By admin
04.01.26

Bukan Sekadar Tren, Riset Digital Ala Gen Z Dorong Lonjakan Penjualan Produk Kecantikan

Ilustrasi Gen Z menggunakan skincare

MAHAKAMA — Generasi Z (Gen Z) resmi mengukuhkan posisi sebagai pangsa pasar terbesar produk kecantikan.

Meski memiliki kemampuan belanja yang cenderung terbatas dibandingkan generasi sebelumnya, kemahiran mereka dalam melakukan riset melalui media digital berhasil menggenjot tren penjualan produk kecantikan secara signifikan.

Laporan bertajuk “Behaviour in Purchasing Beauty Categories” yang dirilis SOCO Insight Factory oleh peritel produk kecantikan Indonesia, Social Bella pada Januari 2025 mengungkapkan pergeseran demografi pasar.

Gen Z yang berbelanja produk kecantikan terus menjngkat pascapandemi Covid-19. Proporsi konsumen Gen Z (usia 30 tahun ke bawah) mencapai 54 persen, meningkat konsisten dari tahun-tahun sebelumnya. Sebaliknya, pangsa pasar Milenial menyusut menjadi 41% persen, disusul Generasi X yang hanya tersisa 4 persen.

Bagi Gen Z, perawatan diri kini telah bergeser dari sekadar hobi menjadi kebutuhan pokok yang menyaingi kebutuhan dasar.

Dini Aryanti (20), seorang mahasiswi asal Balikpapan, mengaku mulai peduli pada penampilan sejak SMA karena pengaruh kuat influencer di media sosial.

“Karena sering lihat konten influencer kecantikan, saya jadi perhatian sama perawatan diri. Minimal pakai sunscreen dan lip tint kalau keluar rumah,” ujar Dini.

Ia menambahkan bahwa tren merias diri di kalangan mahasiswi kini sangat lumrah, didukung oleh banyaknya pilihan produk yang multifungsi namun tetap ramah di kantong pelajar.

“Aku cari (di Google) dulu sih, fungsi dari bahannya apa, bahkan sering lihat review orang lain,” ucapnya.

Salah satu temuan menarik dalam laporan Social Bella adalah tingginya literasi digital Gen Z terhadap produk kecantikan.

Sebanyak 71 persen Gen Z aktif melakukan riset daring terkait kandungan bahan baku dan fungsi produk sebelum membeli. Angka ini jauh melampaui generasi Milenial yang hanya berada di angka 29 persen. Kemampuan riset ini membuat Gen Z sangat responsif terhadap produk yang tengah tren.

Menariknya, meski riset dilakukan secara daring, Gen Z dan Milenial mulai kembali melirik toko fisik luar jaringan untuk melakukan transaksi. Tingkat ketergantungan belanja di toko fisik kini mencapai 66 persen.

Terkait daya beli, Gen Z tetap mencerminkan status mereka sebagai pelajar atau pekerja muda. Data Social Bella menunjukkan 48 persen produk di keranjang belanja mereka berharga di bawah Rp150 ribu, 35 persen membeli produk di kisaran Rp150 ribu – Rp300 ribu, dan hanya 17 persen yang mampu menjangkau produk di atas Rp300 ribu.

Meski demikian, Social Bella mencatat, pembeli generasi Z mampu menggenjot penjualan sejumlah produk tren di 2023 melebihi pembeli milenial. Salah satu contohnya, gen Z meningkatkan penjualan produk eau de parfum hingga 304 persen daripada pembeli milenial yang hanya 160 persen.

Kecenderungan itu dihubungkan dengan pemahaman generasi Z yang lebih spesifik terkait produk kecantikan karena kebiasaan mereka melakukan riset di platform daring.

Kendati demikian, dua generasi ini sama-sama memprioritaskan produk dengan nilai dan kualitas terbaik, termasuk keberlanjutan produknya.

Fenomena dominasi Gen Z ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku industri kecantikan untuk terus berinovasi, baik dari segi harga maupun transparansi kandungan produk. Dengan karakter konsumen yang semakin kritis dan melek digital, merek yang mampu memadukan kualitas, harga terjangkau, serta nilai keberlanjutan diprediksi akan tetap memimpin pasar di masa depan. (*)

Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin

Trending