By admin
29.03.26

Magnet Pendidikan Borneo: Partisipasi Kuliah Kaltim Tertinggi, Penopang Pendidikan Tinggi Kalimantan

Kalimantan Timur mencatatkan salah satu angka partisipasi kuliah tertinggi di Indonesia, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai penopang pendidikan tinggi utama bagi mahasiswa dari berbagai provinsi tetangga di Pulau Kalimantan./Humas Unmul

MAHAKAMA – Deretan toga hitam yang melambai di bawah langit cerah kini bukan lagi sekadar mimpi bagi banyak pemuda. Semangat meraih gelar sarjana terus tumbuh sebagai bekal memperbaiki masa depan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Pendidikan tinggi dinilai semakin penting di tengah persaingan global yang menuntut keterampilan dan kompetensi lebih tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula rata-rata gaji yang diterima. Per Februari 2025, lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 memperoleh rata-rata gaji Rp 4,35 juta. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan lulusan SD yang hanya sekitar Rp 2,07 juta.

Hubungan antara pendidikan dan peluang ekonomi tersebut turut mendorong meningkatnya partisipasi masyarakat di perguruan tinggi. Berdasarkan data BPS 2025, angka partisipasi kuliah secara nasional tercatat 30,85 persen pada 2020 dan meningkat pada 2024 dengan capaian sekitar 32 persen hingga 39,37 persen.

Artinya, hanya sekitar 32–39 dari 100 penduduk usia 17–24 tahun yang menempuh pendidikan tinggi. Meski menunjukkan tren kenaikan, angka ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara maju yang tingkat partisipasi pendidikan tingginya dapat melampaui 50 persen.

Di tengah capaian nasional yang masih terbatas tersebut, beberapa daerah justru menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Kalimantan Timur tercatat sebagai salah satu dari sepuluh provinsi dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi tertinggi di Indonesia.

Capaian ini menandakan semakin banyak pelajar di Bumi Etam yang memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Perbandingan Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi Antarprovinsi

Untuk melihat posisi Kalimantan Timur secara lebih jelas, perbandingan APK perguruan tinggi antarprovinsi dapat menjadi gambaran penting. Berdasarkan data BPS 2025, DI Yogyakarta menempati posisi pertama sebagai provinsi dengan angka partisipasi perguruan tinggi tertinggi, yakni 74,70 persen. Posisi kedua ditempati Maluku dengan angka 42,89 persen, disusul Aceh yang mencatatkan 42,81 persen.

Dalam daftar tersebut, Kalimantan Timur berada di peringkat ketujuh nasional dengan angka partisipasi mencapai 40,44 persen. Artinya, sekitar empat dari sepuluh penduduk usia kuliah di provinsi ini telah menempuh pendidikan tinggi.

Angka partisipasi tersebut diukur menggunakan indikator Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi, yaitu perbandingan antara jumlah seluruh mahasiswa yang sedang kuliah dengan total penduduk usia 19–23 tahun di suatu wilayah. Perhitungannya:

APK = Jumlah seluruh mahasiswa (semua usia) ÷ jumlah penduduk usia 19–23 tahun × 100%

Melalui perhitungan ini, APK memberikan gambaran mengenai seberapa besar akses pendidikan tinggi di suatu daerah. Semakin tinggi nilainya, semakin banyak penduduk usia kuliah yang berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Tingginya APK juga biasanya menunjukkan akses kuliah yang lebih terbuka, baik karena jumlah perguruan tinggi yang relatif banyak maupun kapasitas kampus yang besar. Selain itu, provinsi dengan APK tinggi sering menjadi tujuan mahasiswa dari luar daerah untuk menempuh pendidikan.

Namun demikian, nilai APK tidak selalu mencerminkan banyaknya jumlah kampus di suatu wilayah. Angka tersebut juga bisa tinggi karena adanya mahasiswa dari luar daerah yang menempuh pendidikan di provinsi tersebut.

Anomali Data Pendidikan dan Pusat Literasi Regional Kalimantan

Penjelasan tersebut membantu memahami mengapa beberapa daerah dapat memiliki angka partisipasi tinggi meskipun jumlah kampusnya tidak terlalu banyak. Sebagian besar provinsi dengan APK tinggi memang memiliki jumlah perguruan tinggi dan mahasiswa yang besar.

Contohnya adalah DKI Jakarta yang memiliki 279 perguruan tinggi dengan angka partisipasi kuliah mencapai 41,78 persen. Sumatera Barat juga menunjukkan pola serupa dengan 98 perguruan tinggi dan angka partisipasi sebesar 42,32 persen.

Namun demikian, Kalimantan Timur menjadi semacam anomali karena tetap memiliki angka partisipasi tinggi meski jumlah kampusnya relatif terbatas. Provinsi ini tercatat memiliki 49 perguruan tinggi dengan total sekitar 108,12 ribu mahasiswa aktif.

Salah satu penjelasan logis mengenai fenomena ini adalah adanya arus mahasiswa yang datang dari provinsi-provinsi tetangga. Beberapa kampus besar seperti Universitas Mulawarman dan Institut Teknologi Kalimantan menjadi tujuan utama mahasiswa dari Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah.

Hal ini terjadi karena pilihan perguruan tinggi di daerah asal mereka masih relatif terbatas jika dibandingkan dengan Kalimantan Timur.

Ketimpangan Distribusi Kampus dan Peran Strategis Kalimantan Timur

Kondisi tersebut tidak terlepas dari ketimpangan distribusi perguruan tinggi di wilayah Kalimantan. Data BPS menunjukkan bahwa Kalimantan Utara hanya memiliki sekitar 12 perguruan tinggi pada periode 2025. Sementara itu, Kalimantan Tengah tercatat memiliki sekitar 23 perguruan tinggi yang tersebar di wilayahnya.

Keterbatasan tersebut membuat Kalimantan Timur berperan sebagai salah satu pusat pendidikan regional bagi wilayah sekitarnya. Arus mahasiswa dari provinsi tetangga secara tidak langsung turut meningkatkan angka partisipasi pendidikan tinggi di provinsi ini.

Oleh karena itu, penguatan fasilitas pendidikan di Kalimantan Timur menjadi sangat penting bagi pengembangan sumber daya manusia di Pulau Kalimantan. Pemerintah perlu terus menjaga kualitas dan aksesibilitas pendidikan agar lebih banyak pemuda dapat meraih kesempatan kuliah.

Pendidikan tinggi menjadi investasi penting untuk memastikan kesejahteraan generasi mendatang tetap terjaga secara berkelanjutan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending