By admin
23.04.26

Hanya Sisakan 40 Persen Spesies Asli, Ikan Sapu-Sapu Kini Jajah Perairan Jakarta

MAHAKAMA – Air sungai yang keruh kini menjadi saksi bisu atas hilangnya kebebasan ikan-ikan lokal nusantara yang kian terhimpit. Di bawah permukaan air, ribuan ikan berperisai keras terus bergerak tanpa henti menguasai setiap jengkal habitat asli dengan sangat agresif.

Populasi ikan sapu-sapu di Indonesia terus meningkat secara masif dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini mulai memicu kekhawatiran publik yang sangat besar.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan melakukan operasi penangkapan dan penguburan massal pada Jumat, 17 April 2026 silam. Langkah ini mereka ambil untuk menekan populasi yang meledak.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan sekitar 60 persen saluran air di Jakarta kini mendapat dominasi penuh dari spesies ini. Ikan sapu-sapu tergolong sebagai ikan invasif karena mampu berkembang biak sangat cepat.

Ikan ini tidak memiliki predator alami yang menghambat pertumbuhannya di perairan Indonesia. Oleh karena itu, keberadaan mereka mengancam kelestarian ikan lokal akibat persaingan makanan dan kerusakan habitat.

Ikan ini awalnya berasal dari wilayah Sungai Amazon di Amerika Selatan. Spesies ini mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970-an silam.

Masyarakat awalnya mengimpor ikan ini untuk membersihkan lumut akuarium melalui perdagangan ikan hias. Sayangnya, banyak pemilik melepaskan ikan ini ke sungai saat ukurannya membesar.

Keadaan tersebut menjadi titik awal penyebaran ikan sapu-sapu yang tidak terkendali di berbagai perairan tawar Indonesia. Hingga saat ini, mereka terus menjajah ekosistem sungai nusantara.

Invasi Spesies Eksotis di Jantung Sungai Ciliwung

Penelitian Reinventarisasi dan Analisis Laju dan Diversitas Ikan di Sungai Ciliwung (2025) menunjukkan hasil yang mengkhawatirkan. Pertumbuhan populasi ikan eksotis kian mengimbangi jumlah ikan asli di sungai tersebut.

Para peneliti menemukan sekitar 49 persen dari total sampel ikan di Sungai Ciliwung merupakan spesies pendatang. Temuan ini menandakan tekanan besar terhadap keanekaragaman hayati asli yang sudah lama ada.

Meskipun temuan spesies ikan asli meningkat 26 persen, jumlah individunya mulai terdesak oleh penghuni baru. Kehadiran mereka yang agresif membuat ikan lokal sulit bertahan hidup.

Berdasarkan jurnal yang sama, ikan sapu-sapu menempati posisi teratas sebagai spesies invasif paling dominan. Peneliti menemukan sebanyak 287 ekor ikan sapu-sapu dalam satu area pengamatan tunggal.

Angka tersebut jauh melampaui jumlah ikan cere yang hanya berjumlah 189 ekor pada posisi kedua. Hal ini menunjukkan dominasi mutlak spesies tersebut di perairan Jakarta.

Dominasi mutlak ikan sapu-sapu mengindikasikan penurunan kualitas lingkungan sungai secara sistematis. Spesies ini memiliki daya tahan tubuh sangat tinggi terhadap pencemaran air.

Mereka bahkan sanggup hidup dalam kondisi kadar oksigen yang sangat rendah sekalipun. Faktor inilah yang membuat mereka sangat sulit kita musnahkan dari sungai.

Ancaman Hama Sungai bagi Ekosistem dan Ekonomi Nelayan

Ikan sapu-sapu sering mendapat julukan sebagai hama karena merusak struktur tanah di dasar perairan. Mereka menggali lubang untuk membuat sarang secara masif di pinggiran sungai.

Aksi mereka memicu erosi dasar sungai dan mengganggu stabilitas lingkungan secara keseluruhan. Selain itu, spesies ini juga gemar memakan telur ikan lain.

Hal ini berakibat pada terhambatnya regenerasi alami ikan lokal di perairan Indonesia. Dampak ekonominya pun sangat buruk karena ikan ini tidak memiliki nilai jual tinggi.

Nelayan sering mengalami kerugian karena jaring mereka penuh dengan ikan berkulit keras ini. Ikan sapu-sapu tersebut tidak laku mereka jual di pasar manapun.

Jika terus dibiarkan, keanekaragaman hayati perairan Indonesia akan turun secara permanen. Kerusakan rantai makanan dapat mengubah seluruh struktur ekosistem sungai kita.

Akibatnya dapat menghilangnya sumber protein alami bagi masyarakat sekitar. Pemerintah perlu segera menangani masalah ini secara serius dan berkelanjutan.

Pengawasan terhadap peredaran ikan hias berbahaya di pasaran harus segera kita perketat. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi agar tidak sembarangan melepas ikan hias ke sungai. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending