DI TENGAH euforia HUT ke-80 Republik Indonesia, layar bioskop justru memicu perdebatan. Film animasi Merah Putih: One For All, yang diharapkan menjadi persembahan patriotik, malah menuai hujatan. Kritik mengalir deras di media sosial dan forum sineas, menyoroti kualitas dan proses produksinya.
Petualangan Tim Merah Putih
Sinopsis resmi di salah satu laman bioskop nasional menceritakan kisah yang dimulai di sebuah desa yang sibuk menyambut Hari Kemerdekaan. Delapan anak dari latar belakang budaya berbeda terpilih menjadi Tim Merah Putih. Mereka menerima misi menjaga bendera Sang Merah Putih, namun kehilangan bendera itu sebelum upacara dimulai.
Perjalanan mencari bendera membawa mereka melintasi sungai, hutan, dan badai. Sepanjang petualangan, mereka mengatasi perbedaan demi tujuan yang sama: memastikan bendera berkibar pada 17 Agustus. Mereka mengandalkan kerja sama, keberanian, dan cinta tanah air untuk menghadapi rintangan.
Kontroversi Produksi
1. Biaya Tinggi, Waktu Produksi Singkat
Produser utama Toto Soegriwo mengungkap biaya produksi mencapai Rp 6,7 miliar, meski pengerjaannya berlangsung kurang dari dua bulan. Dilansir dari akun instagram sang produser (ig:@totosoegriwo) menyebut proses selesai di bawah satu bulan demi tayang sebelum 17 Agustus 2025. Sejumlah sineas menilai biaya besar itu tidak sebanding dengan kualitas hasilnya.

2. Dahului Antrean Film Nasional
Dilansir dari website Kumparan (2025), Sutradara Hanung Bramantyo mempertanyakan cara film ini mendapat slot tayang di tengah antrean lebih dari 200 judul film Indonesia. Ia menilai penayangan yang terburu-buru justru menurunkan kualitas industri, apalagi dengan biaya produksi yang disebut hanya Rp 6,7 miliar, jauh di bawah standar animasi nasional yang umumnya memerlukan Rp 30–40 miliar di luar promosi. Menurutnya, kualitas yang dihasilkan berpotensi membuat penonton enggan menyaksikannya.
3. Dugaan Pelanggaran Hak Cipta
Animator dan digital artist asal Pakistan bernama Junaid Miran muncul di tengah polemik film Merah Putih One for All. (Screenshot dari YouTube Dibalik Mindplace)

Animator asal Pakistan, Junaid Miran, menuding pihak produksi mengambil enam karakternya tanpa izin dan tanpa pembayaran. Ia menulis tuduhan itu di kolom komentar YouTube Dibalik Mindplace pada 10 Agustus 2025, yang langsung memicu reaksi netizen. Hingga kini, ia belum menerima tanggapan maupun apresiasi dari tim produksi.
Tanggapan Pembuat Film
Dilansir dari Kompas (2025), sutradara sekaligus produser Endiarto menjelaskan bahwa film ini berawal dari semangat gotong royong, tanpa anggaran pasti sejak awal. Proyek dimulai pada Agustus 2024 dengan kru yang bekerja tanpa janji bayaran. Ia menegaskan tidak ada dukungan dana dari pemerintah, meski pihaknya sempat mengajukan audiensi ke Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan, namun permohonan tersebut tidak berhasil.
Merah Putih: One For All tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025. Kini publik mempertanyakan apakah semangat gotong royong mampu menutupi kekurangan kualitas dan etika produksi, atau film ini sekadar mengikuti tren kesuksesan Jumbo dengan balutan nasionalisme.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin