MAHAKAMA – Suara tawa anak-anak di rumah keluarga mendadak berubah sunyi saat pulang. Suhu tubuh mereka naik dengan cepat, sementara ruam merah di balik telinga muncul sebagai tanda yang sering terlambat disadari orang tua.
Gejala tersebut kerap menjadi awal dari penyakit campak yang kembali menunjukkan tren peningkatan di Indonesia pada awal 2026. Lonjakan kasus ini memicu kewaspadaan karena penyakit tersebut sangat mudah menular, terutama pada anak yang belum mendapatkan imunisasi.
Campak merupakan penyakit menular akibat virus yang dapat bertahan di udara dan menempel pada benda di sekitar. Penularannya terjadi melalui percikan air liur saat penderita batuk, bersin atau berbicara.
Karena itu, risiko penularan dapat meningkat saat momen Lebaran. Tradisi silaturahmi dan open house membuat banyak orang berkontak dekat dalam satu waktu. Akibatnya virus lebih mudah menyebar, terutama jika ada anak yang belum divaksin atau sedang dalam masa inkubasi.
Tren Data Suspek Campak di Indonesia Awal Tahun 2026

Kementerian Kesehatan melaporkan terdapat 10,45 ribu kasus suspek campak di Indonesia hingga pekan kedelapan tahun ini. Dari total tersebut, sebanyak 8,37 ribu kasus telah terkonfirmasi melalui tes laboratorium dan 6 orang dinyatakan meninggal dunia.
Pada pekan pertama tahun ini, petugas kesehatan mencatatkan sebanyak 685 kasus suspek campak di berbagai wilayah Tanah Air. Angka tersebut melonjak drastis pada pekan kedua hingga mencapai 1,91 ribu kasus dalam waktu singkat.
Tren kasus sempat bertahan di angka 1,7 ribuan pada pekan ketiga dan keempat sebelum akhirnya mulai menurun perlahan di Februari. Pekan kedelapan pada bulan Februari, jumlah kasus mencapai level terendah dengan total 506 kasus suspek yang dilaporkan ke pusat data.
Namun demikian, pemerintah meminta masyarakat tidak lengah meskipun angka mingguan saat ini sedang mengalami penurunan. Sifat virus yang sangat menular membuat satu orang penderita dapat menyebarkan penyakit kepada orang lain di ruangan yang sama.
Risiko Penularan Virus Selama Periode Mudik Lebaran
Potensi penularan virus dapat semakin parah saat mobilitas masyarakat meningkat selama masa mudik dan perayaan Lebaran. Tradisi berkumpul bersama keluarga serta kerabat dalam jumlah besar meningkatkan risiko kontak dekat secara masif di tempat umum.
Kepadatan di transportasi umum dan tempat singgah menjadi lokasi rawan penyebaran virus melalui pernapasan. Anak-anak yang sedang dalam masa inkubasi atau belum mendapatkan vaksin lengkap menjadi kelompok yang paling rentan terinfeksi.
Dilansir Databooks (11/3/2026), Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni menjelaskan bahwa pola kasus campak kerap berulang pada awal tahun. Menurutnya, kasus campak meningkat tajam pada awal tahun dan mulai melandai saat memasuki pertengahan tahun.
Meski demikian, kewaspadaan kesehatan harus diperkuat saat masyarakat melakukan perjalanan jauh untuk merayakan hari Idul Fitri di kampung halaman.
Antisipasi Penyebaran Penyakit dan Etika Berkunjung
Imunisasi lengkap tetap menjadi langkah utama untuk melindungi anak-anak dari risiko komplikasi serius akibat infeksi virus campak. Karena itu, orang tua perlu memastikan status vaksinasi anggota keluarga sebelum melakukan perjalanan jarak jauh, terutama saat mudik Lebaran.
Selain memastikan vaksinasi, tamu yang berkunjung ke rumah kerabat juga perlu menerapkan etika kesehatan. Sebaiknya menunda kunjungan jika kondisi tubuh sedang tidak fit atau mengalami gejala seperti batuk dan pilek.
Kebiasaan menjaga kebersihan juga penting diterapkan. Mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan sebelum berinteraksi dengan anak-anak dapat membantu menekan risiko penularan, termasuk dengan membatasi kontak fisik seperti memeluk atau mencium bayi dan balita yang sistem imunnya masih berkembang.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga kesehatan keluarga selama masa silaturahmi. Dengan saling menjaga, momen hari raya dapat tetap berlangsung aman, terutama bagi anak-anak. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin