MAHAKAMA — Mengapa harus tunggu bencana, baru kita percaya kebesaran Tuhan, kita rela sisihkan harta untuk sesama, kita bersahabat dengan alam. Aku menangis lihat hari ini, tapi tersenyum tatap masa depan.
Lirik lagu berjudul Solidaritas milik grup band legendaris Slank tersebut setidaknya bisa menggambarkan kondisi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang menjulang megah sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan.
Selama dua tahun terakhir, Gunung Semeru terus menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan dengan erupsi disertai awan panas guguran. Letusan-letusan ini tidak hanya menghasilkan kolom abu hingga ribuan meter, tetapi juga meluncurkan awan panas dengan jarak luncur bervariasi.
Puncak aktivitas terjadi pada 19 November 2025, ketika Gunung Semeru meletus dahsyat dengan kolom abu setinggi 2 kilometer di atas puncak dan luncuran awan panas mencapai 13 kilometer. Material panas juga sampai kawasan Jembatan Gladak Perak, salah satu jalur vital menuju lereng gunung.
Saat ini, Gunung Semeru tercatat mengalami 32 kali gempa guguran pada Kamis (20/10/2025) pada pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan status tanggap darurat sejak Kamis, selama tujuh hari, guna memastikan penanganan darurat berjalan cepat dan tepat.
Dalam kondisi genting ini, muncul kembali frasa yang sering diucapkan oleh masyarakat lokal, “Semeru tidak pernah ingkar janji.” Kalimat ini, di satu sisi, mencerminkan keyakinan bahwa Semeru adalah gunung yang menjaga keseimbangan dan selalu menepati “perjanjiannya” dalam memberikan kesuburan sekaligus peringatan. Namun, di sisi lain, erupsi dahsyat ini seolah menjadi pengingat keras bahwa janji Semeru bukanlah janji ketenangan abadi, melainkan janji akan siklus alamiah yang tak terhindarkan.
“Semeru tidak pernah ingkar janji” dalam konteks ini bukan berarti ia berjanji untuk tidak meletus. Justru, ia menepati janjinya sebagai gunung berapi aktif—bahwa energinya pasti akan dilepaskan, cepat atau lambat, sebagai bagian dari proses geologis yang terus berlangsung.
Janji yang ditepati Semeru adalah untuk terus menjadi Mahameru, puncak suci yang selalu aktif dan meminta kewaspadaan tinggi dari siapa pun yang tinggal di sekitarnya. Erupsi ini adalah penagihan janji agar manusia menghormati batas alam, menjauhi zona berbahaya yang telah ditetapkan, dan selalu siap sedia menghadapi potensi bencana seperti awan panas guguran dan banjir lahar dingin.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyampaikan informasi resmi terkait perkembangan terkini aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di Kabupaten Lumajang.
Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi, Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, telah terjadi peningkatan aktivitas erupsi disertai awan panas pada Rabu, 19 November 2025. Situasi ini berkembang secara cepat dan memerlukan langkah-langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan seluruh pengunjung dan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional.
Badan Geologi telah menetapkan kenaikan tingkat aktivitas Gunung Semeru pada 19 November 2025 dari semula Level II (Waspada) meningkat menjadi Level III (Siaga) pada pukul 16.00 WIB dan kembali meningkatkan status menjadi Level IV (Awas) terhitung pukul 17.00 WIB melalui Laporan Khusus Nomor 145/GL.03/BGL/2025 tanggal 19 November 2025.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut serta demi keselamatan pengunjung maupun petugas, melalui Pengumuman Nomor PG.17/T.8/TU/HMS.01.08/ B/11/2025 tanggal 19 November 2025, BB TNBTS menetapkan penutupan sementara seluruh kegiatan pendakian Gunung Semeru (Ranu Kumbolo) terhitung mulai dikeluarkannya pengumuman sampai dinyatakan aman. Ranu Kumbolo berjarak 6,4 km dari puncak Semeru sehingga masuk dalam daerah rawan terkena lontaran batu pijar.
Pada terjadi erupsi Gunung Semeru tanggal 19 November 2025 tersebut, tersebut ada 187 orang di Ranu Kumbolo. Kondisi di Ranu Kumbolo aman meskipun lokasinya berjarak 6,4 km dari puncak Semeru karena arah awan panas dan guguran lava menuju Selatan-Tenggara sedangkan Ranu Kumbolo berada di sebelah utara puncak Semeru.
Mempertimbangkan hal tersebut serta kondisi cuaca saat itu hujan dan sudah mulai gelap, maka pendaki dan rombongan yang ada diminta tetap tinggal di Ranu Kumbolo dan akan kembali ke Ranupani pada Kamis 20 November 2025.
Rombongan pendaki mulai turun ke Ranupani pada hari Kamis, 20 November 2025. Pendaki pertama sampai di Ranupani pada pukul 11.45 WIB dan pendaki terakhir pada pukul 14.30 WIB. Dari 187 orang tersebut, seluruhnya telah melapor ke pos Ranupani dalam keadaan sehat dan selamat.
Dengan mempertimbangkan kondisi vulkanik Gunung Semeru yang masih berstatus Level IV (Awas), BB TNBTS mengimbau masyarakat, pendaki, serta pelaku wisata untuk mematuhi seluruh rekomendasi zona bahaya yang dikeluarkan oleh PVMBG.
Kepatuhan terhadap arahan resmi sangat penting untuk mencegah potensi risiko dan memastikan keselamatan bersama di tengah dinamika aktivitas vulkanik yang masih berlangsung. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin