By admin
23.11.25

Gonjang-Ganjing Internal PBNU: Gus Yahya Didesak Syuriyah Meletakkan Jabatan

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya./IST

MAHAKAMA – Kabar mengejutkan datang dari markas besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau akrab disapa Gus Yahya, kini berada di ujung tanduk setelah diminta mundur dari jabatannya oleh jajaran Syuriyah PBNU, yang merupakan otoritas tertinggi dalam organisasi ulama ini.

Permintaan mundur ini bukanlah isapan jempol. Sebuah risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang beredar luas di media sosial dan dibenarkan oleh beberapa pengurus, menunjukkan bahwa Gus Yahya diberi tenggat waktu hanya tiga hari untuk meletakkan jabatan. Jika tidak, Syuriyah mengancam akan memberhentikannya. Rapat krusial ini sendiri diketahui digelar di Hotel Aston, Jakarta, pada Kamis, 20 November 2025.

​Tiga Isu Panas yang Memicu Desakan

​Lantas, apa yang menjadi pemicu desakan keras dari Syuriyah yang dipimpin oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, ini? Ada setidaknya tiga poin utama yang dianggap sebagai pelanggaran serius:

​Kontroversi Isu Zionisme: Poin paling sensitif adalah pengundangan narasumber yang dituding terkait dengan jaringan Zionisme Internasional dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU). Syuriyah menilai tindakan ini melanggar nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dan mencoreng nama baik organisasi, terutama mengingat sikap NU yang selama ini tegas mendukung Palestina. Gus Yahya sendiri sebelumnya pernah meminta maaf secara terbuka atas kekhilafan ini, namun tampaknya hal tersebut belum cukup meredam gejolak.

​Indikasi Pelanggaran Tata Kelola Keuangan: Syuriyah juga menyoroti adanya dugaan pelanggaran terhadap hukum syara’, peraturan perundang-undangan, serta Anggaran Rumah Tangga (ART) NU terkait tata kelola keuangan organisasi. Isu ini menambah daftar permasalahan internal yang harus dihadapi oleh kepemimpinan Gus Yahya.

​Ancaman Pemberhentian: Berdasarkan pertimbangan di atas, Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam PBNU dalam musyawarah memutuskan bahwa Gus Yahya harus mengundurkan diri dalam waktu 3×24 jam. Poin 5 risalah menyebutkan, “Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.”


​Respons Gus Yahya: Belum Terima Surat, Anggap Keputusan Sepihak

​Menanggapi risalah yang beredar, Gus Yahya memberikan respons yang tegas namun terkesan santai. Ia mengaku belum menerima surat resmi dari Syuriyah.
​”Saya sendiri belum terima (surat permintaan mundur). Tapi lihat nanti apakah ada yang dipersiapkan. Tunggu informasinya ya,” ujar KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, di Surabaya, Sabtu, 22 November 2025 malam.

​Dalam kesempatan lain, Gus Yahya juga menilai bahwa keputusan yang tertuang dalam risalah tersebut bersifat sepihak.
​”Di situ membicarakan kehendak untuk memberhentikan saya… keputusannya adalah keputusan sepihak oleh Syuriah dalam hal ini Rais Aam,” jelas KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, dalam video meeting yang beredar, merespons Rapat Harian Syuriyah, Sabtu, 22 November 2025.
Ia juga menyiratkan bahwa dirinya tidak diberi klarifikasi terbuka sebelum keputusan itu diambil.

​PBNU Minta Warga Tetap Tenang

​Di tengah gonjang-ganjing ini, Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul, mencoba mendinginkan suasana. Ia meminta seluruh jajaran pengurus dan warga NU di semua tingkatan untuk tetap tenang dan fokus pada informasi resmi.

​“Mari tetap menjaga suasana teduh. Perbanyak sholawat, jangan ikut menyebarkan kabar yang tidak pasti,” kata Saifullah Yusuf, Sekretaris Jenderal PBNU, dalam keterangannya, Jumat, 21 November 2025.
​Gus Ipul memastikan bahwa dinamika internal ini akan diselesaikan sesuai mekanisme organisasi yang sah dan penuh kehati-hatian.

​Sementara itu, Gus Yahya sendiri langsung bergerak cepat dengan mengumpulkan seluruh Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) se-Indonesia di Surabaya pada Sabtu malam, 22 November 2025. Pertemuan ini disebut sebagai silaturahmi dan koordinasi pengurus organisasi. Publik menanti, apakah ini adalah sinyal perlawanan atau justru upaya mencari titik temu terbaik untuk menyelamatkan masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Penulis : Redaksi

Trending