BINGKAI logam kini tidak lagi membatasi gender. Dulu, gelang atau kalung emas dianggap hanya milik perempuan. Perhiasan menjadi simbol kaku yang memisahkan maskulinitas dan feminitas. Namun, zaman telah bergeser cepat. Kini laki-laki menuntut haknya untuk berkilau.
Dahulu, laki-laki menganggap perhiasan selain cincin nikah tidak lazim. Kini, pemandangan laki-laki memakai anting atau bros menjadi keseharian. Dilansir Kompas (10/10/2025), Area Manager Frank & Co. Sydney menjelaskan fenomena ini. Perubahan tren memicu peningkatan kepercayaan diri. Oleh karena itu, perhiasan kini menjadi fleksibel untuk semua gender.
Tren Model dan Perubahan Pasar Laki-Laki
Tren penggunaan perhiasan kini merambah ke laki-laki. Perhiasan membantu mereka merasa lebih percaya diri. Selain itu, model perhiasan laki-laki menjadi lebih beragam. Dulu cincin laki-laki hanya polos. Kini cincin sudah memiliki ukiran atau berlian. Jenis perhiasan pun sudah lebih beragam. Sebagai contoh, kini mereka juga memakai gelang, kalung, dan anting.
Namun, model yang beragam tidak akan berhasil tanpa kemajuan pola pikir masyarakat. Perlahan-lahan, persepsi mulai bergeser. Masyarakat tidak lagi menganggap perhiasan hanya milik perempuan. Laki-laki kini bisa memakai perhiasan dan tetap terlihat maskulin.
Terkait hal itu, perundungan terhadap laki-laki pemakai perhiasan jarang terjadi. Laki-laki pun mulai percaya diri menggunakan perhiasan. Selain itu, penggunaan perhiasan selaras dengan penampilan laki-laki. Kini laki-laki lebih memerhatikan cara mereka berpakaian.
Mereka juga merawat diri dan menata rambut untuk menarik perhatian. Pada prinsipnya, Sydney menjelaskan, maskulinitas bukan soal apa yang dipakai. Maskulinitas adalah cara laki-laki menampilkan diri mereka.
Perhiasan telah melampaui batas gender. Permata kini berfungsi sebagai alat ekspresi diri. Hal ini mendorong peningkatan kepercayaan diri laki-laki. Pergeseran persepsi masyarakat menunjukkan kemajuan berpikir. Oleh karena itu, fashion kini menyambut semua gender untuk berkilau.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin