SAMARINDA penuh deru kendaraan. Denyut kota terasa semakin sempit. Jalanan yang padat kini menuntut perubahan.
Transportasi adalah urat nadi perekonomian. Tanpa moda yang layak, pergerakan warga ikut tersendat. Karena itu, sistem angkutan di Samarinda harus menyesuaikan zaman.
Dilansir Kaltim Post (18/9/2025), Dinas Perhubungan Samarinda menegaskan angkot tidak lagi bisa diandalkan. Kepala Dishub Hotmarulitua Manalu menyebut angkot sudah tidak memenuhi standar aman dan nyaman.
Pemerintah menyiapkan bus transportasi massal yang mulai beroperasi 2026. Terminal utama berada di Pelabuhan Samarinda, dekat Pasar Pagi. Ada 7 trayek utama dan 6 trayek feeder. Bus hanya boleh berhenti di halte resmi agar lalu lintas lebih tertib.
Rencana Besar Sambungkan IKN
Pemerintah juga menyiapkan jalur kereta api. Proyek ini masuk Rencana Induk Perkeretaapian Nasional dan akan menghubungkan Samarinda dengan Ibu Kota Nusantara. Namun, pembangunan baru bisa dimulai sekitar 2030.
Hotmarulitua menegaskan integrasi moda transportasi akan membuka akses ekonomi baru. “Konektivitas akan mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk ke daerah terpencil seperti Hulu Mahakam,” ujarnya.
Sejalan Tren Global
Pengamat menilai langkah Samarinda mengikuti tren global. Kota besar Asia banyak mengganti angkutan kecil dengan bus massal terintegrasi. Perubahan itu tidak hanya membuat lalu lintas lebih tertib, tetapi juga menurunkan polusi dan meningkatkan kenyamanan penumpang. Karena itu, kebijakan Samarinda dinilai tepat agar kota tidak tertinggal.
Warga Samarinda berharap layanan baru benar-benar terwujud. Pengalaman buruk naik angkot seperti sempit, panas, dan rawan kecelakaan masih membekas. Oleh sebab itu, masyarakat menunggu bukti nyata dari janji bus massal dan proyek kereta api.
Transportasi tidak hanya soal jalan dan halte. Ia menyangkut hak publik untuk bergerak dengan aman, cepat, dan adil. Jika janji ini benar terealisasi, bus massal dan kereta api akan menjadi warisan penting bagi Samarinda. (*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin