DI MANA ada kucing domestik berwarna oranye, biasanya di situ ada pejantan. Kucing oranye ikonik ini memang terkenal vokal, menggemaskan, dan anehnya, mayoritas berjenis kelamin jantan. Mungkin itu akan menjadi arena penangkapan Pokemon berikutnya. Fenomena ini telah membingungkan para ilmuwan selama lebih dari satu abad. Faktanya, sekitar 80 persen kucing rumah berwarna oranye adalah jantan. Di antara semua mamalia yang memiliki warna senja, mengapa hanya kucing domestik yang warna oranyenya terikat erat pada jenis kelamin?
Dilansir ZME Science (19/10/2025), Chris Kaelin, seorang ahli genetika dari Stanford Medicine, kini yakin telah menemukan jawabannya. Dalam sebuah studi yang terbit tahun 2025, Kaelin dan timnya melaporkan bahwa mereka berhasil mengidentifikasi mutasi genetik unik di balik bulu oranye pada kucing. Mutasi ini tidak pernah terlihat pada mamalia lain mana pun.
Gen Oranye yang Terikat Seksual
Kaelin menjelaskan bahwa selama lebih dari seratus tahun, warna bulu oranye pada kucing merupakan pengecualian dari aturan genetik yang menjelaskan pewarnaan pada sebagian besar mamalia. Kucing jantan yang oranye umumnya berwarna seragam. Namun demikian, kucing betina sering memiliki pola tambal sulam oranye dan hitam. Pola ini biasa dikenal sebagai pola tempurung kura-kura atau calico.
Mutasi gen oranye mempengaruhi gen yang terletak pada kromosom X. Mamalia jantan memiliki satu kromosom X sehingga mereka hanya membawa satu salinan gen oranye. Sementara itu, mamalia betina memiliki dua kromosom X dan membawa dua salinan gen tersebut. Agar kucing betina tampil sepenuhnya oranye, ia memerlukan kedua salinan gen oranye aktif. Kondisi ini sangat jarang terjadi. Kebanyakan kucing betina menampilkan mosaik oranye dan hitam yang disebabkan oleh proses genetik yang disebut inaktivasi X acak.
Pada sebagian besar mamalia lain, bulu oranye atau kekuningan muncul dari mutasi pada salah satu dari dua gen pigmen spesifik. Kedua gen tersebut tidak terikat pada jenis kelamin dan muncul pada jantan dan betina. Oleh karena itu, para ilmuwan sudah lama menduga mereka mengejar mutasi yang hanya terjadi pada kromosom X kucing. Namun, lokasi pastinya baru terungkap sekarang.
Mutasi Unik yang Mengaktifkan Gen Nakal
Tim Kaelin menyisir genom kucing oranye untuk menemukan mutasi tersebut. Mereka akhirnya menemukan hal yang mengejutkan: sebuah penghapusan kecil pada kromosom X. Penghapusan kecil ini menyebabkan gen bernama Arhgap36 menyala di dalam sel pigmen.
Gen Arhgap36 ini bukan gen biasa. Para ilmuwan menghubungkan gen ini dengan tumor neuroendokrin tertentu pada manusia. Bahkan, gen ini juga memainkan peran penting dalam pensinyalan sel selama perkembangan. Akan tetapi, gen ini tidak pernah sekali pun terhubung dengan warna bulu pada spesies mana pun.
Pada kucing oranye, aktivasi Arhgap36 yang tidak terduga di sel pigmen mengganggu mesin seluler yang bertanggung jawab memproduksi melanin. Gangguan ini secara efektif memblokir langkah akhir dalam jalur pigmen. Blokade ini mengubah palet bulu dari gelap menjadi oranye cerah. Dengan demikian, mekanisme mutasi ini tergolong sangat tidak biasa. Mutasi ini menyebabkan gen salah mengekspresikan diri pada jenis sel tertentu.
Kepribadian Oranye: Mitos atau Fakta?
Mutasi ini terbukti bukan fenomena baru. Mutasi ini cukup tua. Lukisan abad ke-12 dari Abad Pertengahan bahkan sudah menggambarkan kucing calico sedang bersantai di pinggiran gambar. Hal ini menunjukkan mutasi tersebut muncul pada masa awal sejarah domestikasi kucing dan mungkin berkembang karena campur tangan manusia.
Bulu oranye kucing seringkali datang dengan kepribadian yang besar. Setidaknya itu yang sering dikatakan oleh para pemiliknya. Apakah gen di balik warna bulu mereka melakukan lebih dari sekadar mewarnai? Para peneliti pun sempat menelusuri kemungkinan ini. Mereka memindai jaringan non-kulit (ginjal, jantung, otak, kelenjar adrenal) dan tidak menemukan perbedaan dalam ekspresi Arhgap36 antara kucing oranye dan non-oranye. Namun, Kaelin tidak sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan adanya perbedaan ekspresi gen pada jaringan lain yang mungkin memengaruhi perilaku.
Penemuan ini memberikan contoh nyata bagaimana sifat biologis baru dapat muncul melalui jalur yang tidak terduga: salah ekspresi gen. Kekeliruan molekuler yang memberikan warna pada bulu yang dicintai ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia genetika.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin