MAHAKAMA — Menyambut Hari AIDS Sedunia setiap 1 Desember, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi realita pahit: tingginya kasus baru HIV/AIDS yang terus tumbuh subur di tengah pesatnya perkembangan digital dan masih kuatnya stigma sosial.
Fenomena ini menjadi alarm bahaya bagi kesehatan masyarakat, terutama penularan yang mulai merambah ke kelompok rentan seperti ibu rumah tangga.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tren kasus baru HIV di Indonesia yang terus bertambah, dengan catatan sebanyak 35.415 kasus baru HIV ditemukan sepanjang Januari hingga September 2024.
Di tingkat regional, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi situasi yang mengkhawatirkan. Hingga September 2025, Dinas Kesehatan Kaltim mencatat total 1.193 kasus HIV/AIDS (978 HIV baru dan 215 AIDS).
Wilayah penyumbang kasus tertinggi masih didominasi oleh kota besar, seperti Samarinda dan Balikpapan yang menjadi daerah paling terdampak.
Penularan utama masih didominasi oleh perilaku berisiko, seperti berganti-ganti pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom, serta penularan melalui jarum suntik.
Selain itu, perkembangan dunia digital, khususnya media sosial dan platform kencan, disebut menjadi lahan subur bagi bisnis prostitusi, seperti layanan Open BO atau booking online.
Di Kota Samarinda, praktik ini bahkan mudah ditemukan di beberapa hotel dan apartemen sebagai sarangnya, yang secara langsung meningkatkan risiko penularan.
Jerat Pasangan Tak Setia
Peningkatan kasus HIV ini disinyalir menjadi pemicu naiknya jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi—padahal mereka tidak terlibat dalam perilaku seks berisiko. Mereka menjadi korban penularan dari pasangan resmi yang memiliki riwayat seks berisiko.
Kisah pilu dialami oleh Marni (nama samaran), seorang ibu rumah tangga di Balikpapan yang telah hidup dengan HIV selama enam tahun setelah tertular dari suaminya yang selingkuh. Kepada Mahakama, ia mengungkapkan keterpurukan emosionalnya.
“Saya sebenarnya nggak terima. Saya bukan perempuan nakal, tapi tertular dari suami yang selingkuh,” tuturnya dengan nada getir.

Fenomena ini diperparah dengan perilaku menyimpang kelompok tertentu, terutama Laki-laki Seks Laki-laki (LSL), yang makin terbuka dan mudah bertemu menggunakan aplikasi kencan.
Perilaku LSL tidak lahir seketika, namun bisa dipicu oleh trauma atau kekecewaan terhadap lawan jenis, yang kemudian menemukan kenyamanan dan diteruskan dalam interaksi sesama jenis.
Komitmen Pencegahan dan Perangi Stigma
Tantangan utama dalam penanggulangan HIV adalah tingginya stigma sosial yang mencapai indeks 14 persen. Stigma ini menjadi tembok besar, seperti masyarakat yang enggan tes HIV lantaran takut dikucilkan jika hasilnya positif.
Selain itu, orang yang sudah positif cenderung tidak mau memberitahu orang-orang yang berinteraksi dengan mereka, sehingga meningkatkan risiko penularan yang tidak terdeteksi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Pesut Mahakam Universitas Mulawarman (Unmul) terus berkomitmen memperkuat edukasi dan kampanye anti-stigma HIV/AIDS.
Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan literasi publik terkait HIV, mendorong empati terhadap penyintas, dan mengurangi diskriminasi yang terjadi di masyarakat.
“Stigma negatif ini membatasi ruang gerak Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), perlu ditingkatkan edukasi masyarakat terkait stigma dan empati” ujar Indah, perwakilan PIK Pesut Mahakam Unmul.
PIK Pesut Mahakam berupaya membangun pemahaman bahwa HIV bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga persoalan sosial yang membutuhkan dukungan kolektif dan lingkungan yang inklusif.
Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah pola pikir masyarakat, terutama anak muda terhadap isu HIV/AIDS yang selama ini sarat misinformasi.
Dukungan akademik turut memperkuat program edukasi yang dijalankan. Dosen Program Studi Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unmul, Nurul Afifah, menegaskan sinergi antara kampus, komunitas, dan pemerintah menjadi kunci dalam memperluas jangkauan edukasi HIV/AIDS.

Nurul Afifah menilai edukasi ini penting untuk memastikan informasi yang benar dapat diterima masyarakat.
“Ini juga jadi momentum untuk meningkatkan kesadaran terutama remaja untuk lebih peduli terhadap penyintas HIV,” kata Nurul Afifah.
Ia menegaskan bahwa isu HIV masih membutuhkan perhatian serius terutama dalam aspek sosial dan psikologis, yang sangat menentukan keberhasilan program pencegahan dan penanggulangan. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin