By admin
02.05.26

Anak Muda China Berburu Kehangatan dari Sosok Orang Tua Virtual di Media Sosial

MAHAKAMA – Di tengah gemerlap lampu kota dan tuntutan pekerjaan yang tak henti, ribuan anak muda China justru mencari pelukan hangat melalui layar ponsel. Mereka tidak lagi mencari hiburan semata, melainkan sosok pengganti orang tua yang mampu memberikan sapaan lembut serta perhatian tulus di tengah kesepian hidup.

Fenomena munculnya orang tua virtual menjadi tren besar di platform Douyin atau versi TikTok di China dalam beberapa waktu terakhir. Para pembuat konten ini menyapa pengikutnya dengan panggilan hangat layaknya anak sendiri, yang kemudian menciptakan ikatan emosional kuat bagi jutaan penonton.

Dalam waktu kurang dari tiga tahun, akun-akun tersebut telah merangkul lebih dari 1,8 juta pengikut yang haus akan validasi kasih sayang. Banyak anak muda mengaku merasa terharu saat mendengar ucapan sederhana seperti pengingat untuk tidak memaksakan diri dalam bekerja atau belajar.

Sebagian besar generasi muda di sana merasa kecewa dengan dinamika keluarga tradisional yang lebih mengutamakan kewajiban dibandingkan rasa peduli. Mereka menganggap orang tua kandung sering kali abai terhadap kesulitan hidup dalam ekonomi yang melambat. Akibanya, beban harapan kepada anak tunggal menjadi lebih berat.

Menolak Budaya Kontrol melalui Sastra Sup Labu

Selain konten kehangatan, tren satire yang dikenal dengan istilah sastra sup labu juga viral di berbagai platform media sosial China. Tren ini bermula dari sketsa video tentang seorang anak yang mendapat perlakuan tidak adil saat mencoba menolak tawaran makanan dari ibunya.

Banyak anak muda menggunakan istilah ini untuk menggambarkan komunikasi keluarga yang timpang. Orang tua sering memaksakan kehendak atas nama kebaikan. Kondisi ini membuat mereka merasa tertekan karena harus selalu menuruti standar yang dibuat oleh orang tua mereka.

Dilanisr BBC Indonesia (30/4/2026), Zhao Xuan, seorang pemuda berusia 28 tahun. Ia bahkan mengaku telah membisukan grup obrolan keluarga karena sering merasa tidak dianggap. Ia menilai orang tuanya lebih memprioritaskan adik laki-lakinya dan terus berusaha mengontrol setiap aspek dalam kehidupannya tanpa memedulikan perasaannya.

Oleh karena itu, banyak anak muda kini menggunakan meme dan video lucu sebagai cara menghadapi trauma keluarga dengan humor. Mereka menyadari bahwa pengalaman pahit ini tidak dirasakan oleh segelintir orang saja, melainkan menjadi keresahan kolektif generasi muda saat ini.

Trauma Masa Lalu dan Krisis Komunikasi antar Generasi

Guo Ting, seorang peneliti studi gender di University of Toronto menilai bahwa perilaku orang tua di China merupakan dampak dari gejolak sejarah serta kemiskinan masa lalu. Selama masa Revolusi Kebudayaan dari tahun 1966 hingga 1976, banyak orang tua tumbuh dalam lingkungan yang melarang ekspresi emosi personal.

Kala itu, masyarakat hanya boleh menunjukkan rasa cinta kepada negara atau pemimpinnya saja, bukan kepada anggota keluarga. Hal ini menyebabkan banyak orang tua masa kini kesulitan dalam mengungkapkan kasih sayang secara terbuka karena terbiasa dengan lingkungan hidup yang keras.

Namun demikian, generasi muda tetap merasa bahwa memahami sejarah tidak mampu menghapus luka batin yang mereka tanggung sendiri. Mereka tetap menghargai kehangatan yang diberikan oleh sosok asing di internet.

Bagi sebagian orang, ruang digital ini menjadi oase di tengah hubungan keluarga yang terasa kaku dan penuh ekspektasi. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending