MAHAKAMA – Di ruang-ruang kuliah, dosen adalah tonggak peradaban. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga peneliti dan penjaga mutu intelektual bangsa, sehingga peran mereka sangat penting bagi masa depan pendidikan.
Kesejahteraan dosen di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam setelah perbandingan regional mencuat. Data dari World Salaries menempatkan gaji dosen di Timor Leste – negara yang dulu merupakan salah satu provinsi Indonesia – pada kisaran USD1.676 hingga USD4.936 per bulan. Angka ini setara dengan Rp20 juta hingga Rp80 juta, dengan rata-rata pendapatan mencapai Rp40 juta per bulan.
Angka tersebut kembali menjadi perbincangan setelah unggahan lama di media sosial. Banyak pihak di Indonesia kemudian mengkritik struktur gaji dan tunjangan dosen dalam negeri yang dinilai belum sepadan dengan beban kerja. Perbandingan ini menjadi refleksi atas kesejahteraan tenaga pengajar di Indonesia.
Perbandingan Kesejahteraan Dosen di ASEAN

Data gaji dosen di ASEAN dihimpun dari World Salaries, Glassdoor 2025 dan berbagai sumber untuk data biaya hidup atau upah minimum lokal. Informasi ini memberikan gambaran tentang besarnya gaji nominal dibandingkan dengan biaya hidup dosen di masing-masing negara.
Singapura berada di posisi teratas dengan gaji Rp80 juta hingga Rp112 juta per bulan. Karena tidak memiliki upah minimum nasional, perbandingan menggunakan biaya hidup terendah. Dengan acuan tersebut, gaji dosen berada sekitar 2,3 kali lebih tinggi dari kebutuhan dasar bulanan.
Brunei Darussalam mengikuti dengan gaji Rp32 juta hingga Rp48 juta. Negara ini juga tidak memiliki UMR sehingga perbandingan memakai biaya hidup terendah. Nilainya sekitar 5,9 kali kebutuhan dasar bulanan.
Malaysia menyusul dengan gaji Rp28,8 juta hingga Rp56 juta. Jika dibandingkan dengan upah minimum nasional, daya belinya sekitar 6,7 kali kebutuhan dasar. Thailand berada tak jauh di belakang dengan gaji Rp24 juta hingga Rp40 juta per bulan, setara sekitar enam kali kebutuhan dasar.
Filipina mencatatkan gaji Rp19,2 juta hingga Rp32 juta. Ketika dibandingkan dengan biaya hidup dan UMR, nilainya hampir sembilan kali kebutuhan dasar. Meski gaji nominalnya tidak termasuk tertinggi, kekuatan belinya justru berada di kelompok atas kawasan.
Timor Leste menjadi pengecualian paling mencolok. Gaji dosen mencapai sekitar Rp40 juta per bulan, lebih tinggi dari Indonesia dan setara Thailand secara nominal. Jika disandingkan dengan biaya hidup dan UMR, nilainya melonjak hingga hampir 21 kali UMR karena upah minimum hanya sekitar Rp1,9 juta.
Vietnam memiliki gaji dosen Rp11,2 juta hingga Rp19,2 juta. Dibandingkan UMR, nilainya sekitar lima kali lipat.
Indonesia berada sedikit di bawah dengan gaji Rp9,6 juta hingga Rp24 juta per bulan. Daya belinya sekitar empat kali kebutuhan dasar, menjadi salah satu yang terendah di ASEAN.
Kasus Timor Leste dan Kesenjangan Regional
Perbandingan ini menunjukkan posisi Indonesia berada di kelompok bawah dalam kesejahteraan dosen. Wajar jika perdebatan publik meningkat, terutama karena contoh Timor Leste yang tampak kontras secara UMR.
Dengan gaji sekitar Rp40 juta, posisi Timor Leste secara nominal setara Thailand, tetapi kebutuhan dasar bulanannya jauh melampaui negara manapun di kawasan. Nilai tersebut hampir 21 kali upah minimum lokal. Dilansir Schrole (1/4/2025), kondisi ini dipicu kebutuhan negara itu merekrut dan mempertahankan dosen internasional berbahasa Inggris atau Portugis. Selain itu terdapat proyek pembangunan pendidikan tinggi yang sedang digenjot pemerintah.
Mendesain Ulang Gaji Dosen Indonesia
Pemerintah Indonesia perlu segera merumuskan kebijakan yang menjamin gaji dosen lebih kompetitif. Pertama-tama, pemerintah harus melakukan evaluasi ulang komponen gaji. Tunjangan kinerja dosen yang memiliki sertifikasi harus dioptimalkan. Selain itu, sistem pengupahan perlu mengaitkan gaji pokok dengan performa riset dan publikasi.
Kedua, pemerintah harus mengalokasikan anggaran pendidikan tinggi yang lebih besar untuk kesejahteraan tenaga pengajar. Dana ini dapat diambil dari peningkatan efisiensi anggaran lain.
Langkah-langkah strategis ini diperlukan untuk mempertahankan talenta terbaik Indonesia di dunia akademik. Dosen adalah aset nasional.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin