MAHAKAMA – Pasar modal seringkali dianggap sebagai “arena bermain” bagi kaum profesional berdasi atau orang-orang yang melek finansial dengan mata jeli. Namun, pandangan itu dipatahkan oleh kisah inspiratif Tutus Setiawan, seorang penyandang disabilitas netra asal Surabaya, Jawa Timur, yang membuktikan bahwa sukses berinvestasi tidak memerlukan kemampuan melihat, melainkan kemampuan memahami masa depan.
Kisah Tutus adalah loncatan semangat bagi siapa pun yang merasa memiliki keterbatasan. Bagaimana tidak, pria yang kehilangan penglihatannya di usia delapan tahun akibat sebuah kecelakaan ini, kini aktif menjadi investor saham yang mandiri.
Ditolak Sekuritas Hingga Berani Bilang “Ini Uang Saya!”
Perjalanan Tutus menembus hiruk pikuk pasar modal bukanlah tanpa hambatan. Ia masih ingat betul momen saat dirinya memberanikan diri membuka rekening di salah satu perusahaan sekuritas di Surabaya. Respons yang ia terima justru cenderung meragukan.
“Mereka takut uang saya hilang, bahkan cenderung menolak,” ujar Tutus, berbagi kisahnya dalam sebuah diskusi di Capital Market Summit & Expo 2025 di Jakarta.
Keraguan itu muncul karena pihak sekuritas khawatir dengan keterbatasan fisik Tutus. Namun, ia tak gentar. Dengan ketegasan dan keberanian yang patut diacungi jempol, Tutus lantas melontarkan kalimat yang menohok.
“Tapi saya bilang, ini uang saya. Kalau hilang, ya tanggung jawab saya,” kenangnya.
Kalimat itu bukan sekadar pembelaan, tetapi juga deklarasi penuh tanggung jawab bahwa ia siap menghadapi risiko investasi layaknya investor lainnya. Kisah ini sempat mengundang gemuruh hadirin di Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ia menceritakannya, sebuah simbol dukungan atas keberaniannya.
Modal Awal Rp5 Juta dan Bantuan ‘Screen Reader’
Tutus memulai perjalanannya dengan modal yang tergolong kecil, yakni Rp5 juta. Uang tersebut merupakan hasil jerih payahnya dari usaha menjual alat-alat bantu disabilitas.
Kunci kemandirian Tutus dalam bertransaksi adalah teknologi. Ia memanfaatkan aplikasi Android dengan fitur Talkback atau yang dikenal sebagai screen reader (pembaca layar). Aplikasi ini memungkinkan Tutus untuk “melihat” layar ponselnya melalui suara.
“Saya tak kesulitan berinvestasi. Aplikasi itu membacakan apa yang ada di layar. Jadi bisa dipahami,” jelasnya.
Dengan bantuan suara dari ponselnya, ia mampu menganalisis pergerakan saham, membaca grafik, dan melakukan transaksi jual beli secara mandiri, tanpa perlu bantuan orang lain.
Dari Trader Merugi Menjadi Investor Jangka Panjang
Sama seperti investor pemula lainnya, perjalanan Tutus di pasar modal tak selalu mulus. Ia sempat merasakan manisnya untung di awal, namun kemudian jatuh karena menjadi trader tanpa bekal analisis yang cukup.
“Pertama kali beli saham langsung untung, saya senang. Tapi karena jadi trader tanpa analisis, malah rugi,” ujar Tutus sambil tersenyum kecil.
Namun, alih-alih menyerah, Tutus bangkit. Ia mengambil pelajaran berharga dari kerugiannya, mulai mendalami analisis fundamental, dan mengubah strateginya. Kini, ia memilih menjadi investor jangka panjang yang lebih terukur dan minim risiko. Ia menekankan pentingnya keberanian, bimbingan yang tepat, dan terutama, manajemen risiko.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa Bursa Efek Indonesia terus mengedukasi perusahaan sekuritas terkait inklusivitas bagi penyandang disabilitas. Hal ini menandakan bahwa pintu pasar modal kini makin terbuka lebar untuk semua kalangan.
Kisah Tutus Setiawan adalah pengingat bahwa investasi di pasar modal bukan soal kemampuan melihat, tetapi tentang kemampuan memahami prospek masa depan, disiplin, dan keberanian mengambil kesempatan yang sama seperti warga negara lainnya.
Penulis: Redaksi