MAHAKAMA — Sungai Mahakam sebagai urat nadi kehidupan di Kalimantan Timur, kembali mengungkap kisah kekayaan hayatinya.
Bukan hanya tentang pesut Mahakam yang ikonik, kali ini perhatian tertuju pada seekor ikan endemik air tawar yang akhirnya memperoleh kepastian nama ilmiah: Desmopuntius mahakamensis.
Ikan yang semula dikelompokkan sebagai Puntius sp. atau Striped puintius karena pola garis horizontalnya, kini resmi ditempatkan dalam genus Desmopuntius.
Berdasarkan klasifikasi taksonomi secara lengkap, ikan ini berada dalam kerajaan Animalia, ordo Cypriniformes, keluarga Cyprinidae, genus Desmopuntius, spesies Desmopuntius mahakamensis. Nama mahakamensis sendiri merujuk pada Sungai Mahakam, lokasi asal ikan ini.
Penelitian dan Identifikasi Spesies Baru
Para peneliti Indonesia yang berada di balik deskripsi spesies ini berasal dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Tonisman Harefa, Haryono, Rudhy Gustiano, Gema Wahyudewantoro, dan Tedjo Sukmana dari Fakultas Biologi Universitas Jambi.
“Spesies baru ini saat ini hanya dikenal dari daerah aliran Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sebagian besar spesimen telah dikumpulkan dari dua danau Wis dan Jempang dan dari beberapa aliran kecil di dalam sistem anak sungai Sungai Mahakam,” tulis Tonisman Harefa, penulis pertama dalam artikel yang diterbitkan di jurnal ZooKeys akhir Oktober 2025.
Publikasi penelitian mereka tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah tentang ikan air tawar di Indonesia, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi upaya pelestarian Mahakam yang semakin tertekan perubahan lingkungan.
Temuan ini menambah daftar spesies dalam genus Desmopuntius menjadi sembilan jenis. Sebelumnya, genus ini terdiri dari delapan spesies yaitu D. foerschi, D. gemellus, D. hexazona, D. johorensis, D. pentazona, D. rhomboocellatus, D. trifasciatus, dan D. endecanalis, yang tersebar di pulau-pulau besar Indonesia seperti Sumatera dan Kalimantan.
Ciri Khas dan Karakteristik

Ikan D. mahakamensis terbilang kecil, dengan panjang kurang dari sembilan sentimeter dan lebar kurang dua sentimeter. Ia memiliki mata lumayan besar, mulut kecil tumpul, sungut pendek di bawah mulut, dan memiliki sirip di punggung, anus, dada, perut serta ekor.
Karakteristik yang paling khas adalah pola warnanya. Ikan ini secara umum berwarna kuning abu-abu keperakan, dihiasi lima sampai enam garis horizontal berwarna hitam. Sirip dan ekornya berwarna kuning hingga oranye transparan.
“Karakter morfologi yang membedakan Desmopuntius dari generanya mencakup pola warna khas 4-6 garis, setidaknya pada tahap juvenil. Garis pertama melintasi mata, garis kedua di belakang bukaan insang, garis ketiga memanjang dari pangkal sirip punggung, garis keempat dari pangkal sirip dubur, garis kelima pada pangkal ekor, dan garis keenam di pangkal sirip ekor,” tulis laporan tersebut.
Secara taksonomi, D. mahakamensis berkerabat atau berada dalam satu keluarga yang sama (Cyprinidae) dengan ikan mas (Cyprinus carpio) dan koi (Cyprinus rubrofuscus).
Sepintas, ikan ini mirip dengan tiger barb dan lebih cocok sebagai ikan hias daripada dikonsumsi. Secara lokal, beberapa warganet mengenali ikan ini dengan nama seperti ikan engkaret, jajak, kemuring, atau wader.
Validasi Ilmiah dan Pentingnya Konservasi
Untuk memastikan status spesies barunya, para peneliti menggunakan pendekatan taksonomi integratif. Selain pengukuran morfometrik, mereka juga menggunakan analisis diskriminan linier (LDA) dan pendekatan molekuler (DNA).
Perbedaan genetik D. mahakamensis dengan kerabat terdekatnya D. gemellus berkisar antara 7,2-13 persen, angka yang cukup besar untuk memvalidasi spesies baru.
Temuan spesies ikan bergaris yang pertama kali dideskripsikan secara resmi dari DAS Sungai Mahakam ini tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi upaya pelestarian.
Sungai Mahakam—yang membentang sepanjang 920 km melewati empat wilayah administratif—kini menghadapi ancaman serius dari aktivitas pertambangan batubara, deforestasi, polusi, dan pendangkalan.
Keberadaan spesies seperti D. mahakamensis menyoroti pentingnya konservasi habitat ikan air tawar di Kalimantan yang kerap terabaikan.
Penemuan ini mengingatkan bahwa perlindungan ekosistem sungai bukan hanya untuk menyelamatkan satwa besar seperti pesut Mahakam yang populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 individu, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan hidup ikan-ikan kecil endemik dan masyarakat lokal yang bergantung pada Mahakam. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin