By admin
07.10.25

Quiet Covering, Strategi Gen Z Bertahan di Dunia Kerja

TATAPAN datar Gen Z di kantor sering orang anggap tanda bosan. Namun, di balik ekspresi tanpa emosi itu, mereka sebenarnya sedang menjalankan strategi bertahan hidup yang disebut quiet covering.

Apa Itu Quiet Covering?

Dilansir CNBC Indonesia (18/9/2025), mengutip Forbes, quiet covering berarti kecenderungan pekerja, terutama Gen Z, menyembunyikan identitas atau perasaan pribadi agar tetap terlihat profesional. Mereka menekan ekspresi diri supaya terhindar dari stereotip, diskriminasi, atau penilaian negatif.

Fenomena ini bukan hal baru. Profesor Kenji Yoshino pertama kali memperkenalkan istilah covering untuk menggambarkan praktik menyamarkan identitas, mulai dari ras, gender, usia, agama, hingga disabilitas. Kini tren itu muncul kembali dalam bentuk quiet covering di lingkungan kerja modern.

Kenapa Gen Z Melakukannya?

Survei Attensi terhadap 2.000 karyawan lintas industri menemukan 58 persen responden menyembunyikan kelemahan kompetensi atau melakukan skill masking. Sebanyak 40 persen bahkan memilih tidak meminta bantuan meski kesulitan.

Penelitian Hu-X x Hi-Bob juga menunjukkan 97 persen karyawan pernah melakukan covering, dengan 67 persen melakukannya sering. Mereka menyebut beberapa alasan: menjaga citra profesional (55 persen), mencari penerimaan sosial (48 persen), menghindari diskriminasi (46 persen), serta mengejar promosi atau bonus (46 persen).

Gen Z menempati posisi paling tinggi dalam praktik ini. Mereka dua kali lebih mungkin menyembunyikan identitas dibanding generasi boomer. Bahkan, 56 persen Gen Z mengaku menutup diri justru kepada HR. Identitas yang paling sering mereka sembunyikan mencakup kesehatan mental, kebiasaan perawatan diri, hingga pengalaman masa lalu.

Apa Manfaat Quiet Covering?

Bagi sebagian Gen Z, quiet covering memberi keuntungan jangka pendek. Mereka merasa lebih aman secara sosial, lebih cepat diterima lingkungan, dan lebih mudah dipandang profesional. Studi menyebut strategi ini bisa meningkatkan peluang promosi, menjaga citra di mata atasan, hingga memperbaiki penilaian kinerja tahunan.

Namun, strategi itu juga membawa risiko besar. Survei Hu-X x Hi-Bob mencatat tujuh dampak negatif: meningkatkan stres (64 persen), menurunkan keterlibatan kerja (56 persen), menghambat perkembangan karier (40 persen), membatasi kreativitas (55 persen), hingga menurunkan kinerja (47 persen).

Tantangan di Tempat Kerja

Data ini memperlihatkan bahwa dunia kerja modern tidak hanya menuntut skill teknis. Pekerja muda juga harus bernegosiasi dengan norma budaya perusahaan yang menuntut citra “sempurna”, bahkan dengan mengorbankan identitas asli mereka.

Tatapan datar Gen Z seharusnya tidak dibaca sebagai tanda malas. Sebaliknya, ekspresi itu mencerminkan cara mereka melindungi diri dari tekanan yang tidak selalu terlihat. Di balik sikap tenang itu, mereka berusaha menyesuaikan diri dengan sistem kerja yang keras. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending