MAHAKAMA — Fenomena menjamurnya kafe di Kota Tepian, Samarinda, bukan lagi sekadar tren wisata kuliner atau tempat hangout.
Bagi generasi muda Samarinda, tempat-tempat ini telah bertransformasi menjadi “rumah kedua” yang menawarkan lebih dari sekadar secangkir minuman, melainkan juga ruang untuk berkarya, bersosialisasi, dan melepaskan penat dari rutinitas harian.
Geliat bisnis kedai kopi di Samarinda terus meningkat pesat, bahkan setelah masa pandemi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan, terdapat lebih dari 30.000 unit kafe di Indonesia. Angka ini terus bertambah dari tahun ke tahun seiring pertumbuhan bisnis yang signifikan di sektor ini.
Sementara itu, berdasarkan data terbaru yang dilansir dari situs RentechDigital (SmartScraper) dalam laporan List Of Coffee shops in East Kalimantan per 23 Januari 2025, Kota Samarinda menempati posisi teratas sebagai daerah dengan jumlah kafe terbanyak di Kalimantan Timur, dengan total 798 unit kafe.
Konsep kafe di Samarinda yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari nuansa open space minimalis, seperti Braga di Jalan A. Wahab Sjahranie, atau konsep homey seperti Bhumi di Jalan APT Pranoto, hingga yang bertema unik yang Instagrammable seperti Kopi Ngegasss di Jalan Danau Semayang.
Ruang Produktivitas dan Kreativitas

Kafe di Samarinda kini menjadi basecamp utama bagi para pelajar dan mahasiswa. Mereka berbondong-bondong datang ke kafe bukan hanya untuk minum kopi, tetapi juga untuk mengerjakan tugas kuliah, skripsi, atau bahkan Work From Cafe (WFC) bagi pekerja muda.
Anggi (22), seorang mahasiswi tingkat akhir dari Universitas Mulawarman, mengakui peran kafe yang menunjang aktivitasnya.
“Jujur, kalau ngerjain skripsi di rumah itu cepat bosan. Di kafe, suasananya tenang tapi tetap hidup. Ada Wi-Fi kencang, colokan (stop kontak listrik) juga aman. Ngelihat orang lain produktif juga jadi semangat,” ujar Anggi.
Aspek visual kafe, atau Instagramable, menjadi magnet utama. Selain desain interior yang menarik, beberapa kafe di Samarinda kini berinovasi dengan menambahkan fasilitas photobox, seperti Pot O Koffie di Jalan Angklung, Laris Coffee di Citra Niaga, serta Koga Coffee di Jalan A. Wahab Sjahranie.
Fasilitas ini bukan hanya hiburan, tetapi juga memenuhi kebutuhan anak muda untuk mengabadikan momen secara cepat dan unik, lalu membagikannya di media sosial.
Lebih dari itu, kafe telah menjadi wadah ide-ide kreatif. Komunitas, startup kecil, hingga pegiat seni sering menjadikan kafe sebagai ruang kolaborasi.
Tantangan “Rojali” dan Strategi Pemilik Kafe
Meskipun kafe ramai dikunjungi, pemilik usaha dihadapkan pada tantangan “Rojali” — akronim dari rombongan jarang beli.
Rojali merujuk pada pengunjung yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk nugas, nongkrong atau main game, secara intensif menggunakan fasilitas Wi-Fi dan listrik, namun hanya memesan menu termurah atau tidak sama memesan sekali.
Rizky (34), pemilik salah satu kafe di kawasan Siradj Salman, membenarkan adanya tantangan ini.
Ia menceritakan bahwa pernah ada segerombolan anak muda yang datang ke kafenya. Jika dilihat dari tampang dan kendaraannya terlihat seperti orang berada.
Namun, dari enam orang itu, hanya dua orang yang memesan minuman, itupun hanya kopi dengan harga Rp18.000 per gelasnya. Sementara itu, empat orang lainnya mengeluarkan minuman yang mereka bawa dari luar. Menurut Rizky, tabiat rojali itu tidak hanya sekali. Dalam sebulan, mereka bisa empat kali berkunjung ke kafenya.
Untuk mengatasi “teror” Rojali tanpa harus mengusir pengunjung, Rizky menerapkan beberapa strategi seperti memasang papan bertuliskan “Terima kasih karena tidak membawa makanan atau minuman dari luar”.
Rizky juga mengaku bahwa kadang menyindir halus rojali dengan mengonfirmasi jumlah pesanan rombongan tersebut. Kalimat “Kopi susu gula arennya empat ya, kak” Rizky sampaikan kepada enam orang yang ada di meja tersebut dengan penekanan pada jumlah pesanan.
Siasat ini dilakukan bukan karena Rizky tidak suka kafenya menjadi rumah kedua, melainkan karena tabiat rojali yang berpengaruh terhadap pemasukan. Siapa pemilik kafe yang tak ingin kafenya ramai? Tentu saja tidak ada. Tapi tidak hanya ramai pengunjung, pemilik juga ingin ramai pembeli.
“Duduk dari buka sampai mau tutup, tapi cuma pesan segelas kopi. Biaya operasional seperti listrik dan Wi-Fi jadi enggak tertutup,” jelas Rizky.
Kafe di Samarinda telah melampaui fungsinya sebagai tempat makan dan minum. Dengan suasana yang hangat, fasilitas yang lengkap, dan sebagai ruang interaksi, kafe berhasil menjadi wadah produktivitas dan kenyamanan yang diakui oleh anak muda sebagai ‘rumah kedua’ mereka.
Yang perlu dikuatkan adalah empati dalam budaya nongkrong anak muda di rumah keduanya itu. Sebab, hubungan antara pengunjung dan pemilik kafe tidak perlu sepahit espreso. Jika berlandaskan empati, hubungan ini bisa semanis kopi susu gula aren.(*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin