By admin
13.11.25

Loud Budgeting bagi Gen Z Samarinda: Enggak Bisa Lagi Setiap Minggu Nongkrong di Balikpapan

Loud Budgeting bagi Gen Z Samarinda

MAHAKAMA — Di tengah gejolak ekonomi, istilah loud budgeting mulai ramai dibicarakan, terutama di kalangan Gen Z.

Loud Budgeting merupakan pendekatan pengelolaan keuangan yang menekankan komunikasi terbuka dan jujur tentang anggaran kita. Berbeda dengan budgeting konvensional yang mungkin kita lakukan secara diam-diam, loud budgeting justru menganjurkan untuk menyatakan dengan jelas batasan finansial kita kepada orang lain.

Konsep utama loud budgeting adalah mengubah rasa malu menjadi pemberdayaan. Dengan keterbukaan dan jujur tentang anggaran, kita memiliki batasan antara kemampuan keuangan dengan budaya konsumtif atau kebiasaan FOMO (Fear of Missing Out) yang telah lama menjerat anak muda.

Di Kota Samarinda, dengan geliatnya sebagai gerbang menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) yang membawa serta kenaikan biaya hidup dan tuntutan gaya hidup, loud budgeting menjadi pilihan logis, namun juga memunculkan dilema: berhemat ibarat pedang bermata dua.

Antara Dompet Pribadi dan Roda Ekonomi

Berhemat secara individu adalah langkah bijak. Kita memegang kendali atas keuangan sendiri dan menghindari tekanan sosial untuk mengeluarkan uang melebihi kemampuan kita. Namun, jika tren berhemat ini diadopsi secara massal, ia dapat memperlambat laju konsumsi, yang merupakan salah satu motor penggerak utama perekonomian lokal.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan perlambatan pada triwulan IV 2025. Berdasarkan data BPS, konsumsi rumah tangga Kalimantan Timur tumbuh 4,36 persen year on year (yoy). Ini menunjukkan sedikit perlambatan dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 4,48 persen yoy.

Jika terlalu irit, terutama dalam sektor tersier seperti nongkrong di kafe, rekreasi, atau traveling, dapat membuat sektor UMKM dan jasa di Samarinda lesu. Kafe-kafe lokal yang mengandalkan kunjungan Gen Z mungkin mengalami penurunan omzet, mengancam kelangsungan bisnis mereka.

Namun, terlalu boros dan fomo mengikuti tren akan membuat anak muda terjerat utang dan kegagalan mencapai kemandirian finansial. Loud budgeting dapat menjadi penyelamat, menanamkan prioritas jangka panjang seperti tabungan, investasi, atau membeli properti.

Cerita datang dari Yuli (24) seorang anak muda Samarinda yang bekerja di sektor swasta. Ia mengaku telah mengadopsi Loud Budgeting sekitar satu tahun terakhir.

“Dulu, setiap weekend pasti ada aja ajakan nongkrong atau liburan ke Balikpapan. Capek sendiri, gaji habis cuma buat ikut-ikutan,” ujar Yuli.

Yuli kemudian memutuskan untuk bersikap terbuka dan tegas mengenai anggaran keuangannya. Ia mulai menekan pengeluaran untuk biaya pergaulan sosial.

Menurutnya, liburan ke luar kota dapat diganti dengan eksplorasi wisata lokal Samarinda yang minim biaya, seperti di tepi Sungai Mahakam atau nongkrong di kafe yang terjangkau.

“Hiburan di sekitar Samarinda aja, kayak di tepian atau angkringan, bisa hemat sampe 500 ribu tiap bulan. Jadi tetap ada hiburan dan bisa nabung,” tuturnya.

Sementara itu, Amar (20), seorang mahasiswa Universitas Mulawarman, mengambil pendekatan yang lebih luwes dalam menjaga hubungan sosialnya tanpa merusak anggaran.

“Aku enggak langsung menolak, karena pergaulan juga penting. Kalau diajak ke kafe mahal, aku bilang, ‘Minggu depan saja ya, guys. Minggu ini aku masih singkip’. Mereka jadi paham dan nggak terlalu memaksa,” jelas Amar.

Amar menggunakan penundaan sebagai alat negosiasi, yang juga memberikan waktu baginya untuk mencari alternatif yang lebih mudah.

Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa loud budgeting bukan berarti anti-sosial, melainkan disiplin keuangan. Gen Z mengubah gengsi menjadi kejujuran, membuat batasan finansial menjadi hal yang normal dibicarakan.

Menyeimbangkan Dua Mata Pedang

Tren loud budgeting di kalangan gen Z Kota Tepian ini merupakan cerminan dari kesadaran finansial yang tinggi di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Meskipun penghematan ini menekan konsumsi di beberapa sektor, namun dapat mendorong konsumsi yang lebih bijak dan terarah.

Gen Z penganut loud budgeting perlu untuk tetap berbelanja, namun dapat memilih produk dan layanan dari UMKM lokal yang mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar gaya hidup konsumtif.

Alih-alih mengeluarkan uang untuk nongkrong di kafe mahal, gen Z juga dapat mencoba aktivitas sosial yang berfokus pada pengalaman minim biaya, seperti acara komunitas, olahraga bersama, atau belajar skill baru, dimana semuanya tetap menjaga interaksi sosial tanpa merusak anggaran.

Pada akhirnya, loud budgeting adalah upaya gen Z di Samarinda untuk memegang kendali atas masa depan mereka. Pedang bermata dua ini tidak harus ditakuti, melainkan harus terarah agar penghematan menghasilkan kesehatan finansial, sementara roda perekonomian lokal tetap berputar.


Penulis : Desy Alvionita
Editor : Amin

Trending