By admin
22.04.26

65 Persen Orang Tua Indonesia Wariskan Pola Asuh Masa Lalu Lewat Parenting VOC

Istilah parenting VOC viral di media sosial karena pola asuh yang ketat./Ilustrasi

65 Persen Orang Tua Indonesia Wariskan Pola Asuh Masa Lalu Lewat Parenting VOC

MAHAKAMA – Suara tegas orang tua bergema hingga ke relung jiwa anak-anak yang harus menekan ambisi demi kepatuhan mutlak.

Fenomena parenting VOC belakangan ramai diperbincangkan di media sosial karena identik dengan pola asuh yang keras dan penuh kontrol. Istilah ini merujuk pada gaya pengasuhan yang menuntut disiplin tinggi, di mana orang tua memegang kendali dominan dalam setiap keputusan anak.

Nama “VOC” sendiri diambil dari sistem otoriter perusahaan dagang Belanda pada masa kolonial yang menekankan kepatuhan tanpa banyak ruang negosiasi. Dalam praktiknya, pola ini mirip dengan gaya otoriter yang lebih mengutamakan instruksi dibandingkan kehangatan emosional.

Banyak orang tua masih meyakini pendekatan ini mampu membentuk karakter anak yang kuat dan tahan tekanan. Namun, di tengah perubahan zaman, pendekatan yang terlalu kaku mulai dipertanyakan karena dinilai kurang relevan dengan kebutuhan emosional anak masa kini.

Perubahan ini kemudian mengarah pada pertanyaan yang lebih dalam, apa sebenarnya yang membentuk pola asuh seperti ini di Indonesia?

Faktor Pengaruh dan Ciri Pola Asuh Otoriter di Indonesia

Survei Jakpat 2025 menunjukkan bahwa pola pengasuhan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu orang tua, dengan angka mencapai 65 persen. Artinya, banyak orang tua tanpa sadar mengulang cara didik yang mereka terima saat kecil.

Selain itu, nilai etika dan ajaran agama tetap menjadi fondasi penting dalam menentukan cara mendidik anak. Prinsip-prinsip ini sering menjadi acuan dalam menetapkan batasan, disiplin, hingga pola komunikasi dalam keluarga.

Di sisi lain, perkembangan informasi digital mulai memberi warna baru dalam pola asuh modern. Berbagai referensi dari media sosial dan platform digital turut memengaruhi cara pandang orang tua dalam mendidik anak.

Lingkungan sosial dan budaya lokal juga tidak kalah berperan, dengan kontribusi sebesar 55 persen dalam membentuk keputusan pengasuhan. Nilai yang hidup di masyarakat sekitar tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pendekatan terbaik.

Dari kombinasi faktor tersebut, lahirlah pola asuh seperti parenting VOC yang memiliki ciri aturan mutlak, komunikasi satu arah, serta fokus pada hasil akhir. Anak dituntut patuh tanpa banyak ruang untuk menyampaikan perasaan, sehingga kepatuhan sering muncul karena tekanan, bukan kesadaran.

Kondisi inilah yang kemudian memunculkan konsekuensi lebih jauh terhadap perkembangan psikologis anak.

Dampak Psikologis dan Munculnya Tren Hybrid Parenting

Pola asuh yang terlalu menekan berisiko menimbulkan dampak emosional pada anak, seperti kecenderungan memendam perasaan dan rendahnya kepercayaan diri. Anak juga bisa tumbuh bergantung pada arahan karena tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri.

Hubungan orang tua dan anak pun berpotensi menjadi renggang akibat minimnya kedekatan emosional. Bahkan, aturan yang terlalu ketat kerap memicu pemberontakan saat anak memasuki usia remaja.

Melihat dampak tersebut, banyak keluarga mulai mengevaluasi pendekatan pengasuhan mereka. Pergeseran ini terlihat dari munculnya tren hybrid parenting di kalangan orang tua muda, terutama generasi Z.

Studi Kiddie Academy menunjukkan bahwa pendekatan hybrid menggabungkan ketegasan aturan dengan empati dalam komunikasi dua arah. Orang tua tetap menetapkan batasan, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat dan kebutuhan emosionalnya.

Melalui pendekatan ini, anak tidak hanya belajar disiplin, tetapi juga memahami alasan di balik setiap aturan. Hasilnya, mereka tumbuh lebih mandiri, kritis, dan memiliki tanggung jawab yang lebih kuat dalam mengambil keputusan. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending