MAHAKAMA – Cahaya redup layar ponsel menerangi wajah-wajah cemas di malam Ramadan. Jemari bergerak cepat membuka aplikasi pendanaan instan untuk menutup kebutuhan hari raya.
Ramadan menjadi bulan penuh berkah bagi banyak orang. Namun, periode ini juga meningkatkan tekanan finansial kelompok ekonomi rentan. Dorongan berzakat dan bersedekah meningkat demi mengejar pahala.
Selain itu, tekanan bertambah ketika harga bahan pangan cenderung naik menjelang Lebaran. Kondisi ini langsung mempersempit ruang belanja rumah tangga.
Di luar kebutuhan pokok, pengeluaran non-esensial sulit dihindari. Tradisi buka puasa bersama, pembelian baju baru dan kue Lebaran menambah beban biaya. Seluruh pengeluaran tersebut terkumpul dalam waktu singkat.
Dalam situasi terdesak, pinjaman online kerap menjadi jalan keluar terakhir.
Lonjakan Utang Pinjaman Online Sepanjang Tahun

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai utang pinjaman online terus meningkat sepanjang 2025. Pada Januari, total utang tercatat Rp 78,5 triliun. Angka ini naik menjadi Rp 80,07 triliun pada Februari.
Kenaikan berlanjut hingga mencapai puncak pada Oktober sebesar Rp 92,92 triliun.
Pola ini menunjukkan ketergantungan pinjaman online bersifat struktural. Utang terbentuk bertahap sebagai respons keterbatasan keuangan rumah tangga.
Ramadan Mempersempit Ruang Keuangan Kelompok Rentan
Tekanan ekonomi semakin terasa saat Ramadan. Jajak pendapat Litbang Kompas Maret 2025 menunjukkan berbagai strategi bertahan hidup. Sebanyak 7,6 persen responden meminjam ke keluarga.
Selain itu, 5,2 persen responden menggadaikan aset berharga seperti emas. Di tingkat tekanan paling ekstrem, 0,2 persen responden menggunakan pinjaman online. Pilihan ini diambil meski berisiko bunga tinggi.
Meski kecil, proporsi ini mencerminkan tekanan finansial yang serius. Pinjol menjadi indikator kondisi ekonomi paling terhimpit.
Otoritas Jasa Keuangan mengaitkan tren ini dengan pemulihan ekonomi yang belum merata. Dilansir CNBC (7/10/2025), OJK mencatat banyak peminjam mengalami gagal bayar. Kondisi ekonomi memburuk menjadi penyebab utama.
Pemerintah menghimbau masyarakat lebih bijak menggunakan fasilitas pendanaan. Langkah ini diperlukan untuk mencegah jebakan utang berulang.
Tekanan Finansial dan Ketergantungan Pinjaman Online
Temuan akademik memperkuat pola tersebut. Studi Marlina, Sri Wahyuni, dan Lika Akana Helmi dengan judul Exploring the Link between Financial Behavior, Financial Stress, and Online Loans among Urban Workers in Medan (2025) meneliti pekerja urban di Medan. Penelitian ini menemukan hubungan kuat antara stres finansial dan pinjaman daring.
Kebutuhan likuiditas mendorong pekerja mengambil risiko ekstrem. Masalah utama bukan sekadar literasi keuangan rendah. Beban hidup yang meningkat menjadi faktor penentu.
Pengelolaan anggaran yang disiplin menjadi kunci perlindungan finansial. Kehati-hatian diperlukan agar kemudahan instan tidak merusak stabilitas jangka panjang. Ramadan seharusnya dirayakan dengan tenang, bukan dibebani utang. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin