By admin
22.09.25

Tas Mewah Bisa Lebih Untung dari Saham, Mitos atau Fakta?

TAS bukan lagi sekadar pelengkap gaya. Kini, aksesori mewah itu mulai dipandang sebagai aset bernilai yang bisa memberi keuntungan besar bagi pemiliknya. Dari sekadar simbol status, tas desainer kini masuk radar investasi alternatif.

Prospek Menggiurkan

Nilai tas desainer naik karena kombinasi permintaan kolektor, kelangkaan pasokan, dan pasar jual kembali yang makin matang. Merek papan atas sengaja menjaga eksklusivitas dengan produksi terbatas serta aturan distribusi ketat. Akibatnya, permintaan sering kali melampaui pasokan sehingga harga bekas ikut terdongkrak.

Platform resale seperti Rebag dan The RealReal juga mempercepat kenaikan nilai. Keduanya menyediakan data harga pasar sekaligus kanal jual beli yang lebih transparan. Mekanisme ini membuat harga tas lebih mudah terbentuk dan dipercaya pembeli maupun penjual.

Sejumlah studi turut menguatkan tren ini. Penelitian Baghunter mencatat Hermes Birkin mencetak kenaikan rata-rata 14,2% per tahun sepanjang 1980–2015. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding rata-rata imbal hasil indeks S&P 500 yang sekitar 10%. Bahkan di rumah lelang, beberapa model ikonik mencapai harga rekor, menegaskan daya tariknya sebagai aset koleksi.

Risiko dan Kontra

Meski demikian, tidak semua tas layak disebut investasi. Hanya segelintir model, seperti Birkin klasik, yang benar-benar stabil naik nilainya. Sebagian besar tas lain cenderung stagnan atau bahkan turun di pasar sekunder.

Ada pula biaya yang menggerus keuntungan. Komisi platform konsinyasi, ongkos autentikasi, serta waktu tunggu penjualan membuat likuiditas rendah. Kondisi fisik juga sangat menentukan. Warna, ukuran, hingga noda kecil bisa memangkas harga jual kembali secara drastis.

Risiko lain datang dari pemalsuan, pencurian, dan perubahan tren mode. Jika selera publik bergeser, tas yang tadinya populer bisa cepat kehilangan peminat. Karena itu, sejumlah perencana keuangan menyarankan menyebut tas mewah sebagai pembelian cerdas untuk pemakaian jangka panjang, bukan instrumen investasi utama.

Dengan kata lain, tas desainer memang bisa memberi keuntungan, tapi tidak semua tas layak diperlakukan seperti saham. Pilihan tetap kembali ke pemilik: apakah membeli tas mewah demi gengsi, keuntungan, atau sekadar kepuasan pribadi.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati

Trending