MAHAKAMA – Kemarin, 10 November, Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Namun jauh sebelum kemerdekaan, di tepian Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, ada sosok panglima yang berjuang melawan penjajahan. Namanya Awang Long, atau dikenal juga dengan gelar Pangeran Ario Senopati.
Semangat juangnya dalam menghadapi Inggris dan Belanda pada tahun 1844 menjadi bukti keberanian rakyat Kutai. Meski musuh memiliki senjata modern, Awang Long tetap bertahan dan melindungi Sultan dari serangan. Ia gugur sebagai pahlawan yang menjaga kehormatan negerinya.
Kisah kepahlawanan ini terjadi pada masa Sultan Aji Muhammad Salehuddin (1816–1850), saat Kutai masih berbentuk Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Pertempuran Tombak Maris di Sungai Mahakam
Nama Awang Long cukup dikenal di Kalimantan Timur. Jalan dan tempat di Samarinda banyak yang memakai namanya, tapi tidak semua tahu siapa dia sebenarnya.
Dalam buku Riwayat Hidup dan Perjuangan Awang Long di Kalimantan Timur karya Dhanny (2017), diceritakan bahwa Awang Long diangkat oleh Sultan sebagai Panglima Sepangan Raja, pasukan elite Kesultanan Kutai. Ia juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Ujian besar datang pada tahun 1844, ketika Inggris di bawah pimpinan James Erskine Murray datang berdagang tanpa izin dan menekan harga hasil bumi rakyat Kutai. Murray ingin membeli tanah di Mangkupalas, tapi Sultan menolak. Inggris marah dan menembaki Tenggarong dengan dua kapal bersenjata lengkap.
Sultan lalu memerintahkan Awang Long memimpin pasukan melawan Inggris. Pertempuran besar pun terjadi di Sungai Mahakam. Dengan senjata tradisional, pasukan Kutai berhasil memukul mundur Inggris. Dalam pengejaran di perairan Samarinda, kapal Inggris diserang hingga Murray tewas. Pertempuran dua hari itu dikenal dengan nama Pertempuran Tombak Maris.
Namun tak lama setelah itu, Belanda datang membawa sembilan kapal perang. Mereka menuntut Kutai menyerah, tapi Awang Long menolak. Ia menembakkan meriam ke kapal Belanda dan bertahan di benteng kesultanan. Sayangnya, serangan balasan Belanda menghancurkan benteng dan Awang Long gugur tertimpa reruntuhan.
Kegigihan sang panglima terus dikenang masyarakat Kalimantan Timur. Namanya diabadikan menjadi nama jalan dan nama batalyon infanteri di teritorial Kalimantan Timur.
Kontroversi dan Catatan Sejarah

Foto: Sepasang makam di Kelurahan Sukarame, Tenggarong yang dipercaya sebagai makam Awang Long beserta salah seorang istrinya. (FAHMI FAJRI/BONTANG POST)
Meski dikenal sebagai pahlawan lokal, kisah Awang Long juga menyimpan perdebatan. Upaya mengajukannya sebagai Pahlawan Nasional pernah dilakukan, tetapi ditolak karena bukti sejarah dinilai belum cukup.
Dilansir Kerajaan Kutai Kartanegara. Tenggarong: Pustaka Pulau Kumala oleh Bupati Kutai Syaukani HR (2002), pernah menyebut tidak ada catatan kolonial yang jelas tentang sosok ini. Beberapa tokoh kerajaan mengatakan Awang Long bisa jadi hanya legenda yang diciptakan untuk memperkuat identitas lokal.
Makam yang disebut sebagai makam Awang Long di Tenggarong pun ternyata hasil rekonstruksi. Hal ini tertulis pada Suara Kaltim. 19 November 1998, Benarkah Kuburan Awang Long di Mangkurawang. Disebutkan Budayawan Kutai, Zailani Idris, pernah menemani Bupati Ahmad Dahlan mencari makam tua pada 1970-an. Mereka menemukan makam tak bernama di Mangkurawang, yang kemudian dijadikan monumen oleh pemerintah daerah.
Terlepas dari perdebatan itu, kisah Awang Long mengingatkan bahwa semangat perjuangan tidak selalu diukur dari gelar resmi. Ia mewakili keberanian rakyat daerah mempertahankan tanah airnya. Pada peringatan Hari Pahlawan, kisah seperti ini penting untuk dikenang. Kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda Kalimantan Timur agar terus mencintai sejarah dan menjaga semangat juang leluhurnya.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin