MAHAKAMA — Indonesia kini berada dalam situasi darurat iklim, di mana bencana hidrometeorologi telah menjadi wajah harian yang tak terhindarkan.
Sejak Januari hingga penghujung November 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 2.919 kejadian bencana di seluruh nusantara.
Yang paling mengkhawatirkan, 98,97 persen dari angka tersebut adalah bencana yang dipicu oleh cuaca, sebuah konfirmasi resmi atas krisis iklim yang dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.
Data terbaru BNPB per 28 November 2025 juga menyebutkan bahwa total 5,68 juta orang telah menjadi korban bencana alam sepanjang tahun ini. Pola musim yang semakin sulit diprediksi membuat banjir kini dapat terjadi kapan saja, bukan hanya pada akhir tahun.
Sumatera Utara: Puluhan Korban Jiwa dalam Banjir Bandang
Rentetan hujan deras antara 24-26 November 2025 memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah, termasuk Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Tapanuli Utara.
Data menunjukkan dampak korban jiwa yang masif. Sebanyak 47 orang tewas, 37 luka ringan dan 6 luka berat, dan 88 orang dalam pencarian (Data per 28 November 2025).
Aceh: Puluhan Ribu Warga Terdampak
Banjir akibat hujan berhari-hari melanda sembilan kabupaten/kota di Aceh. Lebih dari 46.000 warga terdampak, dengan ribuan rumah, sawah, hingga fasilitas publik terendam.
Aceh Utara menjadi salah satu wilayah terparah. Pemukiman dan tambak hancur, serta luapan air tak kunjung surut. Bencana ini telah memutus aliran listrik, akses jalan, dan jaringan komunikasi, melumpuhkan kehidupan masyarakat.
Sumatera Barat: Status Darurat Bencana
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan status darurat bencana akibat banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai kabupaten/kota sejak akhir November.
Wilayah seperti Agam mengalami banjir besar yang merendam rumah, lahan, dan infrastruktur penting. Ratusan warga dievakuasi, dan ancaman longsor susulan di kawasan perbukitan masih menghantui karena intensitas hujan yang terus berlanjut.
Krisis Iklim Mengepung Asia Tenggara
Fenomena cuaca ekstrem ini bukanlah kasus terisolasi di Indonesia. Seluruh Asia Tenggara sedang dikepung oleh dampak krisis iklim.
Seperti di Malaysia yang kembali mengalami banjir besar yang memaksa ribuan orang mengungsi, dengan sistem drainase perkotaan yang kewalahan menghadapi curah hujan tak terduga.
Kemudian Thailand dilanda banjir luas di wilayah selatan, menewaskan sedikitnya 13 orang dan berdampak pada 2,1 juta warga.
Sementara itu, Filipina yang terbiasa menghadapi topan, kini berhadapan dengan badai yang lebih kuat dari kategori sebelumnya, menciptakan ketidakpastian permanen bagi jutaan penduduk.
Cuaca ekstrem telah melampaui kemampuan adaptasi masyarakat di kawasan ini. Kita semua berada dalam satu sistem atmosfer yang sama, dan ia sedang memberi peringatan keras.
Tuntutan Keberanian Politik di Tengah ‘Normal Baru’ Bencana
Ketika bencana hidrometeorologi dianggap sebagai ‘normal baru’, yang menjadi tidak normal adalah minimnya tindakan konkret dari pemerintah.
Aktivis lingkungan menilai bahwa pemerintah Indonesia masih berkutat pada retorika tanpa kebijakan mitigasi yang sesuai dengan skala masalah. Tidak adanya perubahan kebijakan energi yang substansial menunjukkan seolah-olah tidak ada urgensi.
“Kita patut marah, namun bukan karena hujan. Melainkan karena kegagalan sistemik yang melindungi rakyat di tengah krisis iklim yang kian brutal,” bunyi pernyataan resmi dari kelompok aktivis lingkungan Greenpeace Indonesia.
Mereka menekankan bahwa jika bencana adalah kenyataan baru, maka kita membutuhkan keberanian politik yang baru pula.
Dunia telah berubah, dan rakyat Indonesia menuntut pemerintah yang mau berubah dan bertindak tegas demi melindungi kehidupan dan masa depan di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata. (*)
Penulis: Desy Alvionita
Editor: Amin