MAHAKAMA – Aroma cengkeh yang khas selalu menjadi penanda identitas Indonesia di pasar global. Rokok kretek, warisan budaya yang diolah menjadi komoditas unggul, kini menembus batas-batas negara. Indonesia menunjukkan kekuatan produk khasnya di pasar perdagangan internasional.
Fenomena ini didorong oleh rokok kretek. Rokok kretek merupakan produk khas Indonesia yang dibuat dari campuran tembakau dan cengkeh. Ini berbeda dari rokok konvensional yang hanya berisi tembakau.
Kretek menghasilkan bunyi khas “kretek-kretek” saat dibakar. Sejarah kretek dimulai sejak abad ke-19 di Kudus, Jawa Tengah. Kretek pada awalnya digunakan sebagai obat.
Nilai Ekspor Kretek Capai USD113,38 Juta

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, nilai ekspor rokok kretek Indonesia mencapai Rp1,814 triliun sepanjang Januari hingga Juni 2025. Total berat rokok yang diekspor mencapai 8,53 juta kg. Data ini menegaskan posisi kretek sebagai salah satu komoditas ekspor yang menjanjikan.
Lonjakan ekspor pada 2025 didorong oleh stabilnya permintaan dari Vietnam dan Filipina. Pasar Amerika Latin juga mulai tumbuh karena memandang kretek sebagai produk eksotis bercita rasa unik. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga kretek Indonesia semakin kompetitif di pasar global.
Negara Tujuan Utama Ekspor Rokok Kretek
Sepanjang Januari–Juni 2025, Vietnam menjadi tujuan utama dengan nilai ekspor Rp502,24 miliar dan volume 1,36 juta kg. Di posisi kedua, Singapura mencatat Rp439,68 miliar dengan volume 2,46 juta kg. Total ini sekaligus menegaskan peran Singapura sebagai hub perdagangan ASEAN.
Vietnam menduduki posisi pertama. Ekspor rokok kretek ke Vietnam senilai Rp502,24 miliar. Berat rokok yang diekspor sebesar 1,36 juta kg. Meskipun demikian, berat ekspornya masih kalah dari Singapura.
Singapura mencatat nilai ekspor tertinggi kedua secara nasional, yaitu Rp439,68 miliar. Total berat rokok yang diekspor Singapura mencapai 2,46 juta kg. Angka ini menunjukkan Singapura berfungsi sebagai hub perdagangan utama di kawasan ASEAN.
Di urutan ketiga, Filipina mencatat nilai ekspor rokok kretek mencapai Rp200,96 miliar. Berat rokoknya mencapai 1,22 juta kg. Disusul oleh Malaysia dengan Rp165,28 miliar (848 ribu kg) dan Thailand dengan Rp140,16 miliar (915 ribu kg).
Di luar Asia Tenggara, Indonesia juga mengekspor rokoknya ke berbagai benua. Brasil menjadi pasar utama di Amerika Latin. Nilainya mencapai Rp90,08 miliar (909 ribu kg).
Kemudian ada Paraguay dengan Rp72,32 miliar (95 ribu kg). Timor Leste menyusul dengan nilai Rp71,20 miliar (455 ribu kg).
Jepang senilai Rp23,20 miliar (50 ribu kg). Terakhir, Uni Emirat Arab mencatat nilai ekspor Rp3,44 miliar (832 ribu kg).
Distribusi ekspor kretek Indonesia mayoritas mengalir melalui Singapura sebagai pusat transit dan re-ekspor ASEAN, sebelum masuk ke pasar utama seperti Vietnam dan Filipina. Untuk pasar non-ASEAN seperti Brasil dan Paraguay, ekspor dilakukan melalui distributor tembakau internasional yang menguasai jaringan Amerika Latin.
Kontras dengan Rokok Konvensional
Sementara itu, untuk kategori rokok dan cerutu lainnya (rokok konvensional), nilai ekspornya jauh lebih tinggi. Nilai ekspor rokok konvensional mencapai USD660,7 juta dengan total berat 63,6 juta kg. Ekspor terbanyak masih didominasi negara-negara ASEAN.
Filipina memuncaki daftar ekspor rokok dan cerutu lain. Nilai ekspornya mencapai USD141,9 juta seberat 16,1 juta kg. Di urutan kedua ada Kamboja dengan USD122,8 juta. Beratnya mencapai 15,87 juta kg. Kemudian Jepang mencatat USD74,39 juta (6,91 juta kg).
Kretek: Potensi Niche Market Global
Meskipun nilai ekspor rokok kretek masih lebih kecil dibanding rokok konvensional, kretek memiliki keunggulan yang tidak dimiliki produk lain: keunikan khas Indonesia. Karakter ini menempatkan kretek sebagai pasar ceruk global (niche market), yakni segmen khusus dengan kebutuhan yang spesifik. Dengan posisi ini, kretek tidak perlu bersaing langsung dengan rokok tembakau biasa.
Di kawasan ASEAN, Vietnam tercatat sebagai pasar terbesar kretek Indonesia. Sementara itu, tingginya volume ekspor melalui Singapura menunjukkan peran negara tersebut sebagai hub perdagangan regional, bukan sebagai pasar konsumsi utama.
Pola ini membuka peluang lebih besar ke luar ASEAN. Pemerintah perlu mendorong merek-merek kretek nasional untuk menembus pasar non-ASEAN seperti Amerika Latin, khususnya Brasil dan Paraguay, yang menunjukkan permintaan signifikan. Keunikan kretek harus dimanfaatkan sebagai kekuatan utama untuk mendongkrak devisa. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin