
GEMERLAP mall di berbagai kota kini sering penuh pengunjung, tetapi kasir tetap sepi transaksi. Fenomena ini memunculkan istilah baru yang viral: Rojali dan Rohana.
Arti Rojali dan Rohana
Rojali berarti rombongan jarang beli, sedangkan Rohana singkatan dari rombongan hanya nanya. Keduanya menunjuk pada kebiasaan pengunjung yang datang bergerombol, melihat-lihat, bahkan bertanya soal harga, tetapi jarang bertransaksi.
Fenomena ini bukan hal baru, tetapi semakin sering muncul saat daya beli belum pulih. Banyak orang memilih mall sebagai hiburan murah tanpa harus berbelanja. Jika memutuskan membeli, konsumen lebih sering mencari harga di platform daring.
Analisis Ekonomi dan Dampaknya
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan sikap hati-hati masyarakat dalam mengatur pengeluaran. Ia menegaskan daya beli belum benar-benar pulih meskipun pemerintah sudah mendorong belanja lewat program diskon dan stimulus.

Dilansir Tribun, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyebut perilaku Rojali memang selalu ada di pusat belanja. Namun kali ini frekuensinya meningkat karena kelas menengah ke bawah masih tertekan biaya hidup dan inflasi. Banyak pengunjung datang hanya untuk rekreasi murah, sehingga transaksi lebih terbatas pada kebutuhan pokok.
APPBI menjelaskan kondisi ini belum menekan kinerja mall secara nasional. Tingkat okupansi toko tetap stabil dan jumlah pengunjung masih tinggi. Namun, jika daya beli masyarakat tidak segera membaik, dampaknya bisa meluas ke sektor ritel, manufaktur, bahkan industri keuangan.
Tren Konsumsi di mall
Dari sumber yang sama, Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) melihat sisi positif dari maraknya perilaku Rojali. Gerai makanan dan minuman justru mencatat kenaikan omzet. Pengunjung yang hanya melihat-lihat tetap mengeluarkan uang untuk minuman, camilan, atau makanan ringan. Lonjakan kecil ini menjadikan sektor F&B sebagai penopang penting aktivitas mall.
Di Balikpapan, Tribun Kaltim mencatat sebagian konsumen masih nyaman berbelanja langsung di pusat perbelanjaan. Mereka memilih cara ini karena bisa memeriksa kualitas barang sebelum membeli, sehingga risiko kesalahan lebih kecil dibanding transaksi online. Meski begitu, mereka tetap membandingkan harga dengan toko daring untuk mendapatkan penawaran terbaik. Pola ini menunjukkan mall masih punya daya tarik, terutama bagi pembeli yang mengutamakan pengalaman dan keamanan produk.
Strategi Ritel Menghadapi Rojali

Dilansir Tribun, pelaku ritel semakin agresif merancang strategi untuk menekan tren Rojali. Sejumlah pusat belanja menggelar diskon tematik sesuai momentum hari besar nasional atau musim liburan. Mereka juga gencar mengadakan flash sale berdurasi terbatas agar konsumen terdorong membeli lebih cepat. Selain itu, program loyalti berbasis poin dan bundling produk dirancang untuk memberi kesan harga lebih hemat jika dibeli langsung di toko.
Meski demikian, UMKM tetap menjadi pihak paling rentan. Ritel besar masih memiliki cadangan modal dan jaringan digital, sementara banyak usaha kecil hanya mengandalkan transaksi tatap muka. Jika pengunjung terus datang tanpa membeli, omzet mereka bisa tergerus. Kerugian ini bukan hanya memengaruhi penjualan harian, tetapi juga keberlanjutan usaha di tengah persaingan yang semakin ketat.
Ancaman Jangka Panjang bagi Ritel
Fenomena Rojali dan Rohana bisa menahan pertumbuhan sektor ritel dalam jangka panjang. Kondisi ini berpotensi mengganggu arus kas, menekan ekspansi, hingga membatasi penciptaan lapangan kerja baru. Karena itu, pemulihan daya beli masyarakat menjadi kunci agar tren ini tidak semakin meluas.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin