PROSEDUR pengencangan wajah dan leher (facelift) dahulu merupakan bedah besar dan pilihan terakhir bagi individu berusia lanjut. Kini, prosedur ini menjadi topik hangat. Unggahan media sosial memenuhi pembahasan mengenai ragam peremajaan wajah, mulai dari mini facelift, ponytail, hingga deep plane. Mereka yang berusia akhir 20-an dan 30-an melakukan prosedur ini.
Pergeseran ini menunjukkan prosedur peremajaan wajah melalui bedah plastik semula hanya terjangkau bagi orang kaya dan menua. Kini, prosedur ini menarik perhatian demografi yang lebih muda. Sejumlah risiko dan dampak psikologis mengiringi prosedur ini. Namun, para konsumen, mayoritas perempuan, tetap mengambil jalur yang menyakitkan ini. Tujuannya adalah meraih kepercayaan diri melalui penampilan.
Pergeseran Tren: Facelift di Usia Produktif
Data dari Asosiasi Bedah Plastik Estetika Inggris (BAAPS) mencatat peningkatan 8 persen dalam prosedur facelift selama 12 bulan terakhir. Anggota asosiasi melaporkan demografi pasien berubah. Tren ini juga tercermin di Amerika Serikat. Jumlah generasi X (45 hingga 60 tahun) yang memilih prosedur ini mengalami peningkatan.
Presiden BAAPS, Nora Nugent, meyakini berbagai faktor mendorong pergeseran ini. Peningkatan penggunaan obat penurun berat badan termasuk di dalamnya. Penurunan berat badan yang cepat sering kali menyisakan kulit berlebih. Operasi facelift dapat mengatasi masalah tersebut. Selain itu, teknik operasi saat ini berkembang pesat. Teknik tersebut tidak lagi menimbulkan efek wajah yang terlalu kencang (wind tunnel), seperti yang terjadi bertahun-tahun lalu.
Dorongan Psikologis: Mencari “Versi Terbaik”
Dilansir BBC Indonesia (15/10/2025), Emily, seorang pengusaha asal Toronto, Kanada, menjalani facelift pada usia 28 tahun. Tujuannya adalah mendapatkan tampilan snatched: rahang terdefinisi jelas, tulang pipi tinggi, dan mata tajam. Ia menjalani enam operasi dalam satu prosedur di Turki.

Menurutnya, keputusan operasi ini membawa perubahan besar dalam hidupnya. Meskipun pemulihan memakan waktu lama, ia merasa lebih sehat dan berpandangan positif terhadap penampilannya. “Hanya ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Sekarang, tampaknya sudah seperti itu,” ujarnya.
Caroline Stanbury, presenter TV, menunjukkan sikap serupa. Ia menjalani deep plane facelift pada usia 47 tahun. Ia mengeluarkan biaya US$45.000 (sekitar Rp745,6 juta) di Amerika Serikat. Ia menyatakan operasi itu adalah “hal terbaik” yang pernah dilakukan. Operasi itu memberinya 20 tahun lagi kesempatan untuk merasa hebat. Ia tidak harus menunggu hingga putus asa di usia 60-an.

Kemudahan Akses dan Peringatan Ahli Bedah
Kemudahan akses juga menjadi faktor pendukung. Konsultan ahli bedah plastik Simon Lee menjelaskan prosedur pengencangan wajah dan leher. Kini, prosedur ini dapat dilakukan di klinik dengan anestesi lokal dosis rendah. Operasi tidak harus selalu dilakukan di ruang operasi rumah sakit menggunakan anestesi umum.
Namun, Dokter Lee menambahkan facelift paling cocok untuk mereka yang berusia di atas 40 tahun. Dokter sangat jarang merekomendasikan prosedur ini untuk seseorang yang berusia 20-an atau 30-an.

Risiko Komplikasi dan Tekanan Media Sosial
Meskipun teknologi berkembang, operasi facelift tetap merupakan prosedur bedah. Prosedur ini membawa risiko komplikasi serius. Contohnya adalah pembentukan hematoma (penumpukan darah di bawah kulit), infeksi, cedera saraf, dan kebotakan. Biaya prosedur yang memadai berkisar antara £15.000 hingga £45.000 di UK.
Fenomena klinik yang menawarkan prosedur dengan harga miring, seperti £5.000, memicu kekhawatiran. Julia Gilando (34 tahun), yang menjalani operasi di Turki karena biaya terjangkau (£6.000), menggambarkan pemulihannya sebagai rollercoaster emosional. Ia sangat bengkak hingga tidak dapat melihat dan harus mengurus diri sendiri pasca-operasi.
Dr. Kirsty Garbett, seorang ahli citra tubuh, menekankan adanya tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada individu. Tekanan ini muncul karena individu sering melihat diri sendiri dalam panggilan video. Mereka membandingkan penampilan dengan standar palsu. AI, filter, dan normalisasi prosedur kosmetik menciptakan standar palsu tersebut.
Alexis Verpaele, ahli bedah plastik dari Belgia, khawatir dengan meningkatnya jumlah pasien muda. Jika seseorang menjalani facelift di usia 20-an, prosedur itu dapat bertahan 10 hingga 15 tahun. Ada kemungkinan mereka harus menjalani tiga kali facelift saat mencapai usia 60 tahun. Verpaele memperingatkan, wajah menanggung “terlalu banyak trauma” jika prosedur tersebut berulang.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin