MAHAKAMA – Takhta Samarinda sebagai kota termaju di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai digoyang. Meskipun hingga saat ini Samarinda masih memegang rekor Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Bontang telah menyalip dalam hal Pengeluaran Riil per Kapita—salah satu komponen vital penentu IPM.
Data BPS yang dirilis pada November 2025 menjadi warning (peringatan) bagi Kota Tepian. Dominasi Samarinda, yang selama ini unggul IPM tertinggi (data IPM 2024: 83,11) di atas Balikpapan (82,62) dan Bontang (82,49), kini diuji oleh laju pertumbuhan daya beli di kota industri Bontang.
Bontang Memimpin Daya Beli, Samarinda Tertinggal
Jika sebelumnya Samarinda memimpin hampir di semua dimensi IPM, kini Bontang menunjukkan tajinya dalam aspek standar hidup layak, yang diukur melalui pengeluaran riil per kapita per tahun.
Perbandingan Pengeluaran Riil per Kapita (PRP) BPS 2025:
Bontang: Rp18,861 juta (Tertinggi)
Balikpapan: Rp17,482 juta
Samarinda: Rp16,345 juta
Kendati demikian, Samarinda tetap menjadi kota terpadat di Kaltim, dengan jumlah penduduk tahun 2024 yang menembus angka 858.079 jiwa. Di sisi lain, Bontang masih menghadapi tantangan ketenagakerjaan dengan mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di Kaltim (6,36 persen pada Agustus 2025), dibandingkan Samarinda (5,31 persen).
Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan
Pergeseran data ini terjadi di tengah perlambatan ekonomi Kaltim. Perekonomian Kaltim pada Triwulan III-2025 hanya tumbuh 4,26 persen, melambat dibandingkan tahun sebelumnya (5,52 persen).
BPS: Industri Pengolahan Jadi Penolong
Kepala BPS Kaltim, Dr. Yusniar Juliana, menjelaskan bahwa perlambatan ini disebabkan oleh kontraksi di sektor andalan, yaitu Pertambangan dan Konstruksi (sektor utama penopang IKN).
“Pertumbuhan didorong oleh Industri Pengolahan dan Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib. Sementara Pertambangan dan Konstruksi terkontraksi. Ini menunjukkan adanya pergeseran struktur, namun kontraksi di sektor utama harus diwaspadai,” jelas Dr. Yusniar Juliana (Kepala BPS Kaltim, dalam siaran pers PDRB Triwulan III-2025, 6 November 2025.
Wali Kota: Kompleksitas Samarinda Meningkat
Menanggapi keseluruhan indikator, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menekankan bahwa tantangan di balik angka statistik yang positif semakin kompleks.
“Alhamdulillah, indikator kita menunjukkan angka-angka positif. Namun, kita harus jujur bahwa tidak ada pembangunan yang sempurna. Pasti ada kekurangan yang harus kita perbaiki,” ujar Andi Harun.Ia menegaskan, tingginya jumlah penduduk di Samarinda membuat kompleksitas permasalahan pembangunan meningkat drastis.
DPRD: Kesenjangan Antar Wilayah Harus Diatasi
Kesenjangan pembangunan tetap menjadi isu utama. Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, dr. Andi Satya Adi Saputra, mengingatkan bahwa IPM yang tinggi di perkotaan belum menggambarkan realitas di lapangan.
“Naiknya IPM secara statistik itu belum menggambarkan realitas di lapangan. Masih banyak saudara kita di wilayah terluar yang tertinggal dalam layanan pendidikan dan kesehatan,” ungkap dr. Andi Satya Adi Saputra.
Tantangan Samarinda kini ganda, yaitu mempertahankan supremasi IPM total dari kejaran Bontang, sambil memastikan perannya sebagai penyangga utama IKN tidak mengabaikan isu ketimpangan regional. Ke depan, IPM Samarinda 2025 akan sangat bergantung pada bagaimana kota ini merespons dominasi Bontang di sektor daya beli dan mengatasi perlambatan ekonomi makro.
Penulis: Redaksi