By admin
06.10.25

Pajak Tersembunyi: Fenomena Pink Tax Lukai Keadilan Gender

GAUN merah jambu memang simbol femininitas. Namun, warna manis ini ternyata menyembunyikan biaya pahit bagi kaum hawa. Di balik etalase, perempuan membayar lebih mahal untuk produk yang sama.

Fenomena ini dikenal sebagai Pink Tax. Istilah ini merujuk pada biaya tambahan yang harus perempuan bayar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka membayar biaya ini karena mengonsumsi produk yang ditujukan untuk gender perempuan. Faktanya, produk ini cenderung memiliki manfaat yang sama dengan produk laki-laki.

Biaya Tambahan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dilansi Pajak.go, sebuah studi oleh New York City Department of Consumer Affairs (DCA) pada 2015 membuktikan hal ini. Penelitian menemukan produk perempuan harganya lebih mahal 7 persen daripada produk laki-laki. Selain itu, studi lain menyimpulkan harga pakaian anak perempuan rata-rata 4 persen lebih mahal. Perempuan juga membayar 13 persen lebih mahal untuk perawatan pribadi seperti deodoran.

Meskipun mengandung kata “pajak”, Pink Tax bukanlah pajak resmi pemerintah. Ia adalah perbedaan harga yang perusahaan bebankan kepada konsumen wanita. Fenomena ini paling sering ditemui di Indonesia pada produk perawatan diri. Pisau cukur perempuan, misalnya, rata-rata harganya lebih dari Rp 30.000. Pisau cukur laki-laki rata-rata harganya hanya Rp 10.000 hingga Rp 20.000.

Penyebab Perbedaan Harga dan Respon Global

Perbedaan harga ini terjadi karena berbagai alasan. Pertama, perusahaan menggunakan strategi pemasaran berbeda. Penggunaan warna dan desain kemasan memengaruhi biaya.

Kedua, produk perempuan seringkali memerlukan bahan lebih kompleks sehingga menaikkan biaya produksi. Ketiga, konsumen perempuan cenderung berbelanja lebih sering. Kebiasaan ini meningkatkan permintaan pasar. Akibatnya, perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih tinggi.

Isu ini telah memicu gerakan global. Beberapa senator Amerika Serikat pernah mengajukan RUU penghapusan Pink Tax pada seragam militer. Biaya seragam tentara perempuan di AS mencapai US$8.000,00, dua kali lipat dari biaya seragam tentara laki-laki. Gerakan media sosial, seperti di Spanyol dan Irlandia, juga sukses menyebar pengetahuan tentang pajak tersembunyi ini.

Selain itu, perdebatan mengenai tampon tax (pajak resmi pada produk menstruasi) juga masif. Beberapa negara seperti Australia, Kanada, dan India telah menghapus pajak tersebut.

Solusi di Tangan Konsumen dan Legislasi

Disparitas harga produk terhadap konsumen perempuan tidak dapat dibiarkan. Solusi nyata telah dimulai melalui gerakan masyarakat. Organisasi di Kanada, misalnya, mendidik perempuan untuk mendorong perubahan legislatif.

Kini, peningkatan kualitas pendidikan dan kesadaran masyarakat dapat mengurangi diskriminasi ekonomi ini. Permasalahan ini akan dapat teratasi secara perlahan, jika kaum perempuan mau “melawan” dengan menjadi konsumen yang cerdas dan kritis.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending