By admin
23.10.25

Drama 4 Menit di Louvre: Geng Kriminal Gasak Mahkota Permaisuri Eugénie

Foto: Mahkota Permaisuri Prancis, Eugnie de Montijo, yang dipajang di Galeri Apollon pada 14 Januari 2020 di Museum Louvre, Paris. (AFP/STEPHANE DE SAKUTIN/File Foto)

SUASANA di Museum Louvre mendadak tegang dan ricuh. Puluhan pengunjung terkejut melihat alarm keamanan berbunyi nyaring di jantung galeri bersejarah. Sekelompok pencuri bergerak sangat cepat. Mereka melancarkan aksi kurang dari empat menit. Aksi itu mengguncang dunia karena delapan perhiasan bersejarah berhasil mereka bawa kabur dari Apollo’s Gallery di Paris.

Aksi pencurian ini memiliki kemiripan dengan skenario film Hollywood. Keberhasilan mereka memicu spekulasi besar. Perhiasan yang dicuri meliputi tiara dan kalung zamrud milik istri Kaisar Napoleon I dan Napoleon III. Sekitar 60 penyidik kini tengah menangani kasus tersebut. Jaksa menduga para perampok itu bekerja atas perintah sebuah organisasi kriminal terorganisir.

Melansir Aljazeera, koleksi museum lainnya yang dicuri meliputi:

  • Mahkota dari set perhiasan Ratu Marie-Amelie dan Ratu Hortense
  • Kalung dari set perhiasan safir milik Ratu Marie-Amelie dan Ratu Hortense
  • Satu anting dari set perhiasan safir
  • Kalung zamrud dari set Marie-Louise
  • Sepasang anting zamrud dari set Marie-Louise
  • Bros yang dikenal sebagai dengan sebutan “reliquary”
  • Mahkota Permaisuri Eugénie
  • Bros besar lainnya dari Permaisuri Eugénie

Foto: Kalung dan anting-anting dari rangkaian perhiasan Permaisuri Marie-Louise yang dipajang di Galeri Apollon pada 14 Januari 2020 di Museum Louvre di Paris. (AFP/STEPHANE DE SAKUTIN)

Motif Pencurian: Jaminan Narkoba atau Kolektor Misterius

Dilansir CNBC (20/10/2025), Kementerian Kebudayaan Prancis menyatakan perhiasan yang dicuri memiliki nilai tak terhitung. Perhiasan itu bukan sekadar permata mahal, melainkan warisan sejarah kekaisaran Prancis. Namun demikian, para ahli menilai, jika hanya melihat bahan dan batu permatanya, nilainya bisa mencapai ratusan miliar rupiah di pasar internasional.

Profesor sejarah seni di Universitas Sydney, Donna Brett, menjelaskan beberapa kemungkinan alasan di balik aksi pencurian ini. Menurut Brett, pencurian itu bisa jadi merupakan aksi yang disengaja. Pencurian ini terjadi karena permintaan seseorang yang memang menginginkan perhiasan itu. Di samping itu, “Dalam skenario seperti ini, pelaku juga bisa memanfaatkan barang curian sebagai jaminan untuk transaksi narkoba dan berbagai tujuan internasional lainnya,” kata Dr. Brett, mengutip ABC News.

Margo van Felius, dosen ahli bidang kejahatan terorganisir internasional di Griffith University, mendukung pandangan tersebut. Ia mengatakan kolektor misterius kemungkinan besar meminta atau memerintahkan pencurian perhiasan-perhiasan itu. “Mungkin saja bukan hanya satu yang menjadi sasaran, tetapi mereka juga mengambil beberapa perhiasan lainnya,” kata Dr. van Felius.

Perhiasan Tak Ternilai dan Tantangan Pelacakan

Salah satu benda paling berharga yang dicuri dari Louvre adalah mahkota Permaisuri Eugénie. Mahkota itu berhiaskan 1.354 berlian dan 56 zamrud. Faktanya, pelaku menjatuhkan mahkota tersebut saat melarikan diri. Polisi menemukan mahkota itu tergeletak di luar dinding museum.

Anthony Amore, pakar pencurian karya seni dan penulis buku Stealing Rembrandts, menekankan perhiasan tersebut tak ternilai. Nilainya bukan hanya karena berlian atau zamrudnya. Nilainya juga karena nilai budaya dan sejarah yang melekat. Amore menjelaskan, jika permata dilepaskan dari set aslinya, kemungkinan besar para pelaku akan menjualnya terpisah di pasar gelap. Oleh karena itu, upaya pelacakan perhiasan menjadi semakin sulit.

Peristiwa ini menjadi pengingat nyata bahwa warisan sejarah suatu bangsa masih menghadapi ancaman besar dari kejahatan terorganisir yang canggih. Kita harus meningkatkan keamanan objek budaya. Selain itu, kolaborasi internasional harus diperkuat untuk melindungi peninggalan bernilai tak terhingga ini.(*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending