By admin
15.02.26

Mitos Magang Cepat Kerja: Data Sakernas Ungkap Pengangguran Lulusan Magang Malah Lebih Tinggi

Banyak anak muda menganggap magang sebagai jalan cepat menuju pekerjaan, namun data CELIOS dari Sakernas Agustus 2025 menunjukkan sebaliknya./Ilustrasi

MAHAKAMA – Ribuan anak muda berlomba mengumpulkan sertifikat magang demi memperkuat CV. Harapannya sederhana, pengalaman kerja sejak bangku kuliah akan mempercepat langkah menuju pekerjaan tetap.

Namun, anggapan tersebut mulai goyah ketika diuji oleh data. Survei CELIOS yang mengolah data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan program magang tidak memberikan dampak signifikan terhadap kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan tetap.

Mayoritas lulusan yang langsung bekerja setelah lulus justru berasal dari kelompok tanpa pengalaman magang. Secara statistik, hanya 5,49 persen lulusan dengan pengalaman magang yang langsung terserap ke dunia kerja. 

Sebaliknya, 94,51 persen yang cepat bekerja berasal dari mereka yang tidak pernah magang.

Realitas Pengangguran pada Kelompok Lulusan Magang

Pola yang sama terlihat pada lulusan yang sudah bekerja sebelum resmi dinyatakan lulus. Mereka yang pernah magang hanya menyumbang 6,12 persen dari kelompok ini. Sementara itu, 93,88 persen posisi tersebut diisi oleh lulusan tanpa pengalaman magang.

Lebih jauh lagi, data menunjukkan tingkat pengangguran pada kelompok yang pernah magang justru lebih tinggi. Pengangguran dengan riwayat magang tercatat sebesar 11,08 persen, dibandingkan 4,98 persen pada kelompok tanpa pengalaman magang.

Secara keseluruhan, tingkat penyerapan tenaga kerja bagi lulusan tanpa magang mencapai 72,01 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan lulusan yang pernah magang yang terserap sebesar 67,55 persen. 

Temuan ini menantang asumsi populer bahwa magang otomatis meningkatkan daya saing lulusan baru.

Kualitas Program Magang Jadi Kunci Utama Kesiapan Kerja

Jika magang tidak berbanding lurus dengan peluang kerja, persoalannya kemungkinan terletak pada kualitas program itu sendiri. 

Banyak skema magang berjalan tanpa kurikulum keterampilan yang jelas dan minim pendampingan mentor. Dalam praktiknya, magang kerap berubah menjadi mekanisme efisiensi biaya perusahaan tanpa transfer pengetahuan yang memadai.

Temuan ini sejalan dengan riset Sakapurnama dan Hasan (2023) berjudul The Effect of Internship Quality Toward Self-Perceived Employability Through the Mediation of Career-Entry Worries. Penelitian tersebut menegaskan bahwa dampak magang sangat bergantung pada kualitas pengalaman yang dijalani, bukan sekadar durasi. 

Magang yang terstruktur terbukti mampu menurunkan kecemasan memasuki dunia kerja dan meningkatkan persepsi kesiapan kerja.

Sebaliknya, ketika tidak dirancang dengan baik, magang hanya menyita waktu produktif lulusan. Karena itu, perbaikan standar mutu dan regulasi menjadi lebih mendesak daripada sekadar menambah kuota peserta. 

Tanpa pengawasan ketat, program magang berisiko menjadi jebakan struktural yang gagal meningkatkan daya tawar pekerja muda di pasar kerja.

Setiap pengalaman seharusnya menjadi tangga menuju karier, bukan sekadar baris tambahan dalam dokumen lamaran. (*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending