By admin
19.10.25

Gen Z Melek Investasi, Tetapi 65 Persen Sulit Beli Rumah dalam 3 Tahun

DERAP langkah kaki di pusat kota bercampur dengan notifikasi aplikasi saham. Generasi Z menjalani usia produktif di tengah dua realitas kontradiktif: mereka cerdas finansial tetapi harga rumah impian terasa makin jauh.

Memiliki rumah merupakan dambaan dan simbol kemandirian. Namun demikian, tantangan struktural pada sistem perumahan membuat mimpi ini sulit diwujudkan. Data BPS 2019 menunjukkan setidaknya 81 juta anak muda Indonesia belum memiliki hunian sendiri.

Kesenjangan Gaji dan Harga Rumah

Faktor utama muncul dari persoalan ekonomi. Survei Inventure (2025) menunjukkan 65 persen Gen Z pesimistis dapat membeli rumah dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Angka ini mencerminkan seriusnya persoalan kepemilikan hunian.

Survei yang sama mengungkap 59 persen Gen Z kesulitan menabung untuk uang muka (DP) rumah. Selain itu, 47 persen terhambat oleh kenaikan harga rumah yang jauh melampaui pertumbuhan upah. Harga rumah di Jabodetabek meningkat pesat, sementara pendapatan rata-rata Gen Z cenderung stagnan.

Dengan penghasilan di kisaran Rp 5 juta hingga Rp 12 juta per bulan (BPS 2024), mencicil rumah terasa ekstrem. Akibatnya, menyewa hunian dirasa lebih realistis. Rumah terjangkau berada di daerah pinggiran yang jauh dari pusat aktivitas. Kondisi ini membuat skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terasa berat. KPR berat dari sisi finansial, efisiensi waktu, dan kenyamanan hidup.

Fleksibilitas dan Perawatan Diri Jadi Prioritas

Kesulitan memiliki rumah tidak berarti Gen Z lemah finansial. Sebaliknya, generasi ini justru lebih disiplin dan melek investasi dibandingkan Milenial. Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2024 mencatat, 26 persen Gen Z rutin menyisihkan penghasilan untuk investasi di reksa dana, emas, dan aset digital. Bahkan, lebih dari 60 persen investor kripto kini berusia antara 18 hingga 30 tahun. Namun demikian, alokasi pengeluaran Gen Z menunjukkan pergeseran nilai.

Survei lain mengungkapkan 21 persen penghasilan digunakan untuk perawatan diri, 20 persen untuk pakaian, dan 14 persen untuk makan di luar. Meskipun tampak konsumtif, pengeluaran ini merupakan bagian dari self-care dan work-life balance. Mereka menganggapnya penting untuk menjaga kesehatan mental dan produktivitas.

Banyak Gen Z memilih fleksibilitas dibandingkan kepemilikan jangka panjang. Menyewa apartemen di pusat kota dengan akses mudah dianggap lebih efisien ketimbang membeli rumah di pinggiran.

Paradigma Baru tentang “Rumah”

Gen Z memandang “rumah” secara berbeda. Generasi sebelumnya memandang rumah sebagai simbol kesuksesan. Bagi Gen Z, rumah adalah ruang fungsional yang menunjang kenyamanan, fleksibilitas, dan produktivitas. Entah dimiliki, disewa, atau dibagi (co-living), kualitas hidup menjadi yang terpenting. Tren co-living space, apartemen mikro, dan hunian modular menjadi alternatif baru. Anak muda urban mencari keseimbangan antara harga, lokasi, dan kenyamanan.

Mimpi memiliki rumah tetap hidup. Gen Z mungkin menunda memilikinya. Tetapi, mereka terus mencari cara cerdas untuk beradaptasi di tengah tantangan ekonomi dan gaya hidup modern. Mereka memanfaatkan investasi digital, properti ramah lingkungan, dan konsep hunian fleksibel. Mimpi memiliki rumah kini berubah bentuk dan cara, mengikuti perkembangan zaman. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending