By admin
11.11.25

Pesut Mahakam: dari Legenda Menuju Legenda

Foto Monumen Pesut Mahakam/advanture.wordpress

MAHAKAMA – Siapa yang tak kenal hewan lucu nan menggemaskan khas Sungai Mahakam ini? Yap, siapa lagi kalau bukan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris). Pesut merupakan mamalia air tawar yang hanya dapat ditemukan di Sungai Mahakam dan dianggap sakral oleh masyarakat Kalimantan Timur.

Dari cerita rakyat yang melegenda, kini Pesut Mahakam menghadapi kenyataan pahit: berada di ambang kepunahan. Ikon kebanggaan Kalimantan ini bertransformasi dari makhluk legenda menjadi simbol mendesak perlindungan lingkungan.

Bagi masyarakat yang hidup di pesisir Sungai Mahakam, keberadaan Pesut lekat dengan kisah sedih. Salah satu versi legenda paling populer menceritakan tentang dua kakak beradik yang diperlakukan dengan kejam oleh ibu tiri mereka. Mereka sering disuruh mencari kayu bakar dalam jumlah yang mustahil atau ditinggalkan dalam kelaparan.

Puncaknya, mereka ditinggalkan sendirian setelah sang ayah pergi bersama ibu tiri. Karena kelaparan, kedua anak tersebut mencoba mencari makanan di sebuah rumah. Mereka menemukan nasi atau bubur panas di dalam kuali yang baru dimasak. Karena terlalu lapar, mereka memakan makanan panas itu secara bergantian hingga habis.

Akibat panas yang luar biasa, kepala mereka berasap dan kulit mereka memerah. Mereka berlari ke sungai untuk mendinginkan diri, namun tubuh mereka perlahan berubah.

Konon, sang Ayah yang menyesal datang ke tepi sungai dan melihat kedua anaknya telah menjelma menjadi makhluk air yang menyerupai lumba-lumba, namun berwajah bulat. Masyarakat sekitar kemudian menamai makhluk ini Pesut atau Pasut.

Legenda ini memberikan pesan moral yang mendalam tentang kasih sayang orang tua dan konsekuensi menelantarkan anak. Secara budaya, Pesut dianggap sebagai jelmaan leluhur yang harus dihormati, membuat masyarakat tradisional enggan menyakiti, menangkap, dibunuh, maupun dimakan.

Krisis Populasi: Menuju Kepunahan Kritis

Sayangnya, penghormatan legenda tidak cukup membendung ancaman kepunahan terhadap satwa langka itu. Pesut Mahakam kini berstatus Critically Endangered (Kritis Terancam Punah) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Menurut data terbaru dari Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), populasi Pesut Mahakam diperkirakan hanya tersisa sekitar 62 ekor di habitat alaminya. Angka yang sangat kecil ini menunjukkan betapa rentannya spesies endemik ini. Hal ini berarti Pesut Mahakam sudah terancam krisis dan berisiko tinggi untuk punah, loh!

Foto Pesut Mahakam/phys.org

Tahun 2020 sempat dihebohkan kabar kemunculan Pesut Mahakam melalui unggahan di Twitter/X @BahriBpp. Lantas, faktor apa yang menyebabkan anjloknya populasi Pesut Mahakam?

Dilansir dari situs resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2020, Sekar Mira, Peneliti Mamalia Laut di LIPI menuturkan bahwa kemunculan Pesut Mahakam tidak aneh terjadi dikarenakan Sungai Mahakam merupakan habitat aslinya.

Namun, apabila menilik lebih jauh, kualitas air sungai Mahakam juga memiliki keterkaitan dengan keberadaan pesut. Limbah pertambangan, perkebunan, industri, dan rumah tangga mencemari Sungai Mahakam, merusak habitat dan mengurangi ketersediaan ikan sebagai sumber makanan utama Pesut.

Aktivitas lalu lintas kapal dan tongkang di Sungai Mahakam juga berpengaruh terhadap habitat pesut. Persaingan untuk mencari makan menyebabkan pesut bergerak lebih jauh ke hulu. Padahal, banyak sekali aktivitas tambang dan transportasi air yang dapat menyebabkan pesut terluka. Sementara itu, kebisingan dan gelombang dari kapal batu bara serta speedboat mengganggu kemampuan Pesut untuk berkomunikasi dan bernavigasi.

Pesut yang mencari makan mencederung memangsa ikan yang terjerat di jaring/rengge. Pesut kemudian mendekati jaring untuk mencari makanannya. Sehingga, Pesut sering tak sengaja terperangkap dalam jaring nelayan, yang menyebabkan mereka tenggelam karena tidak bisa naik ke permukaan untuk bernapas. Ini adalah penyebab kematian tertinggi. Diketahui, persentase kematian pesut 66 persen berasal dari jaring nelayan (Noor et al., 2013).

Selain itu, penangkapan ikan secara berlebihan atau overfishing, penggunaan alat tangkap ilegal seperti racun, bom, dan listrik, juga menimbulkan potensi kematian pesut. Sehingga, diperlukan undang-undang yang ketat untuk mengatur batas penggunaan jaring agar meminimalisir potensi kematian pesut.

Dengan tingkat reproduksi alami yang lambat (betina hanya melahirkan pada usia matang dan jarak kelahiran yang panjang), maka setiap kematian Pesut memiliki dampak besar pada kelangsungan hidup populasi.

Pesut Mahakam adalah indikator kesehatan ekosistem Sungai Mahakam. Kehilangan Pesut Mahakam berarti terjadi kerusakan yang lebih luas pada lingkungan.

Perlu sinergisitas berbagai pihak untuk bergerak cepat melalui program pemantauan, edukasi, dan penegakan hukum. Upaya seperti mendorong penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, pembatasan kecepatan kapal di zona Pesut, dan edukasi masif kepada masyarakat sangat krusial.

Jika tindakan konservasi tidak diperkuat, mamalia air tawar yang menjadi maskot Kota Samarinda ini akan lenyap. Kisah pilunya hanya akan tertinggal sebagai sebuah legenda tanpa wujudnya lagi di dunia nyata.


Penulis : Desy Alvionita
Editor : Amin

Trending