GEMERLAP layar lebar sering jadi ruang refleksi. Film bisa membuat penonton berhenti sejenak dan melihat hidup dengan cara berbeda.
Film Sore: Istri dari Masa Depan menghadirkan kisah Jonathan, fotografer yang awalnya hidup seenaknya. Ia mengabaikan kesehatan, boros waktu, dan tidak peduli pada sekitarnya. Hidupnya berubah saat bertemu Sore, perempuan yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Dari pertemuan itu, Jonathan mulai memperbaiki kebiasaan kecil, seperti menjaga pola makan dan lebih menghargai waktu bersama orang lain.
Perubahan Jonathan ini selaras dengan fenomena self-improvement yang dekat dengan Gen Z. Survei Jakpat 2024 mencatat 68,3 persen anak muda mencoba kebiasaan baru untuk memperbaiki diri, mulai dari olahraga, membaca, hingga mengatur waktu tidur. Namun, 42,7 persen juga mengaku terjebak tekanan sosial karena standar kesempurnaan yang terus dibandingkan di media sosial.
Film ini menyoroti dilema tersebut dengan cara yang halus. Jonathan tidak berubah karena tuntutan eksternal, melainkan karena kesadaran dari dalam. Visual hangat dan soundtrack lembut memberi ruang kontemplasi, berbeda dengan tren motivasi cepat di platform digital. Alih-alih menekan penonton untuk “segera sukses,” Sore justru mengajak mereka menikmati langkah kecil yang konsisten.
Dalam dunia yang serba cepat, Sore memberi pesan penting: kebahagiaan tidak hanya datang dari menjadi lebih baik, tetapi juga dari menghargai diri saat ini. Pertanyaannya, mampukah Gen Z menjaga keseimbangan antara ambisi dan penerimaan diri? (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin