SUARA DEDAUNAN berdesir di hutan tropis Balikpapan. Dari balik pepohonan, seekor beruang mungil bergerak lincah. Dialah beruang madu, satwa yang bukan hanya menggemaskan, tetapi juga menjadi simbol resmi Kota Balikpapan.
Pemerintah Kota Balikpapan menetapkan beruang madu sebagai maskot resmi pada 2002. Julukan khas kota ini, Bumi Manuntung, merujuk pada sosok beruang madu. Penetapan itu lahir karena satwa ini berperan menjaga ekosistem hutan, sekaligus hasil dari dorongan penelitian panjang di Hutan Lindung Sungai Wain.
Sejarah Jadi Maskot Balikpapan
Situs resmi Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) menjelaskan alasan pemilihan beruang madu. Satwa ini melambangkan jiwa pejuang dan penjaga hutan yang setia. Identitas tersebut menunjukkan komitmen Balikpapan melestarikan alam.
Ketertarikan publik mulai tumbuh sejak 1997. Saat itu, peneliti asal Belanda, Gabriella Fredriksson, meneliti beruang madu di Hutan Lindung Sungai Wain. Penelitiannya melahirkan program konservasi yang langsung menarik perhatian media lokal. Sejak saat itu, gagasan menjadikan beruang madu sebagai maskot makin kuat hingga pemerintah meresmikannya pada 2002.

Beruang Terkecil di Dunia
Beruang madu (Helarctos malayanus) dikenal sebagai beruang terkecil di dunia. Tubuhnya hanya sepanjang 1,4 meter dengan tinggi punggung 70 sentimeter dan berat 30–65 kilogram. Ukurannya jauh lebih mungil dibandingkan jenis beruang lain.
Selain ukurannya, ciri khas beruang madu tampak pada bulu hitam kecokelatan dengan tanda berbentuk matahari terbit di dada. Corak itu bisa berwarna oranye, kuning, atau putih. Matanya pun bervariasi, cokelat atau biru. Meskipun kecil, beruang madu mampu berlari hingga 48 kilometer per jam dan piawai memanjat pohon.
Penyebar Biji dan Pencinta Madu
Sebagai hewan nokturnal, beruang madu aktif mencari makan pada malam hari. Mereka gemar mengonsumsi madu, buah, serangga, hingga burung kecil. Saat menelan buah utuh, beruang madu ikut menyebarkan biji tanaman besar seperti durian dan cempedak melalui kotoran.
Setiap malam, beruang madu bisa berjalan delapan kilometer untuk mencari makanan. Saat membongkar tanah, mereka mempercepat proses penguraian alami. Aktivitas itu menjadikan beruang madu sebagai penopang penting keseimbangan ekosistem hutan tropis.

Ancaman Serius bagi Populasi
Populasi beruang madu terus menurun akibat pembukaan lahan sawit, tambang batu bara, kebakaran hutan dan perburuan liar. Pemburu masih membidik organ tubuh beruang madu untuk pengobatan tradisional.
Kehilangan habitat juga mendorong beruang madu masuk ke kebun warga. Konflik dengan manusia kerap terjadi dan semakin mengancam kelestarian satwa ini.
Sejak 1973, berbagai pihak gencar melakukan upaya konservasi. Balikpapan menjadi salah satu pusat penyelamatan penting melalui KWPLH yang berlokasi di Jl. Soekarno-Hatta KM 23, Karang Joang.
Di area hutan seluas 1,3 hektare, tujuh ekor beruang madu kini hidup aman setelah petugas menyelamatkan mereka dari perdagangan ilegal dan pemeliharaan warga. Pusat konservasi ini bahkan mendapat pengakuan sebagai salah satu yang terbaik di Asia.
Selain menjadi tempat edukasi, KWPLH memperlihatkan komitmen nyata Balikpapan menjaga maskot kotanya tetap lestari. Fenomena beruang madu di kota ini membuktikan eratnya hubungan satwa dengan identitas daerah. Kini, jika dulu warga menjadikannya maskot kebanggaan, tanggung jawab kita adalah memastikan mereka tetap hidup lestari.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin