MAHAKAMA – Niatnya hanya membuka ponsel lima menit, tetapi tanpa terasa satu jam berlalu. Setelah scrolling tanpa henti, muncul rasa kosong dan lelah. Ini merupakan tanda otak mulai mengalami kelelahan mental.
Kondisi inilah yang dikenal sebagai brainrot. Istilah ini kian sering dibicarakan ketika banyak orang merasa sulit fokus setelah terus-menerus mengonsumsi konten digital yang dangkal dan repetitif.
Menurut Oxford University Press, brainrot merujuk pada kondisi ketika otak terasa tumpul akibat paparan informasi ringan yang berulang. Di tengah banjir video pendek serba instan, kemampuan berkonsentrasi dalam durasi panjang pun semakin tergerus.
Pola konsumsi konten yang tidak sehat menjadi pemicu utamanya. Penggunaan media sosial berlebihan, minim aktivitas fisik, serta kualitas tidur yang buruk saling berkaitan dan mempercepat penurunan daya fokus di masyarakat modern.
Intensitas Video Pendek dan Skor Literasi PISA

Kecenderungan ini tercermin dalam data konsumsi video pendek global. Laporan We Are Social 2025 menunjukkan Nigeria menempati posisi teratas dengan rata-rata 5,38 hari per minggu menonton video berdurasi pendek. Filipina menyusul dengan 5,12 hari, sementara Indonesia berada di posisi ketiga dengan 5,05 hari.
Artinya, mayoritas penduduk di ketiga negara tersebut hampir setiap hari terpapar konten singkat melalui gawai. Paparan intens ini menimbulkan pertanyaan lanjutan, apakah kebiasaan tersebut berpengaruh pada daya fokus dan kemampuan literasi?
Rentang Perhatian Manusia Lebih Rendah dari Ikan Mas
Sejumlah riset memberi gambaran yang mengkhawatirkan. Studi Microsoft Corp. 2025 di Kanada terhadap 2 ribu responden menunjukkan rata-rata rentang perhatian manusia turun dari 12 detik pada tahun 2000 menjadi 8 detik. Sebagai perbandingan, ikan mas memiliki rentang perhatian sekitar 9 detik.
Dari riset tersebut juga menemukan 77 persen anak muda usia 18–24 tahun langsung meraih ponsel saat merasa bosan. Kebiasaan berpindah perhatian secara cepat membuat aktivitas membaca buku atau menyelesaikan tugas panjang terasa semakin berat.
Meski kemampuan multitasking meningkat, otak yang terbiasa dengan stimulasi singkat cenderung kehilangan minat pada aktivitas mendalam. Dalam konteks inilah brainrot menjadi sinyal pelemahan kapasitas berpikir reflektif, yang pada akhirnya beririsan dengan tantangan literasi membaca.
Karena itu, kemampuan untuk berhenti sejenak dan selektif memilih konten menjadi keterampilan penting di era digital. Tanpa kesadaran tersebut, masyarakat berisiko terjebak menjadi konsumen informasi instan, sementara daya baca dan daya pikir terus melemah. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin