By admin
04.11.25

Dari Mahakam ke Rotterdam: Samarinda Menuju Kota Tepi Sungai Kelas Dunia

Potret teras Samarinda tahap pertama.

MAHAKAMA – Siapa bilang kota di tepian sungai enggak bisa tampil keren seperti kota besar dunia? Lihat saja Teras Samarinda tahap II. Progres proyek andalan Pemerintah Kota Samarinda ini sekarang sudah mencapai 60 persen. Ditargetkan rampung pada akhir 2025.

Kepala Dinas PUPR Samarinda, Desy Damayanti, menyebut proyek ini dibagi jadi tiga segmen dengan jenis pekerjaan yang beda-beda.

“Teras tahap dua terdiri dari tiga segmen, masing-masing punya pelaksana sendiri. Secara keseluruhan progresnya udah hampir 60 persen,” kata Desy.

Tiga segmen itu antara lain:

  1. Depan Kantor Gubernur Kaltim – fokus bangun jalan di atas sungai,
  2. Depan Pasar Pagi – penataan taman dan drainase sepanjang 300 meter,
  3. Area Dermaga – pembangunan fasilitas dermaga baru dan ruang publik tepi air.

Desy mengatakan, sejauh ini semua berjalan lancar tanpa kendala berarti. “Biasanya kendala di lahan, tapi kali ini semua udah siap. Jadi tinggal dikerjakan aja,” jelasnya.

Nilai proyeknya sekitar Rp80 miliar, dan jadi salah satu program penting di bawah visi “Samarinda Maju untuk Kaltim Maju” yang artinya kota ini lagi serius banget mempercantik wajahnya biar makin layak huni dan punya daya tarik wisata.

Belajar dari Kota-Kota Dunia yang Hidup dari Sungai

Kalau dengar soal Teras Samarinda, mungkin kebayang suasana sungai yang tenang, taman hijau, dan jalur pejalan kaki yang rapi. Nah, konsep ini sebenernya mirip dengan apa yang udah sukses di beberapa kota besar dunia.

Di Singapura, misalnya, ada Marina Bay, kawasan tepi laut yang dulunya cuma pelabuhan, tapi sekarang jadi simbol modernisasi. Di sana, ruang publik, taman, dan gedung pencakar langit berpadu rapi, tapi tetap ramah lingkungan. Banyak kota di Asia menjadikannya inspirasi, termasuk Samarinda.

Lalu ada Seoul dengan proyek Cheonggyecheon Stream. Dulunya sungai itu ketutup jalan layang dan kumuh, tapi pemerintah Seoul berani bongkar jalan itu buat hidupin lagi aliran airnya. Hasilnya? Sekarang sungai itu jadi tempat nongkrong favorit warga dan wisatawan, lengkap dengan jalur pejalan kaki, lampu artistik, dan area hijau.

Sementara Rotterdam di Belanda punya konsep keren: “Living with Water”. Mereka nggak melawan air, tapi hidup berdampingan dengannya. Taman-taman dan area publik di sana bisa tetap berfungsi walau pasang naik. Samarinda juga bisa meniru semangat itu, apalagi posisinya di tepi Sungai Mahakam yang punya karakter mirip.

Teras Mahakam, Wajah Baru Kota Tepian

Buat warga Samarinda, Teras Mahakam ini bukan cuma proyek beton dan taman. Nantinya, kawasan ini bakal jadi tempat warga jalan sore, nongkrong, atau wisata kuliner sambil lihat matahari terbenam di Mahakam. Pemerintah juga berharap, kawasan ini bisa jadi pusat kegiatan ekonomi baru, terutama buat UMKM dan pelaku wisata lokal.

Dengan APBD 2025 sekitar Rp5,8 triliun, Pemkot terus dorong pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Harapannya, Teras Samarinda bisa jadi contoh bahwa kota di tepian sungai juga bisa tampil modern dan membanggakan kayak Seoul, Rotterdam, atau bahkan Marina Bay di Singapura.

“Kalau kita bisa olah sungai jadi wajah kota, Samarinda nggak kalah sama kota mana pun,” kata Desy dengan optimis.

Menuju Kota Tepian yang Hidup dan Modern

Begitu proyek ini selesai nanti, Teras Samarinda tahap dua akan jadi bukti nyata perubahan wajah kota: dari tepian yang dulu biasa aja, jadi ruang publik keren yang hidup, hijau, dan fotogenik.

Bukan cuma soal bangunan, tapi tentang cara warga menikmati kotanya sendiri berjalan di tepi Mahakam, menikmati taman, atau sekadar duduk sambil lihat perahu melintas.

Karena pada akhirnya, kota maju itu bukan cuma yang punya gedung tinggi, tapi yang bisa bikin warganya betah hidup di dalamnya. Dan Samarinda, pelan tapi pasti, lagi menuju ke arah sana. (*)

Penulis: Tirta

Editor: Amin

Trending