By admin
21.10.25

Bukan Tawon Gung, Pakar IPB Jelaskan Bahaya Sengatan Lebah Hutan Besar

SUARA desing serangga kecil seringkali tidak kita anggap. Namun, serbuan kawanan mereka bisa berubah menjadi ancaman maut. Kasus tewasnya seorang warga akibat sengatan serangga memicu kewaspadaan publik terhadap bahaya di sekitar kita.

Baru-baru ini, kasus tewasnya seorang nenek di Bantul, Yogyakarta akibat sengatan kawanan serangga memicu perhatian publik. Peristiwa ini menimbulkan spekulasi soal jenis serangga penyebabnya, yaitu tawon gung. Namun demikian, Dilansir dari CNBC (16/10/2025), Pakar serangga dari IPB University, Prof Tri Atmowidi, menegaskan kasus tersebut kemungkinan besar bukan disebabkan oleh tawon gung. Prof Tri menduga sengatan berasal dari lebah hutan besar (Apis dorsata).

Masyarakat sering menyebut tawon gung untuk merujuk pada spesies Vespa affinis atau Vespa velutina. Keduanya memang dikenal agresif dan berbahaya. Namun, Prof Tri menduga sengatan di Bantul berasal dari lebah hutan besar. Lebah ini biasanya bersarang di pohon tinggi dan hanya memiliki satu sisiran besar.

Foto: Tawon Endas (Vespa affinis)

Sengatan Maut dari Lebah Hutan Besar

Prof Tri menjelaskan bahwa dari bentuk sarangnya, serangga di Bantul tampak bukan tawon. Sarangnya terlihat seperti lebah besar yang menggantung di batang pohon tinggi. Lebah hutan besar ini berukuran sekitar 17–20 milimeter. Warnanya coklat dengan belang kekuningan. Spesies ini bersifat sangat defensif. Lebah hutan besar tidak bisa dibudidayakan karena sering bermigrasi.

Dalam kasus Bantul, korban kemungkinan disengat oleh puluhan lebah Apis dorsata. Prof Tri menjelaskan satu lebah memang hanya bisa menyengat sekali. Namun, jika jumlah sengatan banyak, racun yang masuk dapat menyebabkan efek toksik serius hingga kematian.

Foto: Lebah Apis dorsata (Wikipedia)

Perbedaan Bahaya Racun Tawon dan Lebah

Prof Tri menjelaskan tawon umumnya bisa menyengat berkali-kali tanpa kehilangan sengatnya. Sementara itu, lebah hanya bisa menyengat sekali karena sengatnya tertinggal di kulit korban. Meskipun racun tawon dikenal lebih kuat, racun lebah (apitoksin) juga bisa berbahaya. Bahaya ini terjadi jika jumlah sengatan banyak.

Baik tawon maupun lebah bisa memicu reaksi alergi berat dan bahkan kematian. Hal ini terjadi terutama pada individu yang sensitif terhadap racun. Racun lebah mengandung senyawa aktif seperti protein, peptida, dan histamin. Senyawa ini bisa menimbulkan gejala lokal seperti nyeri, bengkak, dan gatal. Reaksi sistemik juga bisa terjadi. Contohnya adalah sesak napas dan pingsan. Dalam kasus berat, racun dalam jumlah besar dapat merusak organ vital seperti hati dan ginjal.

Prof Tri mengingatkan, hal terpenting setelah disengat adalah segera menjauh dari lokasi sarang. Tujuannya agar tidak diserang lagi. Jika yang menyengat adalah lebah, segera keluarkan sengat yang menempel di kulit. Setelah itu, cuci dengan air sabun. Lalu, kompres area sengatan dengan air dingin. Korban perlu segera minum antihistamin untuk meredakan reaksi alergi. Jika korban sesak atau pingsan, segera bawa ke rumah sakit.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk tidak mencoba mengusir tawon atau lebah sendiri. Bila menemukan sarang di sekitar rumah, segera laporkan ke petugas pemadam kebakaran atau ahli serangga. Jangan berteriak atau bergerak mendadak di dekat sarang. Hal ini bisa memicu serangan. Lebih baik beri tanda bahaya dan menjauh dengan tenang. Tindakan pencegahan dan penanganan cepat adalah kunci utama menghadapi ancaman sengatan serangga ini. (*)


Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin

Trending