By admin
03.03.26

Perang Timur Tengah Memanas: Harga  Naik 19 Persen dalam Hitungan Hari, Siap-siap Barang Ikut Mahal

Serangan militer AS-Israel ke Iran memicu penutupan Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak drastis hingga Rp1,3 juta per barel yang berpotensi mengguncang APBN dan daya beli masyarakat Indonesia./CNBC

MAHAKAMA – Deru jet tempur di langit Timur Tengah dalam hitungan jam mengguncang pasar energi global. Ketegangan geopolitik itu segera merambat hingga ke pompa bensin dan dapur rumah tangga di berbagai negara.

Eskalasi bermula pada Sabtu, 28 Februari 2026, ketika militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara strategis ke Iran. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan memicu respons keras dari Teheran.

Sebagai balasan, Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Sehari kemudian, tiga kapal milik Inggris dan Amerika Serikat dilaporkan terkena serangan di kawasan tersebut. 

Kekhawatiran atas terganggunya pasokan global segera mengerek harga minyak mentah Brent. Data Yahoo Finance 2026 menunjukkan harga melonjak menembus USD 82 atau sekitar Rp 1,3 juta per barel, tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Lonjakan Harga dalam Tren Enam Bulan

Kenaikan tajam ini terjadi setelah periode fluktuasi panjang. Berdasarkan data Yahoo Finance 2026, September 2025, harga Brent berada di kisaran Rp 1,09 juta per barel, lalu turun hingga titik terendah Rp 961,31 ribu pada Januari 2026.

Memasuki Februari 2026, harga mulai pulih ke Rp 1,08 juta per barel. Namun lonjakan paling ekstrem terjadi pada 2 Maret 2026 pukul 14.51 WIB, ketika harga melejit ke Rp 1,30 juta per barel. Nilai ini naik 19,32 persen dalam waktu singkat.

Pergerakan ini menunjukkan pasar lebih sensitif terhadap penutupan Selat Hormuz dibanding aksi militernya. Ancaman terhentinya pasokan dari jalur utama distribusi minyak global menjadi pemicu utama kepanikan harga.

Dampak ke Ekonomi Indonesia

Lonjakan tersebut berimbas langsung ke Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energinya. Kenaikan harga dunia otomatis menambah beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.

Ekonom memperkirakan setiap kenaikan USD 1 per barel dapat menambah beban anggaran hingga triliunan rupiah. Jika harga bertahan tinggi, pemerintah berpotensi memangkas belanja lain atau menambah utang untuk menutup selisihnya.

Dampaknya juga terasa di tingkat rumah tangga. Biaya transportasi dan produksi meningkat, mendorong harga barang ikut naik. Dilansir Antara News (2/3/2026), Bank Indonesia memberi perhatian serius karena tekanan ini dapat melemahkan daya beli, terlebih jika rupiah tertekan terhadap dolar AS.

Dengan demikian, gejolak di Selat Hormuz bukan sekadar isu kawasan, melainkan faktor yang memengaruhi stabilitas ekonomi global dan domestik. Arah harga energi kini sangat bergantung pada langkah diplomasi untuk meredakan ketegangan di jalur vital tersebut. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending