By admin
13.11.25

Aksi Teater Oase SMAN 4 Berau Tampilkan Rami dan Cangkir Pecah Warnai Apsetra XIII

MAHAKAMA – Sorot lampu menembus tirai, menyingkap sepasang tokoh tua dalam kisah sederhana tentang kemiskinan dan perang. Cahaya panggung menari di wajah mereka, sementara efek suara yang menegangkan membuat jantung penonton berpacu. Saat pemain memberikan salam penutup, keheningan pecah oleh sorakan. Suara tepuk tangan menggema di seluruh auditorium untuk penampilan Teater OASE.

Pertunjukan itu merupakan salah satu peserta lomba dari Apresiasi Seni dan Sastra (Apsetra) XIII. Apsetra adalah acara yang diselangarakan setiap dua tahun sekali oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Yupa Universitas Mulawarman. Tahun ini, kegiatan digelar pada 10–14 November 2025 di Gedung Auditorium Unmul dengan mengusung tema, “Mengukir Prasasti Baru untuk Nusantara.”

Pimpinan produksi Apsetra XIII, Feby Febriana, menyebut tema ini dimaknai sebagai ajakan bagi pelajar untuk tidak hanya berkarya, tetapi juga meninggalkan jejak kebudayaan yang relevan dengan zamannya.

Satu Naskah, Empat Penafsiran

Salah satu mata acara yang paling ditunggu adalah lomba pementasan teater. Kompetisi ini diikuti oleh empat kelompok teater sekolah di Kalimantan Timur yang dijadwalkan tampil selama dua hari:

  • 12 November: Teater OASE (SMAN 4 Berau) dan Teater Karang (SMAN 3 Samarinda)
  • 13 November: Teater Mahardika (SMAN 8 Samarinda) dan Teater Warna (SMK TI Labbaika Samarinda)

Tantangan utama kompetisi ini adalah semua peserta wajib menampilkan naskah yang sama, berjudul Rami dan Cangkir Pecah, yang merupakan saduran Landung Simatupang dari naskah The Cloud karya Lewis Beach.

Foto: Salah satu poster Rami dan Cangkir Pecah oleh Teater OASE SMAN 4 Berau (ig: @apsetra.xiii)

Dilema Kemanusiaan di Tengah Perang

Naskah Rami dan Cangkir Pecah berlatar di dapur rumah sederhana milik Danus dan Rami, pasangan petani tua yang tinggal di perbatasan dua wilayah yang sedang dilanda perang saudara: Utara dan Selatan. Hidup mereka sederhana, penuh ketakutan dan selalu diliputi suara perang di kejauhan.

Suatu malam, ketika mereka hendak beristirahat, seorang prajurit dari pihak Utara yang terluka masuk diam-diam ke rumah untuk berlindung. Tak lama kemudian, dua tentara dari pihak Selatan datang menggeledah, curiga bahwa Rami dan Danus menyembunyikan musuh.

Dalam ketegangan malam itu, Rami harus berpura-pura tenang. Hatinya diguncang antara rasa takut, benci pada perang dan iba terhadap manusia yang sama-sama menderita. Konflik batin Rami memuncak ketika situasi nyaris terbongkar, dan keselamatan mereka bergantung pada seberapa lama ia mampu menyembunyikan kebenaran.

Sorotan Panggung: Teater OASE Tampilkan Konflik dan Kemanusiaan

Salah satu peserta, Teater OASE dari SMAN 4 Berau, menampilkan interpretasi mereka pada Rabu (12/11/2025). Disutradarai oleh Jia, pementasan ini menampilkan Nita sebagai Rami, Yudha sebagai Danus, Risma sebagai Prajurit Utara, serta Jia dan Evan sebagai tentara Selatan.

Pementasan diawali dengan gambaran kuat tentang kemiskinan pasangan suami-istri tersebut. Latar rumah kayu dan dapur yang kecil mempertegas kondisi mereka. Selain itu, pencahayaan remang-remang berawarna kuning juga mempertegas suasana rumah desa yang masih menggunakan lampu pijar.

Foto: Rumah Rani dan Danus yang terlihat kumuh dan sederahana

Dialog sang istri (Rami) yang kesal kepada Danus menggambarkan keputusasaan. Rami bekerja sepanjang hari tanpa istirahat, namun tidak ada makanan yang bisa dimakan karena hasil kebun diambil oleh tentara.

Konflik dimulai ketika seorang prajurit Utara yang terluka parah. Hal ini terlihat dari riasan luka tembak di perut dan lebam di kepala. Ia masuk dan bersembunyi di tumpukan jerami.

Klimaks ketegangan muncul saat dua tentara Selatan datang dengan ekspresi marah. Dengan suara yang lugas, berat dan penuh amarah, mereka menggeledah rumah tersebut sambil terus mengancam Rami dan Danus.

Foto: Adegan prajurit selatan mengancam Rani dan Danus

Tidak hanya mengancam, kedua tentara Selatan itu memaksa Rami menyiapkan makanan, padahal di rumah Rani hanya ada sebutir telur yang dihemat untuk makan besok. Sambil memerintah, mereka mengejek Rani dan Danus, membuat Rani kesal terlihat dari ekspresinya.

Ketegangan memuncak saat Rani menyerahkan cangkir untuk diminum sang sersan. Alih-alih menerima, sersan marah dan membuang cangkir itu keluar jendela hingga pecah. Terdesak oleh ketakutan, sakit hati dan amarah yang dipendam, Rani akhirnya meledak. Ia merebut pistol dari sersan dan menumpahkan amarahnya pada sersan beserta anak buahnya. Cangkir cantik kesayangan Rani menjadi pemicu tragedi itu.

Foto: Adegan Rani setelah menghabisi kedua prajurit selatan

Sejak awal, Rani digambarkan bukan sebagai istri tua yang takut pada tentara. Beberapa kali ia mengomel pada tentara Selatan, salah satunya saat mereka memaksa menanyakan apakah ia menyembunyikan prajurit Utara. Dengan nada kesal namun tetap baku, Rani berkata, “Apa sih untung saya kalau kalian malang melintang di rumah saya,” memperlihatkan nuansa zaman dulu.

Ketika mengetahui ada prajurit Utara yang bersembunyi di rumahnya, Rani tidak langsung melaporkan kepada tentara Selatan, melainkan menyuruhnya pergi. Sikap ini menunjukkan bahwa meski ia kesal, Rani masih memiliki empati terhadap sesama manusia. Kemanusiaannya semakin jelas ketika di awal adegan ia menegaskan tidak memihak prajurit manapun. Bagi Rani, semua prajurit sama saja, pencuri makanan.

Behind the Teater: Rahasia di Balik Panggung

Usai pementasan, penonton diajak mengikuti diskusi karya bersama tim produksi, sutradara, dan para aktor. Dalam sesi ini, mereka membahas mulai dari cara mendalami peran hingga teknik pertunjukan. Yudha, pemeran Danus, berbagi tips untuk memahami karakternya melalui video YouTube, termasuk cara berjalan, postur, dan intonasi bicara. Ia menjelaskan, “Untuk proses pencarian, saya buka di YouTube bagaimana kake-kake itu berjalan, berdialog, bagaimana kake-kake umur 60 tahun.”

Foto: Diskusi karya yang dilakukan setelah pementasan bersama tim Teater OASE

Di sisi properti panggung, tim menghadapi tantangan mencari senjata yang terlihat nyata namun tetap bernuansa klasik, agar atmosfer zaman dahulu lebih terasa. Bidang make-up juga tidak kalah rumit. Membuat karakter terlihat tua memerlukan perhatian khusus. Selain itu untuk para prajurit perlu penekanan pada bawah mata agar tampak tajam. Proses make-up sendiri memakan waktu sekitar 2 jam 30 menit, dengan beberapa tahapan base sudah dilakukan di penginapan untuk menghemat waktu.

Tantangan di Balik Layar

Kesulitan paling nyata selama latihan hingga pementasan, menurut sutradara Jia, adalah membagi waktu, terutama bagi siswa kelas 12. Hal ini dikarenakan mereka baru saja menjalani Tes Kemampuan Akademik (TKA). Jia menjelaskan, “Jadi selama proses Apsetra itu untuk kelas 12 ini kan ada yang sebelum keberangkatan ada TKA, jadi betul-betul kaya harus latihan, harus belajar persiapan TKA. Tapi kami berusaha untuk membagi waktu kami. Membagi waktu untuk Apsetra dan untuk belajar TKA itu.”

Perjuangan di balik layar, mulai dari proses rias wajah yang memakan waktu hingga tantangan membagi waktu dengan TKA, terbayar lunas dengan penampilan memukau yang disajikan Teater OASE dari SMAN 4 Berau. Interpretasi mereka atas dilema kemanusiaan dan memendam amarah dalam naskah Rami dan Cangkir Pecah menjadi bukti nyata kreativitas dan ketangguhan para pelajar dalam ajang Apsetra XIII.(*)

Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending