By admin
06.11.25

Makna Mendalam Rambu Solo: Tradisi Penghormatan Leluhur Toraja yang Jadi Candaan Komika

Dok. infobudaya.net

MAHAKAMA — Upacara adat Rambu Solo’, ritual pemakaman khas masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan, kembali menjadi sorotan nasional setelah cuplikan lawas dari komika Pandji Pragiwaksono mengenai tradisi tersebut viral dan menuai kecaman luas.

Kontroversi ini kembali mengangkat pentingnya pemahaman mendalam tentang makna dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Rambu Solo’.

Makna Hakiki Rambu Solo’: Menyempurnakan Kematian dan Mengantar Arwah

Rambu Solo’ bukanlah sekadar pesta atau ritual biasa, melainkan sebuah upacara sakral yang memiliki makna filosofis dan spiritual yang sangat dalam bagi penganut kepercayaan Aluk Todolo dan masyarakat Toraja secara umum.

Sebelum upacara besar digelar, jenazah diperlakukan dengan sangat hormat, seolah-olah masih sakit atau tidur (tomate). Perlakuan ini menunjukkan kasih sayang yang tak terputus antara yang hidup dan yang telah meninggal.

Tujuan utama Rambu Solo’ adalah untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal menuju alam roh—disebut Puya, tempat peristirahatan abadi bersama para leluhur. Masyarakat Toraja meyakini bahwa seseorang baru dianggap benar-benar meninggal setelah Rambu Solo’ terlaksana sempurna.

Pengurbanan kerbau (tedong) dan babi dianggap penting. Kerbau dipercaya sebagai kendaraan yang akan ditunggangi arwah menuju Puya. Jumlah dan jenis kerbau, khususnya tedong bonga,sering kali melambangkan tingkat sosial dan kemuliaan mendiang.

Pelaksanaan Rambu Solo’ mencerminkan nilai-nilai gotong royong, solidaritas, dan kekeluargaan yang kuat. Seluruh keluarga besar, bahkan kerabat dari perantauan, akan berpartisipasi dan berkontribusi, menjadikannya ajang pemersatu dan penunjuk status sosial.

Candaan Pandji Pragiwaksono dan Gelombang Kecaman

Potongan video lawas stand-up comedy Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan “Mesakke Bangsaku” pada tahun 2013 kembali beredar dan memicu protes keras dari berbagai pihak, mulai dari warganet, tokoh adat, hingga organisasi masyarakat Toraja.

Screenshot dari video Pandji Pragiwaksono/Istimewa

Materi candaan tersebut dinilai mengabaikan nilai spiritual tradisi dan melecehkan identitas budaya Toraja. Pertama, pernyataan yang menyebut tradisi Rambu Solo’ menjadi penyebab kemiskinan masyarakat Toraja karena biayanya yang mahal. Kedua, penggambaran yang menyindir jenazah disimpan di ruang tamu atau depan TV—sebuah representasi yang dinilai tidak akurat dan sangat menyinggung.

Tokoh-tokoh adat dan masyarakat Toraja menegaskan bahwa Rambu Solo’ adalah wujud penghormatan dan cinta kasih kepada leluhur, bukan sekadar pesta kemewahan. Mereka menuntut Pandji untuk meminta maaf secara terbuka dan bahkan menghadapi potensi sanksi adat berupa denda kerbau sebagai upaya pemulihan kehormatan budaya.

Pandji Pragiwaksono sendiri telah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui bahwa materi lawakannya bersifat ignorant (kurang pengetahuan) dan tidak peka. Ia menyatakan siap menjalani proses dialog dan menghormati proses hukum serta adat yang berlaku.

Isu ini kembali menekankan pentingnya sensitivitas budaya dan penghormatan terhadap warisan tradisi Nusantara, terutama bagi figur publik yang memiliki jangkauan luas. Rambu Solo’ adalah kekayaan bangsa yang sarat makna, dan pemahaman yang utuh adalah kunci untuk menghargai keberagaman Indonesia.


Penulis : Desy Alvionita
Editor : Amin

Trending