan. Dalam upaya mengatasi dampak banjir, Sanchez memerintahkan pengerahan 10.000 tentara dan polisi untuk mendukung pemulihan.
Ribuan Relawan Terlibat dalam Penanganan Banjir
Sehari sebelum kunjungan tersebut, ribuan relawan berkumpul di Valencia untuk membantu membersihkan kota dan memberikan bantuan. Relawan menerima perlengkapan seperti ember dan makanan sebelum bergerak ke daerah terdampak banjir. Hingga kini, sekitar 5.000 tentara dan polisi telah bergabung dalam upaya pemulihan, namun masyarakat masih skeptis terhadap kesigapan pemerintah dalam mengatasi krisis ini. (net/ra)