By admin
23.04.26

Biaya Plastik Dunia Melonjak, Harga Minyak Goreng Premium Tembus Rp 22 Ribu Per Liter

MAHAKAMA – Harga minyak goreng kini kembali menjadi sorotan tajam publik dalam beberapa hari terakhir. Melansir dari laman Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan 2026, harga minyak premium hampir menyentuh angka Rp 22 ribu per liter.

Kenaikan ini terjadi secara bertahap dan mulai menyulitkan kehidupan masyarakat luas. Masyarakat mulai merasakan dampak langsung dari sisi harga maupun ketersediaan barang di pasaran.

Kondisi ini tidak hanya menimpa produk kemasan premium saja. Tren kenaikan juga mulai merambat ke jenis minyak goreng curah serta Minyakita secara perlahan.

Walaupun kenaikannya masih tergolong tipis, tekanan harga menunjukkan konsistensi yang cukup kuat di pasar domestik. Oleh karena itu, pemerintah perlu mewaspadai potensi lonjakan harga yang lebih tinggi di masa mendatang.

Perbandingan Harga Nasional dan Disparitas Wilayah Terkini

Melansir dari laman Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan 2026, terjadi kenaikan harga harian pada beberapa jenis minyak goreng secara nasional. Minyak goreng kemasan premium mengalami kenaikan dari Rp 21.755 menjadi Rp 21.796 per liter.

Kenaikan tersebut setara dengan angka sekitar 0,19 persen dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini menandakan harga minyak premium kini sudah berada di ambang angka Rp 22 ribu per liter.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak goreng curah tercatat jauh lebih kecil dan stabil. Harganya hanya naik dari Rp 19.467 menjadi Rp 19.473 per liter atau sekitar 0,03 persen saja.

Berita baik muncul dari produk Minyakita yang justru mengalami penurunan harga yang cukup tipis. Harganya turun dari Rp 15.980 menjadi Rp 15.942 per liter di tingkat nasional.

Penurunan ini memperlihatkan bahwa program stabilisasi harga milik pemerintah masih berjalan efektif. Namun demikian, rentang harga di berbagai wilayah Indonesia masih menunjukkan perbedaan yang sangat lebar.

Lonjakan Harga Plastik Global Ganggu Pasokan Kemasan Premium

Kenaikan harga kali ini ternyata tidak bersumber dari bahan baku minyak sawit mentah atau CPO. Dilansir dari halaman tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik menjadi pemicu utama masalah ini.

Pasokan bahan baku plastik seperti nafta saat ini mengalami gangguan distribusi global yang cukup serius. Penutupan jalur strategis di kawasan Timur Tengah menghambat aliran logistik bahan baku tersebut ke produsen.

Gangguan ini membuat biaya produksi meningkat dan langsung berdampak pada harga jual konsumen. Oleh karena itu, pemerintah berupaya mencari negara alternatif untuk impor bahan baku plastik.

India, Afrika, dan Amerika Serikat menjadi kandidat utama untuk menekan beban biaya produksi kemasan. Selain itu, kelancaran distribusi logistik menjadi faktor kunci agar harga pasar segera kembali normal.

Di samping masalah bahan baku, pola konsumsi masyarakat juga mulai mengalami perubahan secara perlahan. Produsen kini lebih banyak memasok minyak goreng ukuran 2 liter daripada ukuran 1 liter.

Strategi ini diduga muncul untuk menjaga margin keuntungan produsen di tengah tekanan biaya. Namun, Minyakita tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat karena harganya yang masih terjangkau.

Jika tekanan biaya produksi terus berlanjut, seluruh jenis minyak goreng berpotensi mengalami kenaikan harga serentak. Kenaikan saat ini murni menunjukkan pengaruh besar dari faktor eksternal distribusi dan biaya kemasan.

Keadilan pangan harus menjadi prioritas utama negara dalam melindungi hak setiap warga negara Indonesia. Pemerintah wajib menjamin ketersediaan minyak goreng dengan harga yang wajar bagi rakyat kecil yang paling terdampak. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending