By admin
02.10.25

Miliarder Baru: CEO Pop Mart Kalahkan Jack Ma Berkat Labubu, Tiru Strategi Disney

DI BALIK kotak misteri (blind box) yang memikat, tersimpan kejutan manis bagi industri mainan global. Mainan vinil, yang dulu hanya hobi minoritas, kini melahirkan miliarder baru.

Labubu, figur makhluk kecil bertelinga panjang, menjadi wajah dari fenomena ini. Produk ini sukses besar dan kini menjadi produk China pertama yang memenangkan hati konsumen global. Daya tarik emosional dan kreatif Labubu menjadi kunci sukses utama.

Strategi Jangka Panjang: Belajar dari Mickey Mouse

Dilansir CNBC Indonesiea (1/10/2025), Pop Mart mengakui bahwa salah satu resep kesuksesan Labubu adalah karena mereka mengikuti strategi Disney. Direktur Eksekutif dan Co-COO Si De mengungkapkan hal ini. Menurut Si, Pop Mart telah lama belajar dari Disney. Kesuksesan Disney terletak pada kemampuan mereka mengelola IP (Kekayaan Intelektual) dalam jangka panjang, bahkan hingga 100 tahun.

Mickey Mouse menjadi contoh. Mereka membuat Mickey Mouse sebagai kartun hampir seabad yang lalu, tetapi karakter ini hingga kini masih relevan. Pop Mart berambisi memiliki lima hingga 10 IP dengan potensi jangka panjang serupa dengan Labubu. Mereka ingin meniru jejak Disney.

CEO Wang Ning Lampaui Kekayaan Jack Ma

Kesuksesan Labubu mengangkat kekayaan CEO Pop Mart, Wang Ning. Pria berusia 38 tahun ini masuk daftar 100 orang terkaya di China. Wang Ning kini melampaui kekayaan pendiri Alibaba, Jack Ma.
Wang Ning berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar US$27,5 miliar (sekitar Rp 452 triliun), menurut perkiraan Forbes. Sebagian besar berasal dari kepemilikan saham perusahaannya.

Saham Pop Mart yang tercatat di bursa saham Hong Kong telah melonjak lebih dari 250 persen tahun ini. Kapitalisasi pasar perusahaan mainan tersebut mencapai HK$ 435,7 miliar (sekitar Rp 921 triliun). Angka ini lebih dari tiga kali lipat kapitalisasi pasar gabungan produsen Barbie, Mattel, dan Hasbro.

Fokus Bukan Viral Tapi Infrastruktur IP

Meskipun para analis mempertanyakan ketergantungan Pop Mart pada Labubu, perusahaan tersebut melihat potensi besar. Mereka fokus mengembangkan konten, taman hiburan, dan merchandise seputar Labubu.

Si De mengatakan fokus Pop Mart bukan menciptakan “hal viral berikutnya”. Mereka memilih berinvestasi pada produk yang lebih baik, kolaborasi yang lebih baik, serta mengembangkan konten dan taman hiburan. Strategi ini menunjukkan ambisi Pop Mart membangun IP sebagai aset berkelanjutan, bukan sekadar tren sesaat.

Kesuksesan Pop Mart dan Labubu membuktikan bahwa kekuatan emosional dan manajemen IP jangka panjang dapat bersaing dengan raksasa teknologi. Transisi dari mainan koleksi menjadi mesin penghasil kekayaan membuktikan nilai tak terhingga dari kreativitas yang dikelola secara visioner.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending