MAHAKAMA – Di balik kemudahan jawaban instan dari chatbot, banyak orang tanpa sadar mulai kehilangan kemampuan berpikir kritis. Fenomena ini memicu tren alih daya mental yang membuat otak semakin jarang digunakan untuk memecahkan masalah.
Dilansir BBC Indonesia (2/5/2026), peneliti Nataliya Kosmyna dari MIT Media Lab menemukan banyak surat lamaran magang dengan struktur dan isi yang mirip. Ia menduga pelamar menggunakan Model Bahasa Besar seperti ChatGPT atau Google Gemini untuk menulis dokumen tersebut secara otomatis.
Teknologi kecerdasan buatan memang mampu mengarang puisi, menawarkan nasihat keuangan, bahkan mendampingi pelajar dalam mengerjakan tugas akademik. Namun demikian, para peneliti memperingatkan bahwa kemudahan ini membawa dampak merusak bagi keterampilan mental dasar. Contohnya, seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Oleh karena itu, ketergantungan yang berlebihan pada perangkat pintar dapat mengubah cara berpikir manusia secara signifikan dari waktu ke waktu. Jika manusia terus membiarkan AI menangani seluruh tugas kognitif, kemampuan daya ingat dan kreativitas mereka dalam melahirkan karya orisinal akan merosot tajam.
Penurunan Aktivitas Otak akibat Penggunaan AI secara Berlebihan

Peneliti Kosmyna bersama rekan-rekannya merekrut 54 mahasiswa untuk menulis esai singkat dengan perbandingan penggunaan teknologi yang berbeda-beda. Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang menggunakan ChatGPT justru menunjukkan aktivitas otak yang jauh lebih rendah hingga 55 persen dibandingkan kelompok lainnya.
Peneliti mengamati penurunan aktivitas pada area otak yang berkaitan langsung dengan kreativitas serta pemrosesan informasi secara mendalam. Selain itu, para mahasiswa yang menggunakan AI juga mengaku tidak memiliki rasa kepemilikan atas karya yang mereka hasilkan sendiri.
Dosen penilai menilai esai yang dihasilkan AI terasa tanpa jiwa. Tulisan tersebut dinilai kurang orisinal dan minim kedalaman pemikiran.
Kondisi serupa juga muncul di bidang profesional. Tenaga medis yang bergantung pada AI untuk skrining kanker mulai kehilangan kemampuan deteksi mandiri.
Di sisi lain, pakar saraf mengaitkan lemahnya gelombang gamma dengan penurunan kognitif. Jika otak jarang dilatih, risiko demensia dan penurunan daya ingat bisa meningkat dalam jangka panjang.
Strategi Kecerdasan Hibrida untuk Menjaga Ketajaman Otak

Manusia seharusnya menggunakan kecerdasan buatan sebagai alat bantu pengumpul data, bukan sebagai pengganti tugas mental utama. BBC Indonesia (2/5/2026), Ahli saraf komputasional Vivienne Ming menyarankan konsep kecerdasan hibrida agar manusia tetap memegang kendali penuh atas hasil akhir dari setiap pemikiran.
Setiap individu wajib memprioritaskan pemikiran sendiri sebelum melibatkan AI dalam proses analisis atau pembuatan sebuah argumen. Selain itu, metode instruksi némesis dapat menjadi cara efektif untuk menguji penalaran sendiri dengan meminta AI menunjukkan kesalahan dalam logika pribadi.
Metode lain yang diusulkan para peneliti adalah memberikan gesekan produktif, yakni meminta AI hanya memberikan konteks tanpa langsung menyajikan jawaban akhir. Langkah ini memaksa otak untuk terus aktif berpartisipasi dalam membangun argumen yang logis serta menyempurnakan pemahaman terhadap suatu topik bahasan.
Oleh karena itu, membangun fondasi pengetahuan yang kuat tanpa dukungan AI di tahap awal menjadi sangat krusial bagi setiap pelajar. Mengasah kinerja otak melalui tantangan kognitif adalah satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan saraf dan memastikan kreativitas manusia tidak hilang ditelan oleh kemudahan teknologi.
Pada akhirnya, masyarakat semua harus tetap waspada terhadap godaan jalan pintas kognitif yang ditawarkan oleh perangkat cerdas masa kini. Kemampuan berpikir mendalam merupakan kekuatan super manusia yang harus terus dijaga dan latih demi masa depan kecerdasan umat manusia. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin