By admin
15.11.25

Alarm Bahaya Perceraian di 2025: Ketika Kemandirian Bertemu Standar TikTok

Alarm Bahaya Perceraian di 2025: Ketika Kemandirian Bertemu Standar TikTok/Ilustrasi

MAHAKAMA — Isu perceraian selebriti dan influencer di Indonesia belakangan ini kian riuh di media sosial, mulai dari kasus penipuan, perselingkuhan, hingga ‘mokondo’. Fenomena ini menjadi puncak gunung es dari tingginya angka perpisahan rumah tangga di Indonesia.

Pada tahun 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 399 ribu kasus perceraian di Indonesia. Meskipun angka ini relatif turun dari tahun sebelumnya yang berjumlah 408 ribu, tetapi di tahun 2024 angka pernikahan juga turun.

Penurunan angka pernikahan yang tajam membuat rasio perceraian tetap mengkhawatirkan. Angka tersebut setara dengan rata-rata 1.000 kasus perceraian setiap hari—sebuah alarm keras bagi ketahanan keluarga di Indonesia.

Data BPS menyatakan 75 persen dari total kasus perceraian adalah cerai gugat. Dalam Kompilasi Hukum Islam, makna cerai gugat adalah gugatan yang diajukan oleh istri. Ini menunjukkan mayoritas perceraian diinisiasi oleh perempuan. Lalu pertanyaannya, kenapa para istri aktif minta udahan?

Pergeseran Kekuatan dan Kemandirian Ekonomi Perempuan

Fakta menarik dari data Kementerian Agama (Kemenag) RI menunjukkan, dari 93 persen perceraian yang diajukan perempuan, 73 persen adalah perempuan yang mapan secara ekonomi.

Kemandirian finansial istri menjadi faktor krusial. Semakin banyak perempuan di Indonesia yang memiliki penghasilan sendiri, yang membuat mereka mandiri secara finansial.

Dr. Rina Widyanti, S.Psi., M.A, seorang Psikolog Keluarga menyatakan bahwa ketika perempuan memiliki penghasilan sendiri, ketergantungan ekonomi yang dulu memaksa mereka “bertahan” dalam pernikahan yang tidak memuaskan perlahan menghilang.

“Dulu, istri mungkin menoleransi suami yang cuek asal kebutuhan dapur terpenuhi. Sekarang, mereka memiliki pilihan untuk pergi jika standar kemitraan dan kesejahteraan emosional tidak terpenuhi,” ucap Rina.

Di sisi lain, muncul fenomena ‘standar TikTok’. Banyak perempuan, terutama generasi muda, menetapkan ekspektasi pasangan yang kurang realistis, seperti selalu diantar-jemput, selalu dibelikan hadiah, hingga tuntutan gaji pasangan yang mencapai Rp25 juta.

Tangkapan Layar Tiktok @kutipanx/Istimewa


Sementara itu, hasil survei Salary Explorer menyatakan, hanya 5 persen orang Indonesia yang memiliki gaji di atas Rp22 juta. Artinya, mendapatkan laki-laki dengan standar gaji Rp25 juta ini adalah hal yang ‘langka’ di Indonesia.

Menurut Rina, standar tiktok ini berbahaya karena hanya akan menciptakan ilusi dalam membangun hubungan.

“Ini adalah diskoneksi antara realitas ekonomi dan citra kemewahan di media sosial, yang akhirnya memicu ketidakpuasan dalam rumah tangga sehari-hari,” ujarnya.

Data Pengadilan Agama mencatat, ada 3 alasan utama perceraian di Indonesia. Pertama, perselisihan dan pertengkaran yang terus-menerus. Kedua, faktor ekonomi seperti suami gagal memberi nafkah, tidak bertanggung jawab secara finansial, hingga terlilit judi online atau pinjaman online. Dan alasan terakhir yaitu meninggalkan pasangan.

Tekanan ekonomi juga menjadi penyebab stres yang tinggi dalam rumah tangga. Masalah inflasi, PHK, atau pendapatan yang memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal-hal ini seringkali memicu konflik dan ketidakpuasan pernikahan, hingga berujung pada perceraian.

Ekspektasi yang Tinggi

Menurut teori The Suffocation Model yang dikemukakan oleh psikolog Eli J. Finkel, alasan perceraian meroket bukan karena generasi yang buruk dalam pernikahan, melainkan karena ekspektasi terhadap pernikahan yang terlalu tinggi.

Eli J. Finkel membagi sejarah pernikahan menjadi tiga era.

  • Era 1850-an (Bertahan Hidup): Menikah untuk keamanan, makanan, dan tempat tinggal.
  • Era 1850-1965 (Cinta dan Persahabatan): Menikah untuk mencari cinta, romansa, dan membangun keluarga yang penuh kasih sayang.
  • Era 1965-sekarang (Aktualisasi Diri): Menikah untuk cinta, persahabatan seperti era kedua, dan juga menjadi sarana penemuan jati diri serta menjadi versi terbaik diri.

Pasangan modern menuntut pasangannya untuk menjadi segalanya: pencari nafkah, sahabat, personal coach, dan guru spiritual. Bisa dibayangkan, betapa beratnya menjadi suami atau istri di abad ini?

Menumpuk begitu banyak ekspektasi psikologis yang berat ke bahu satu orang (pasangan) hampir pasti akan berakhir dengan kegagalan, yang akhirnya dilihat sebagai kegagalan pernikahan dan berujung pada perceraian.

Rina menyebut konsep pernikahan di era ini adalah “all in or nothing“; harus memenuhi semua ekspektasi setinggi langit atau gagal sama sekali.

“Generasi Milenial dan Gen Z mencari kemitraan yang setara, fleksibel, dan fokus pada kesejahteraan emosional individu. Jika pernikahan tidak bisa menyediakan itu, mereka memilih mundur,” kata Rina.

Solusi untuk Pernikahan yang Lebih Bermakna

1. Buat Ekspektasi yang Realistis
Sadari bahwa pasangan adalah manusia biasa yang tidak bisa menjadi jawaban atas semua kebutuhan psikologis dan finansial. Berhenti menumpuk semua kebutuhan psikologis, finansial, dan lainnya hanya kepada pasangan.

2. Abaikan Standar Sosial Media
Teknologi menciptakan tekanan psikologis dan finansial baru. Berhenti membandingkan kehidupan rumah tangga dengan ilusi yang dipoles di Instagram atau TikTok. Fokus pada tujuan bersama yang disepakati oleh kedua belah pihak.

3. Lakukan Deep Talk Pra-Nikah
Obrolan jujur terkait pembagian tanggung jawab di rumah, pengelolaan keuangan bersama, dan skenario sensitif seperti apa yang terjadi jika salah satu pihak, terutama istri, berpenghasilan lebih besar.

Pada akhirnya, tingginya angka perceraian di tahun 2025 bukanlah sinyal bahwa generasi modern buruk dalam pernikahan, tetapi justru sinyal bahwa standar terhadap kemitraan hidup telah meningkat. Ketika pernikahan gagal memenuhi standar kesetaraan, fleksibilitas, dan penghormatan ini, perceraian dianggap sebagai keputusan yang rasional dan bukan lagi sebuah aib.(*)

Penulis: Desy Alvionita

Editor: Amin

Trending