JANJI setia di masa muda diuji waktu. Ironisnya, perpisahan justru terjadi saat usia memasuki senja.
Fenomena ini disebut grey divorce. Psikolog Klinis Fitri Jayanthi menjelaskan, perceraian terjadi pada pasangan usia di atas 50 tahun. Dilansir Kompas (10/10/2025), Psikolog Diandra Ayu menambahkan, ini umumnya berlaku untuk pernikahan 20 tahun atau lebih. Pasangan sering menunda konflik, akhirnya menjadi bom waktu.
Konflik Menumpuk dan Ekspektasi Berubah
Stres atau konflik berkepanjangan menjadi penyebab utama. Pasangan sering menahan konflik, karena merasa “sudahlah, jalani saja.” Padahal, konflik terus menumpuk hingga akhirnya meledak.
Selain itu, perubahan ekspektasi juga menjadi masalah. Harapan awal pernikahan bisa jadi belum terwujud sepenuhnya. Bahkan, pensiun memicu krisis identitas diri.
Hilangnya Peran Orang Tua dan Identitas Diri
Masalah identitas diri berkaitan dengan anak dewasa. Anak mulai pisah rumah karena bekerja atau menikah. Fitri menjelaskan, fokus pernikahan berubah dari suami-istri menjadi ayah-ibu. Akibatnya, saat anak pergi, peran suami-istri tidak lagi dipahami. Mereka merasa asing satu sama lain.
Ketidaksiapan Hadapi Pensiun dan Aktivitas Pasca-Kerja
Rencana pensiun sering menjadi penyebab perceraian lanjut usia. Pasangan tidak memiliki rencana spesifik setelah pensiun. Mereka sering mengalami kepanikan finansial. Uang tabungan dirasa tidak mencukupi kebutuhan.
Berkaitan dengan pensiun, konflik timbul saat pasangan tidak punya kegiatan. Istri meminta suami kembali bekerja atau membuka usaha. Namun, suami sering merasa sudah bekerja seumur hidup. Mereka memilih untuk santai saja.
Fitri menambahkan, pasangan merasa siap bercerai. Anak-anak tidak lagi bergantung kepada mereka. Mereka merasa sudah waktunya memperoleh “kebebasan” dan mandiri. Kondisi ini menunjukkan pasangan tidak menginvestasikan waktu untuk hubungan mereka sendiri. Fokus mereka hanya pada peran orang tua.
Grey divorce mengajak kita merenungkan investasi hubungan. Pernikahan bukan hanya tentang membesarkan anak. Pasangan harus terus memprioritaskan komunikasi intim dan rencana masa depan. Sebab, usia senja seharusnya menjadi waktu menikmati kebersamaan.(*)
Penulis: Dwi Lena Irawati
Editor: Amin